Kamis, 26 Januari 2012

Pengantin Abadi

Pengantin Abadi
By : Vievie Dwi

Widi menatap dirinya di cermin. Kamar yang biasa di tempatinya telah berubah. Tempat tidurnya berhias bunga-bunga segar. Harum semerbak memenuhi kamarnya. Hari ini hari terakhir Widi melajang. Besok dia akan menghadapi hari terpenting dalam hidupnya. Menikah dengan kekasih yang sudah satu tahun ini bersamanya, Yoga Pratama. Seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di kotanya.
Entah mengapa Widi merasa galau. Tiba-tiba saja hatinya menjadi ragu. Mungkin ini yang dinamakan sindrom pre-wedding, sindrom kegalauan sebelum menikah. Padahal waktu Yoga melamarnya tiga bulan yang lalu, Widi tampak senang.

Di tengah kegalauannya, hpnya berbunyi. Cling…cling…. Sebuah sms masuk.

From : Deka
Wid, bisa ktm?

To: Deka
Gi dpingit. Da pa?

Cling… cling…
From: Deka
Aq mo ngmong pnting!

To:Deka
Apa? Tlpn aja

Cling… cling…
From: Deka
Ga bisa. qu tggu dtaman bysanya mlm ini.tuk tkhir

Widi enggan membalasnya lagi. Dia masih bingung dengan sms terakhir Deka. Ada apa dengan Deka? Kenapa tiba-tiba jadi seperti itu? batin Widi.

# # # # # #

“Ma, boleh gak Widi keluar rumah bentar aja?” pinta Widi kepada mamanya yang tengah sibuk mengurusi dapur bersama ibu-ibu tetangganya.

“Mau ngapain? Besok kan kamu nikah”, jawab Mama Widi.

“Bentar aja Ma, ada urusan penting yang mesti Widi kerjain”, ujar Widi member penjelasan pada mamanya.

“Di urus nanti aja habis nikah kan bisa”. Mamanya tampak cuek.

“Gak bisa Ma, mesti hari ini diselesaikan, plis! Cuma ke taman kompleks Ma”. Widi memohon dengan wajah memelas.

“Hum ya udah, tapi bentar aja. Jangan larut pulangnya”. Akhirnya mama Widi mengizinkannya keluar.

# # # # # #

Widi tiba di taman yang tak jauh dari rumahnya. Jam yang ia kenakan menunjukkan pukul 7 malam. Taman itu sepi, tak seperti ketika siang hari penuh dengan anak-anak yang bermain. Widi berjalan berkeliling taman, mencari sosok yang ia kenal. Lalu matanya menangkap seorang laki-laki tengah duduk di sebuah bangku. Deka, batin Widi.
Widi menghampiri Deka, sahabatnya sejak SMP.

“Da pa sih Ka?” tanya Widi to the point.

Deka berdiri dan tersenyum pada Widi.

“Ih aneh deh senyum-senyum sendiri. Kesambet yah?” ujar Widi heran melihat sahabatnya.

Tiba-tiba sebuah pelukan hangat dari Deka mendarat di tubuh Widi.

“Ada apa sih? Lepasin aku”. Widi sedikit berontak melihat sikap Deka yang tiba-tiba tak biasa. Tapi Deka tak bergeming, tetap memeluk Widi.

10 menit berlalu dalam keheningan. Akhirnya Deka melepas pelukannya. Dia menatap Widi lekat. Sorot matanya begitu teduh meski tak jelas Widi melihatnya karena malam.

“Wid, aku sayang sama kamu”, kata Deka akhirnya.

“Iya, aku juga”, jawab Widi pelan.

“Bukan, bukan sayang seperti itu”

“………” Widi diam menunggu Deka meneruskan ucapannya.

Deka menekatkan wajahnya, lalu mengecup kening Widi. Perbuatan itu membuat Widi menjadi mengerti maksud ucapan Deka. Tes.. tes.. butir-butir air mata meleleh dari mata Widi.

“Kok malah nangis?” tanya Deka.

“Kenapa baru bilang sekarang. Deka jahat”, ujar Widi sambil memukul-mukul dada Deka.

Deka malah balas memeluknya.

“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu ragu dengan mengatakan ini. Aku baru menyadarinya beberapa bulan yang lalu saat Yoga melamarmu. Entah kenapa rasanya sakit banget. Tapi aku gak mau menghancurkan kebahagiaanmu. Jadi, aku diam dan memendam ini semua”, jelas Deka.

“Lalu kenapa Deka ngomong itu sekarang?”

“Aku hanya ingin kamu tau, Wid. Sebelum kamu jadi milik Yoga seutuhnya. Tuk yang terakhir kali, aku ingin kamu tau bahwa aku selamanya akan menyayangi kamu dan mencintaimu”.

Deka melepas pelukannya. Widi masih terisak, menangis. Sudah cukup lama Widi memendam perasaannya terhadap Deka. Tapi sekarang setelah Deka mengatakan itu semua, Widi tak mampu menggenggam cintanya karena ada Yoga, calon suaminya.

Perlahan Deka menghabus butir airmata Widi. “Maafin aku Wid”

“Kamu tau Ka, ……… aaah sudahlah. Hanya itu yang ingin kamu katakan”, kata Widi datar.

“Iya”

Lalu Widi membalikkan badannya dan berjalan pulang, menjauhi Deka yang hanya terdiam memandang kepergian Widi. Sepanjang jalan Widi terus menangis. Dia berjalan tanpa arah. Rasa sakit menyelimuti hatinya. Sampai-sampai Widi tak menyadari kakinya melangkah pada jalan yang salah.

Braaaaaaakkkkk.

Tubuh Widi terhempas, melayang lalu jatuh membentur jalanan dengan cukup keras. Cairan merah keluar dari kepalanya dengan cukup deras.

# # # # # #

The day….

Rumah Widi tampak ramai sama seperti kemarin. Hiasan bunga dan beberap ornament pernikahan masih terlihat. Orang-orang berkumpul di ruang tamu. Tak terlihat kebahagianan di wajah mereka. Beberapa orang terisak menangis.
Beberapa yang lain diam terpaku. Di tengah ruangan tampak seorang laki-laki tampan memakai jas berwarna putih. Di sampingnya seorang gadis terlihat tampak cantik mengenakan baju pengantin berwarna putih. Wajahnya di make-up sedemikian rupa. Meski begitu, wajahnya masih terlihat pucat. Matanya terpejam. Seorang wanita paru baya menjaga tubuh gadis itu agar dapat terduduk dengan tegap.

Beberapa menit sang pengantin laki-laki mengucap janji setia di depan penghulu yang duduk di depannya. Ada butir air mata yang turun di pipinya. Entah karena bahagia atau terharu. Setelah kata syah terdengar dari mulut penghulu, pengantin laki-laki memengecup kening mempelai perempuannya dengan lembut. Lalu meraih tubuhnya untuk dapat ia peluk. Tak ada kehangatan yang laki-laki itu dapat. Hanya kebekuan dari mempelainya. Tubuhnya terasa dingin dan kaku.

“Aku akan selalu mencintaimu Wid, dan sekarang kau milikku. Kau bukan cuma sahabatku sekarang tapi istriku juga”, bisik laki-laki itu.

Orang-orang yang melihatnya makin menangis tersedu-sedu.

The-End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar