Part 3 _ Ketidaksukaan Kenji
Ruka merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau bukit belakang sekolah. Sepoi angin membelai kulitnya dengan lembut. Matanya terpejam. Nyaman. Ruka memang suka sekali berada di bukit belakang sekolahnya. Sepi. Dia biasa menyendiri di tempat itu.
Wuss. Angin kencang menerpa tubuh Ruka. Sreek. Sreek. Suara daun-daun bergesek terdengar. Ruka membuka matanya. Bangkit dari tidurnya dan terduduk di atas rumput. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepi. Hanya ada Ruka di sana. Mungkin hanya suara binatang kecil, pikir Ruka.
“Gadis bodoh sedang apa kau di sini?” suara bass seorang lelaki terdengar. Ruka mengedarkan pandangannya sampai dia menangkap bayangan manusia duduk di atas ranting pohon tak jauh dari tempatnya.
“Kau?” Laki-laki itu lagi. Sejak kapan dia ada di situ, batin Ruka.
Lelaki itu tersenyum sinis. Dia melompat dengan cepat. Hup. Dengan anggun kakinya mencapai tanah. Beberapa helai rambut panjang keemasannya melayang terhempas angin. Ruka hampir terpesona melihat cara lelaki itu turun. Ruka mengerjapkan matanya beberapa kali. Aku tidak boleh terpesona. Sadarlah Ruka! Ruka berusaha menyadarkan dirinya.
Lelaki itu berjalan mendekatinya. Sial, langkahnya pun terlihat anggup. Kenapa orang seperti dia itu menyebalkan, runtuk Ruka. “Apa yang kau lakukan di sini gadis bodoh?” lelaki itu bertanya lagi.
“Berhenti memanggilku gadis bodoh! Aku bukan gadis bodoh!” bentak Ruka. Amarah terpancar dari air mukanya.
Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di atas rerumputan hijau. Tepat di samping Ruka. “Hmm nyaman juga di sini.” Lelaki itu memejamkan matanya. Tak menghiraukan ucapan Ruka. Ruka mengerucutkan mulutnya.
“Pemuda menyebalkan!” gumam Ruka.
Wuss. Angin kencang lagi-lagi berhembus. Seperti ada yang melintas dengan cepat di depan Ruka. Sreek. Terdengar suara daun bergesekan. “Hey, jangan bersantai di sini Ichiru,” suara merdu seorang lelaki menggema. Dengan cepat Ruka menoleh ke sumber suara. Pada pohon sakura satu meter dari tempat Ruka, seorang lelaki berambut merah menatap gusar. Matanya sungguh tajam. Siapa lagi ini? pikir Ruka. Dia anak baru di kelasku tadi. Rupanya teman pemuda menyebalkan itu.
“ICHIRU!” teriak lelaki berambut merah itu. “Kau lupa dengan tugas kita? Jangan bersantai-santai seperti itu.”
“Kau berisik sekali, Kenji,” ujar lelaki bernama Ichiru. Dia masih memejamkan matanya.
Kenji melompat dengan kasar. Sayap hitamnya tak terlihat. Dum. Dentaman kakinya yang menginjak tanah terdengar kencang. Kenji berjalan cepat. Tangannya dengan kasar menggapai kerah baju Ichiru. “Kau membuat darahku naik!”
Ichiru membuka mata dan tersenyum mengejek. “Memang kau punya darah, Hah?”
Ruka yang melihat adegan itu hanya mampu mengerutkan keningnya. Apa yang mereka lakukan? Mereka mengganggu tidur siangku. Huh. Ruka mendengus kesal. Dia berdiri. Beranjak meninggalkan Ichiru dan Kenji.
Bugh. Pukulan keras mendarat di wajah Ichiru. Tubuhnya terlempar beberapa meter. Badannya mendarat kasar di tanah. Membuat tanah berserakkan di sekitar badan Ichiru. Ichiru mengusap darah segar di sudut bibirnya. Dia berdiri sambil tersenyum tipis. Kenji melesat kearah Ichiru. Kepalan tangan kanannya melayang lagi. Namun, kali ini Ichiru berhasil menahannya. Kenji memfokuskan kekuatannya di tangan kirinya yang masih bebas. Secercah cahaya merah keluar dari tangan kirinya. Cahaya itu memanjang membentuk sebilah pedang. Dengan gesit Ichiru melompat mundur. Menjauhkan tubuhnya dari Kenji. Ichiru seperti tak mau kalah. Tangan kanannya memancarkan cahaya hitam pekat panjang. Membentuk sebilah pedang hitam. Sama seperti Kenji. Krek cess. Krek cess. Kilatan-kilatan cahaya kecil memercik di sekeliling pedang cahaya mereka.
“DUEL!” teriak Kenji keras seraya melesat maju kearah Ichiru. Seperti peluru yang ditembakkan. Begitu cepat. Prang. Cezz. Pedang cahaya mereka saling beradu. Tak ada yang mengalah. Tiba-tiba sebuah bola energi berwarna merah melesar kearah mereka. Duaarr. Bola energi itu membentur tanah. Membuat lubang besar di tempat itu. Asap mengepul seketika. Bayangan Kenji dan Ichiru tak terlihat.
“SIAL! Onisan, jangan ikut campur!” teriak Kenji. Kepalanya mendongak ke atas. Menatap seorang pria yang tengah melayang di langit. Tepat diatasnya. Sayap putih yang melekat pada punggung pria itu terkembang. Senyum manis terlukis pada wajah pria itu. Sedangkan, air muka Kenji masih terlihat gusar. Kenji berada beberapa meter dari lubang besar bekas ledakan tadi.
“Kau harus berhati-hati menggunakan kekuatanmu, Kenji,” ujar pria itu memperingatkan. Perlahan pria itu turun. Menginjak tanah. Berhadapan dengan Kenji. Di sisi lain, Ichiru terlihat membenarkan dirinya yang terlempar jauh akibat ledakan tadi. Mencoba berdiri tegak. Pria itu menoleh kearah Ichiru. Tersenyum sinis. “Kau payah Ichiru!” Ichiru membuang muka.
“Onisan jangan menghalangiku!” bentak Kenji.
Pria yang dipanggilnya Onisan itu menatapnya dalam-dalam. “Apa kau tidak bisa meredam emosimu?”
“Meredamnya? Aku muak bersikap seperti itu. Karena dia, aku harus terjebak di sini selama satu tahun terakhir ini.” Tangan Kenji menunjuk Ichiru. “Dan tadi aku hampir kewalahan menghadapi shinigami. Jadi, biarkan aku memberinya pelajaran!” sengitnya.
“Tugas kita masih banyak. Bersabarlah. Setelah kita menemukan Kristal kehidupan yang paling murni secara lengkap, kita pasti bisa kembali ke Reijima. Jadi, berusahalah lebih keras lagi,” Onisan-nya bersaran. Dengan tenang dia mencoba meredamkan emosi Kenji yang selalu meluap-luap.
Sssttt. Pedang cahaya di tangan Kenji lenyap. Tersedot dalam tangannya. Amarahnya mereda. Onisan-nya tersenyum mempesona. “Mikami-sama sebaiknya mengajari Ichiru agar dia tidak menyebalkan lagi!” saran Kenji. Sayap hitamnya mengembang. Bergerak-gerak. Membuat tubuhnya melayang. Kenji terbang. Menjauhi tempat pertengkarannya.
Sepeninggalan Kenji, Mikami membalikkan badan. Memandang Ichiru. Kedua tangan dilipat di depan dada. Sayap putih menelungkup di punggungnya. Ichiru menepuk-nepuk baju depannya. Menyingkirkan debu yang mengotorinya. “Kau payah sekali. Jangan sampai peristiwa satu tahun yang lalu itu terulang lagi. Apa kau mau membuat kesalahan yang sama?” ujar Mikami.
“Kali ini, aku tak akan membuat kesalahan. Jadi, biarkan aku melakukan semuanya sesukaku!” sahut Ichiru. Mata emasnya menatap lekat makhluk bersayap putih di depannya. Penuh keyakinan.
“Baiklah. Tapi kau harus ingat apa tugasmu di sini.” Buk. Buk. Buk. Sayap putih Mikami mengepak kencang. Menghembuskan angin yang menerpa dedaunan dan rerumputan di sekitarnya. Tubuh Mikami melayang ke atas. “Jangan menyia-nyiakan kesempatanmu lagi,” ujarnya lagi. Ichiru hanya mengangguk. Mikami pun terbang cepat meninggalkan Ichiru.
@@-@-@@
Ruka berjalan lemah. Tak bersemangat. Pikirannya terus saja memikirkan anak baru yang mengganggu acara tidur siangnya di bukit belakang sekolah. Lelaki itu selalu muncul didekatnya akhir-akhir ini. Aneh. Menurutnya.
“AMANE!” teriakan keras menggemakan nama Ruka. Dia menoleh ke sumber suara. Di tengah lapangan dekat sekolahnya, seorang laki-laki melambai-lambaikan tangannya. Ruka tercekat. “Kataoka,” gumam Ruka menyebut nama pemuda yang memanggilnya.
Izaki Kataoka, nama lengkap pemuda itu. Teman sekolah Ruka sejak masih di bangku SMP. Pemuda tampan yang jago sepak bola. Selama di SMP dulu, Ruka sekelas dengannya. Tapi sayang saat SMA, Izaki selalu masuk di kelas unggulan. Berbeda dengan Ruka. Rambut hitam jigraknya bergerak-gerak saat dia berlari menghampiri Ruka.
“Hhhh, Belum pulang dari tadi?” tanya Izaki saat didekat Ruka. Napasnya masih terengah-engah. Membungkuk. Memegang kedua lututnya.
Ruka menggeleng cepat. “Kataoka sedang latihan ya?” kata Ruka pelan. Dia merogoh isi tas sekolahnya. Sebuah sapu tangan putih keluar dari dalam tasnya. Ruka menyodorkan sapu tangan itu pada Izaki.
“Arigato,” ucap Izaki setelah menerima sapu tangan Ruka. Dia menyeka keringat di wajahnya dengan sapu tangan itu. “Ayo, Amane ikut lihat!” ajak Izaki. Tangan kanannya meraih tangan kiri Ruka. Membimbing gadis itu menuju pinggir lapangan sepak bola. Ruka diam saja. “Tunggu di sini. Aku akan mencetak satu gol untukmu!” janji Izaki. Ruka tersenyum tipis untuknya. Pemuda itu langsung kembali ke tengah lapangan. Permainannya kembali dimulai.
Izaki menendang bola pertama kali. Mengopernya kepada teman di sebelah kanannya. Seseorang menghadang. Bola itu kembali ke kaki Izaki. Dia menggiringnya sampai di daerah penalti. Dua orang lawannya mencoba menghalangi. Dengan lincah, Izaki mengecoh lawannya. Bergerak cepat. Dia berhasil melewati satu lawan. Bola dioperkan ke belakang untuk menghindari lawan yang masih menghadangnya. Sedangkan, Izaki terus berlari ke sisi kiri dekat gawang. Tak ada yang menjaganya. Melihat kesempatan emas, Izaki melirik temannya yang membawa bola. Memberi isyarat melalui kedipan mata. Lalu bola kembali padanya. Ditendangnya kuat-kuat bola itu. Bolanya meluncur berbelok. Kipper tak mampu menangkapnya dan masuk gol. Izaki histeris. Berteriak. Berlari menghampiri salah satu kawannya. Plok. Keduanya saling tos. Merayakan kesuksesan mereka.
Ruka tersenyum puas. Turut senang atas keberhasilan Izaki, kawan lamanya itu. Izaki menghampirinya. Dengan tersenyum lebar. “Kau semakin hebat saja,” puji Ruka. Senyum yang terkembang di bibir Izaki semakin lebar. “Tentu saja. Izaki Kataoka,” ujarnya membanggakan diri. “Aku senang bisa menghiburmu lewat permainanku,” sambung Izaki. Ruka terdiam. Dia mengerti apa maksud kata-kata Izaki itu.
Ruka adalah gadis yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal satu tahun yang lalu akibat kecelakaan mobil. Tepat di ulang tahun Ruka. Saat itu, Ruka bersama mereka. Hanya dia yang selamat. Sejak itu Ruka tak lagi menjadi gadis yang ceria. Dia sering murung dan menjadi pendiam. Setelah kepergian orang tuanya, Ruka tinggal bersama ojiisan-nya (kakek). Satu-satunya keluarga yang masih tersisa. Rumah ojiisan-nya bersebelahan dengan rumah Izaki. Mereka pun menjadi semakin akrab. Izakil-lah yang selama ini selalu menghibur Ruka. Memberinya semangat.
“Ruka, ayo pulang sama-sama!” ajak Izaki. Semua perlengkapan sebak bolanya telah rapi ia masukkan dalam tas besarnya. Dia menenteng tas besarnya itu. tangan kanannya meraih tangan kiri Ruka. Membimbing gadis berambut sebahu itu berjalan bersama. Ruka hanya diam. Mengikuti Izaki.
@-@@-@
Kenji’s PoV
Hari yang menyebalkan. Kekuatanku terkuras banyak hari ini. Bukan hanya karena shinigami yang mengganggu pekerjaanku, tapi karena amarahku yang meluap. Masih sulit bagiku mengendalikan amarah. Keluhku dalam hati.
Aku memilih berbaring di atas atap gedung rumah sakit. Sepi. Cocok untuk menenangkan diri. Kutatap langit malam. Gelap. Kuhitung bintang yang menghiasinya. Bintang-bintang yang membentuk rasinya. Di sisi lain angin berhembus pelan. Sejuk. Aku suka angin malam. Lebih baik aku berada disini. Daripada aku pulang dan bertemu dengan Ichiru lagi. Dia selalu membuat emosiku naik. Kalau mengingatnya. Jadi, teringat peristiwa satu tahun yang lalu. Peristiwa yang membuat aku diusir dari tengoku.
Kenji terbang. Turun ke dunia manusia. Ia mendapat tugas mencabut nyawa seseorang. Dia turun perlahan ke sebuah rumah sakit. Kamar 303. Seorang gadis dengan alat bantu pernapasan menutupi sebagian wajahnya. Alat pendeteksi jantung terus berdetak. Di tangannya terpasang selang infuse. Kenji mendekati gadis itu. Sayap hitamnya terkembang. Di pinggangnya melekat pedang zanpakutou miliknya. Pedang berwarna merah. Kenji bersiap memegang pedang itu. Melepaskan dari sarungnya. Sreeet. Bunyi gesekan mata pedang dan sarungnya terdengar. Kenji mengayunkan ke atas. Lalu turun menuju dada gadis itu.
“TUNGGU!” teriakan seorang lelaki membuat Kenji berhenti mengayunkan pedangnya. Menoleh kearah suara. Dia tahu sang pemilik suara itu bukanlah manusia. “Jangan lakukan itu!” cegah sang pemilik suara.
“Ini sudah waktunya. Waktu untuk mati. Kau tak bisa mencegahku, Ichiru,” ujar Kenji. Matanya menatap tajam lelaki di depannya. Lelaki berambut keemasan itu Ichiru. Teman Kenji, sesama malaikat bersayap hitam.
“Tunggu sampai dia sadar,” pinta Ichiru. Gurat wajahnya memelas.
“Kau tahu itu tidak mungkin! Jangan mencegahku lagi!” suara Kenji mulai meninggi. Dia kembali mengayunkan pedangnya. Prang. Pedangnya tertahan oleh pedang hitam Ichiru. “Apa kau sudah gila, Ichiru?” bentak Kenji.
“Maaf, aku hanya meminta harinya diperpanjang satu hari saja. Besok biar aku yang melakukannya,” tawar Ichiru. Matanya dan mata Kenji saling beradu.
“Tidak bisa!” tolak Kenji. Kakinya melompat dengan anggun mundur ke belakang. Menjauhkan diri dari Ichiru. “Kau tahu apa akibatnya? Kita tidak bisa mengubah ketentuan-Nya untuk hal kematian.”
“Tapi….” Ichiru menunduk lemah. Bimbang. Bingung. Dia tak ingin kehilangan gadis itu. Tapi, dia juga tidak bisa melanggar peraturan. Pilihan yang sulit.
“Dari awal aku sudah memperingatkanmu. Kau tak boleh jatuh cinta pada manusia. Inilah akibatnya,” kata Kenji. Dia berjalan pelan. Mendekati tubuh gadis itu.
“Jika begitu aku terpaksa akan melawanmu!” ancam Ichiru. Dia menyiagakan tangannya. Memasang pedang hitamnya di depan dada. Bersiap menyerang.
Kenji mendengus kesal. Ini yang tidak disukainya. Jika harus bertarung melawan rekannya sendiri. tapi, apa boleh buat. Tak ada pilihan lain. Mereka berdua melesat cepat keluar dari ruangan itu. Di atas langit mereka saling beradu pedang. Menyerang dan bertahan. Ichiru bergerak lebih gesit daripada Kenji. Dia lebih unggul dalam hal kecepatan. Beberapa serangan cepatnya membuat Kenji kewalahan. Bahkan bagian perut Kenji sempat terkena sabetan pedangnya. Untungnya Kenji masih sempat menghindar. Lukanya tak terlalu dalam. Lengah sedikit saja dia pasti celaka.
“Menyerah saja kau. Aku lebih unggul daripada kamu!” ujar Ichiru memperingatkan. Kenji terengah-engah dua meter dari hadapan Ichiru. Kekuatannya memang tak sebanding dengan Ichiru. Kenji berada dua tingkat di bawah Ichiru. Cukup sulit baginya menyeimbangi serangan Ichiru.
“Tak bisa! Aku harus mampu bertanggung jawab terhadap pekerjaanku,” sanggah Kenji. Di tangan kirinya sebuah bola cahaya merah muncul. Dari kecil menjadi besar secara perlahan. Kenji mengonsentrasikan sisa kekuatannya membentuk bola api. Lalu diacungkan ke depan tangan kirinya itu. bola api itu melesat cepat seperti peluru kearah Ichiru. Dengan pedang hitamnya, Ichiru menahan laju bola api itu. diayunkannya pedang miliknya ke atas. Menghempaskan bola api tinggi-tinggi ke atas. Duaarr. Bola api itu meledak tepat diatas mereka. memercikkan api-api kecil. Ichiru tersenyum mengejek. Merasa diatas angin. Craaz. Tebasan singkat mendarat di perut Kenji. Begitu cepat. Darah mengucur. Bugh. Belum sempat menghindar, lagi-lagi Kenji mendapat serangan dari Ichiru. Pukulan keras mendarat di punggungnya. Membuat tubuh malaikat berambut merah itu jatuh ke bawah. Dam. Tubuhnya mencapai tanah. Lemah. Kenji tak mampu terbang menyelamatkan diri agar tak terjatuh. Tubuh Kenji terbaring di tanah. Darah masih mengucur dari perutnya. Kenji diam. Tak bisa bergerak. Kekuatannya sudah habis. Ichiru turun perlahan mendekati Kenji.
“Sudah kubilang. Kau bukan tandinganku. Maafkan aku,” ujar Ichiru pelan.
“Bunuh aku!” perintah Kenji lemah. “CEPAT BUNUH AKU!” Kenji berteriak keras. Namun, tak dihiraukan oleh Ichiru. Dia malah berlalu meninggalkan Kenji membusuk dengan kekalahannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar