Part 2 _ Membaur
“APA?” Mata Kenji melotot kaget. “Kita harus hidup seperti manusia? Aku tidak mau. Itu merepotkan Onisan!” keluh Kenji.
Seorang pemuda berkaca mata berjalan santai mendekati Kenji. Tangannya menepuk bahu Kenji. “Cobalah hidup seperti manusia. Ketua sudah memberikan izinnya supaya kita dapat hidup seperti manusia. Tidak ada salahnya kan? Daripada kita seperti ini saja, membosankan!” jelasnya. “Bersemangatlah Kenji!”
“Aaarrrgghh!” Kenji menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia tampak gusar dengan perintah dari pemuda berkaca mata yang dipanggilnya onisan. Sementara itu, Ichiru berdiri di dekat jendela ruang tamu. Dia lebih suka mengamati keadaan di luar rumahnya. Daun-daun pohon maple dan sakura berguguran. Musim gugur telah tiba.
“Ichiru-kun apa pendapatmu?” teriakkan Kenji membuat Ichiru mengalihkan pandangannya. Ichiru memandang Kenji datar. Tanpa ekspresi.
“Terserah!” jawab Ichiru. Dia berlalu keluar rumah. Menikmati suasana awal musim gugur. Tak ada salahnya berjalan-jalan sebentar, batinya.
Dasar makhluk berhati es! runtuk Kenji dalam hati.
****
Gadis berambut sebahu terlihat sedang berjalan dengan menenteng katung plastic putih. Dia baru saja keluar dari minimarket yang tak jauh dari rumahnya. “Hari minggu yang membosankan!” gumamnya. Hembusan napas kecil keluar dari hidungnya. Dia berjalan sambil menundukkan kepala. Kakinya menendang-nendang sebuah kerikil kecil yang baru saja di temuinya sewaktu ia berjalan. Tak begitu memperhatikan jalan di depannya. Bruk. Tubuh gadis itu terhempas jatuh. Dia baru menabrak seseorang. Gadis itu terduduk di atas trotoar jalan. Barang-barang dalam kantung plastiknya berceceran. Segera dia memunguti barang-barangnya. Orang yang ditabraknya masih berdiri di depannya. Dia dapat melihat celana panjang hitam dan sepatu warna senada yang dipakai orang itu. Gadis berambut sebahu itu mendongakkan kepalanya seraya berdiri. “Kamu lagi!” ujarnya kaget melihat pemuda di depannya. Lagi-lagi dia bertemu dengan pemuda berambut emas itu. “Sepertinya aku selalu kena sial jika bertemu denganmu!” desahnya kesal. Ichiru hanya terdiam. Dia langsung berlalu begitu saja. Gadis itu hanya mampu menatap Ichiru heran. “Dasar lelaki aneh!”
****
Ichiru duduk di bangku taman yang sepi. Menikmati tiap hembusan anngin musim gugur yang membelai kulitnya. Langit tampak berawan. Cerah. Nyaman berada di tempat ini. Sorot matanya kosong. Menatap langit biru berawan. Bayangan gadis yang baru ditemuinya berkelebat dalam benaknya. Gadis itu. Kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi? Gadis bodoh!
“Ichiru-sama! Kenapa disini sendirian?” Tiba-tiba muncul seorang gadis berambut panjang bergelombang di samping Ichiru. Matanya merah seperti batu rubi. Bersinar-sinar penuh kekaguman pada sosok yang ditatapnya. Dia langsung memeluk lengan Ichiru. “Hmm, aku rindu Ichiru-sama,” gumamnya.
“Sora, kenapa kamu ada disini?” tanya Ichiru heran. Keningnya berkerut mendapati Sora sudah memeluk lengannya. Sejak dulu Sora memang selalu mengejarnya. Tetapi, Ichiru tak sekali pun memberikan respon kepadanya. Dia selalu mengikutinya. Bahkan dia sengaja melakukan kesalahan agar bisa keluar, diusir dari tengoku. Sama seperti dirinya. Sayangnya, Ichiru hanya menganggap Sora sebagai rekan dan teman biasa.
“Aku rindu Ichiru-sama. Sudah lama sekali kan kita tidak bertemu,” jelas Sora.
Huft. Ichiru menghela napas panjang. Lagi-lagi harus bertemu Sora. “Kau kesini bersama Akai-san?” tanya Ichiru. Matanya menatap lurus ke depan.
Sora menggeleng cepat. “Dia sedang melaksanakan pekerjaannya di Reijima.”
“Kau turun kesini sendiri? Kau tidak takut jika Akai-san menghukummu?”
“Apapun akan aku lakukan agar dapat bertemu denganmu, Ichiru.” Sora mengembangkan senyuman lebar di wajahnya. Dia tampak sangat senang dapat bertemu Ichiru.
“Sudahlah. Kau sebaiknya kembali ke Reijima. Aku tak mau ada masalah gara-gara keberadaanmu disini!” bentar Ichiru. Dia berdiri dan berjalan meninggalkan Sora begitu saja.
Ichiru… kenapa kau selalu dingin terhadapku? Aku sungguh-sungguh mencintaimu sejak dulu sampai sekarang, gumam Sora dalam hati. Dia tak mampu berbuat apa-apa lagi. Dia hanya bisa menatap kepergian Ichiru.
****
Senin pagi menjelang. Daun-daun terlihat berguguran di sana sini. Udara dingin mulai menyeruak. Musim gugur masih terlalu awal untuk segera berakhir. Yah, ini baru awal. Mungkin nanti akan lebih dingin dari ini.
Ruka Amane mengedarkan pandangannya keluar jendela kelasnya. Guru yang mengajar di kelasnya belum datang. Padahal bel masuk telah berbunyi lima menit yang lalu. Sementara itu, anak-anak yang lain di kelasnya ramai saling berceloteh dan bercanda. Ruka tak tertarik untuk turut serta bercanda bersama mereka. Dia lebih suka menyendiri di bangkunya yang terletak paling belakang. Sejak setahun yang lalu, Ruka lebih suka menyendiri.
Sreek. Pintu kelasnya bergeser terbuka. Kuwabara sensei masuk berjalan ke mejanya. Suasana kelas yang tadinya ricuh menjadi tenang. Setelah meletakkan buku yang dibawanya Kuwabara-san berdiri di depan kelas. “Ohayo mina-san,” sapa Kuwabara-san, salah satu guru matematika yang saat itu mengajar. Secara serentak siswa di kelas menjawab sapaannya. “Ohayo sensei.”
Srek. Pintu kelas kembali bergeser. Pandangan semua penghuni kelas 3-F mengarah ke pintu kelas mereka. Dua orang pemuda masuk. Satu berambut merah darah dan satu lagi berambut kuning keemasan. Wajah mereka tampan. Siswa perempuan saling berbisik begitu melihat kehadiran dua makhluk tampan itu di dalam kelas mereka. Pemuda berambut merah berbicara pelan kepada Kuwabara-sensei. Sementara pemuda berambut emas mengedarkan pandangannya keseluruh penghuni kelas. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seorang gadis berambut sebahu duduk di belakang kelas. Senyum tipis terkembang di wajah pemuda itu. Dia lagi, ucapnya dalam hati.
“Anak-anak mereka ini adalah murid baru yang akan menjadi teman kalian,” kata Kuwabara-sensei memperkenalkan kedua pemuda itu kepada seluruh murid di kelas 3-F. “Silahkan kalian memperkenalkan diri,” ucap sensei kepada kedua pemuda itu.
“Aku Kenji Saotome. Mohon kerjasamanya,” ujar pemuda berambut merah. Badannya menunduk saat memberikan salam.
“Aku Ichiru Kuroki,” sambung pemuda berambut emas. Dia juga menundukkan badannya sedikit. “Mohon kerjasamanya.”
“Baik, kalian bisa duduk sekarang,” kata Kuwabara-sensei memberikan izin pada Kenji dan Ichiru untuk duduk.
Ichiru berjalan dengan santai menuju meja paling belakang. Dia langsung menghempaskan pantatnya di kursi yang sejak tadi dipandanginya. Tepat di sebelah kiri Ruka. Ruka yang sejak tadi memandang keluar jendela tak menyadari kehadiran Ichiru. Sedangkan, Kenji memilih duduk di bangku kosong di depan Ichiru.
“Ruka Amane! Apa yang kamu lakukan? Buka buku matematikamu!” Teriakan dari Kuwabara-sensei membuat Ruka tersentak dan sadar dari lamunannya. Ruka gelagapan mengambil buku di dalam tasnya.
“Gadis bodoh!” bisik Ichiru sambil tersenyum sinis.
Ruka mendengar apa yang dikatakan Ichiru. Dia menoleh kearah sumber suara itu. Matanya membelalak kaget. “KAU LAGI!” ujarnya sedikit berteriak. Seluruh murid dalam kelas memandang Ruka. Ternyata suaranya terlalu keras.
“Ruka, kau niat untuk mengikuti pelajaran atau tidak? Jika tidak keluar saja dari kelas ini! Kau hanya mengganggu yang lainnya,” omel guru matematikanya di depan kelas. Mendengar itu Ruka menjadi ciut. Merasa bersalah. “Maaf, Pak,” sesal Ruka. Dia menundukkan kepalanya dan kembali menatap buku di mejanya. Huh, menyebalkan. Lagi-lagi gara-gara laki-laki itu. Aku selalu sial jika bertemu dengannya, batin Ruka kesal.
******
Tiga jam pelajaran berhasil dilalui Kenji dengan cepat. Begitu bel berbunyi, dia langsung beranjak dari kelas yang menurutnya membosankan. Kenji tak suka membaur dengan manusia. Kesombongan dan keangkuhannya yang membuatnya seperti itu. menurutnya manusia itu lemah dan munafik. Saling menikam satu sama lain. Kenji tak menyukainya.
Kenji berjalan di koridor sekolah. Sebagian besar murid-murid yang dilewatinya menatapnya. Murid perempuan menatapnya dengan terkagum-kagum. Sedangkan, murid laki-laki menatapnya tajam. Tatapan tak suka. Ketampanannya memang dapat membuat orang-orang terpesona sekaligus iri.
Tak ada yang menarik di sini, batinnya kesal. Kenji melirik kearah luar. Kupu-kupu bersayap hitam atau yang biasa disebut sebagai kupu-kupu neraka, jigoku-chou tengah terbang dengan anggunnya. Kenji segera berlari. Mencari tempat yang aman untuknya merubah diri. Kakinya berlari sampai di atas loteng sekolah. Sepi. Tempat yang cocok.
Kenji memejamkan matanya. Berkonsentrasi. Seketika itu juga kedua sayap hitam di punggungnya terkembang. Kini tak seorang pun dapat melihatnya. Perlahan kedua sayapnya itu bergerak-gerak. Mengepak-ngepak. Membuat tubuhnya melayang di udara. Matanya kembali terbuka. Dilihatnya jigoku-chou terbang tepat di depan matanya.
“Jadi dimana target kita sekarang?” tanyanya pada kupu-kupu itu. Tak ada jawaban. Kupu-kupu itu tak dapat berbicara. Malah langsung bergerak, terbang dengan cepat kearah kota. Kenji mengikutinya. Saat melesat di atas langit, dia sempat melihat Ichiru berbaring di atas rerumputan hijau belakang sekolah. Tepat di bawahnya. Hatinya kesal mendapati Ichiru yang bersikap seenaknya. Tak peduli pada tugasnya.
Sejauh 20 kilometer, Kenji terbang. Angin menerpa wajahnya kasar. Dia terbang dengan kecepatan tinggi. Jigoku-Chou, berhenti di tempat proyek pembangunan sebuah apartemen dekat pusat kota. Tiang-tiang besi membentuk kerangkanya. Hanya itu yang baru terpasang. Pembangunannya baru dimulai satu bulan yang lalu.
Kenji mendarat di atas tiang listrik depan proyek itu. Sayap hitamnya menelungkup. “Jadi, di sini?” gumamnya. “Sepertinya kali ini korbannya roh yang masih segar.”
Kenji mengedarkan pandangannya ke setiap sisi tempat itu. Chou miliknya terbang mengitari tiang-tiang besi penyangga gedung apartemen yang sedang dibangun. Sampailah chou didekat seorang pria paruh baya dengan alat las di tangannya. Helm kuning melekat erat di kepalanya. Sesekali pria itu menyeka keringat yang mengucur di dahinya.
Di samping pria itu berdiri sesosok makhluk yang mirip seperti Kenji. Bersayap hitam. Berambut hitam. Jubah hitam panjang menutupi tubuhnya. Tangan kanannya tertutupi sarung tangan hitam. Sementara itu, dipinggang kanannya melekat sebilah pedang samurai, zanpakutou. Kenji mengernyit mendapati sosok makhluk itu. Dia mengenalnya. Shinigami dari tengoku.
Brak. Daam. Bunyi sesuatu menghantam tanah dengan keras terdengar. Pria tadi. Tubuhnya sudah terkapar di atas tanah. Bersimbah darah. Orang-orang mengeruminya. Panik. Pekerjaan dihentikan. Kenji mengalihkan pandangannya ke kerumunan orang itu. Tepatnya ke sosok pria paruh baya tadi. Dia berdiri di dekat tubuhnya. Wajahnya pucat. Di dadanya terpasang rantai panjang yang mengikat dengan tubuhnya. Itu rantai takdir, Inga na Kusari. Malaikat kematian belum memotongnya. Roh itu masih segar. Kenji tersenyum tipis. “Permainan dimulai!”
Ssssstt. Kenji melesat cepat mendekati pria paruh baya itu. Dari arah lain, sesosok makhluk bersayap hitam ikut melesat. Mereka berhenti bersamaan di hadapan pria baruh baya tadi. Sang pria menatap takut-takut pada kedua makhluk dihadapannya.
“Oh, ternyata kau, Kenji. Sudah lama kita tidak bertemu,” ujar makhluk serba hitam di depan Kenji. Dia tersenyum tipis.
“Hahaha.” Kenji meledakkan tawanya. “Kau sendirian saja Kirishima? Dimana teman-temanmu?” tanya Kenji sinis. Dia memandang tak suka sosok di depannya. Kirishima Serizawa, malaikat maut atau yang biasa disebut shinigami. Dia pernah menjadi rekan Kenji. Tapi sekarang mereka harus berhadapan sebagai musuh. Visi mereka berbeda. Kirishima mencabut nyawa seseorang. Sedangkan, Kenji mengambil kristal kehidupan atau yang dapat membuat arwah itu lenyap.
“Apa yang kau lakukan SENPAI ?” Kirishima sengaja memberi penekanan pada sebutannya untuk Kenji. Untuk mengejeknya.
“Mencari mangsa!” jawab Kenji singkat. Mata hitamnya melirik sosok arwah di sampingnya. Arwah itu ketakutan.
“Ka-kalian siapa? Mau apa?” ucap pria paruh baya di dekat Kenji. Perlahan pria itu berjalan mundur menjauhi dua makhluk di dekatnya.
“Kau sudah mati Pak Tua! Buat apa ketakutan seperti itu?” kata Kenji ketus.
“Itu kan kata-kata yang harusnya aku ucapkan, Senior. Kau tidak boleh merebut lahan pekerjaanku. Ingat itu, Senior,” sahut Kirishima.
“Kau lamban!” bentak Kenji. Di tangan kanan terpancar cahaya panjang berwarna merah. Mirip sebilah pedang api. Itu faiareddo miliknya. Kenji menyambarkan pedang cahayanya ke pria tua di dekatnya.
Prang. Faiareddo-nya berbenturan dengan zenpakutou Kirishima. Kenji mundur mengepakkan sayap hitamnya. Melayang di udara. Kirishima berdiri di depan pria tua itu. Melindunginya. “Jangan mengganggu pekerjaanku!” teriak Kenji.
“Kau yang mengganggu pekerjaanku!” bentak Kirishima. Tak kalah sengit. Tubuhnya melayang ke atas. Sejajar dengan Kenji. “Aku tak ingin melawanmu. Tapi, aku tak punya pilihan. Maaf, Senior.” Kirishima meluncur kearah Kenji. Seperti sebuah peluru. Syuut. Prang. Suara benturan kedua pedang yang berbeda kembali terdengar. Kedua pemegang pedang itu tak mau mengalah. Keduanya saling mendorongkan pedangnya kearah lawan masing-masing.
“Sepertinya kau semakin kuat!” ujar Kenji. Tersenyum kecut.
Kirishima terkekeh pelan. “Senior terlalu memuji. Kau yang memang sekarang terlihat lemah!” katanya ketus. Kenji makin geram. Dia memukulkan tangan kirinya yang bebas ke perut Kirishima. “Shakkahou,” teriak Kenji. Syuut. Duaar. Cahaya merah keluar dari tangan kiri Kenji. Meledak saat mengenai badan Kirishima. Beruntunglah dia masih sempat menghindar. Hanya jubah hitamnya yang robek. “Sial!” gumam Kirishima.
Kenji tertawa puas. “Kau lengah!” Matanya bergerak kearah bawah. “Pria tua itu menghilang!” Kenji memfokuskan pandangannya pada rantai yang melekat pada tubuh pria itu. Inga no kusari itu masih terhubung dengan rohnya. Kenji mengikuti rantai itu. Menemukan dimana ujungnya berakhir. Dua meter dari jasad pria itu. Arwahnya tengah bersembunyi di antara gang buntu. “Kena!” Kenji menarik paksa rantai itu. Membuat arwah pria tadi tersentak. Terlempar keluar dari persembunyiannya. “Mau kemana kau Pria Tua! Kau tak akan bisa lari!” Kenji berjalan mendekat. Sssst. Sebuah bola cahaya biru besar melesat kearah Kenji. Dia menangkis shoukatsui itu dengan tangan kanannya. Tanpa melihat arah datangnya bola cahaya itu. Duaar. Tembok pembatas jalan di sebelah kanannya hancur terkena shoukatsui. Aksi Kenji masih berlanjut. Faiareddo kembali muncul di tangan kanannya. Dengan gerakan cepat. Bless. Pedang itu tertancap di dada pria tua tadi. Tangan kiri Kenji menarik paksa ujung rantai yang melekat di dadanya.
“Aaaargh.” Pria itu mengerang keras. Sebuah Kristal kuning keluar dari tubuhnya. Tubuh pria itu perlahan lenyap seperti asap. Kenji menangkap Kristal itu dengan tangan kirinya. “Hanya Kristal biasa,” gumamnya. Dia membalikkan tubuhnya. Menatap Kirishima yang tercengang melihat aksinya. Kirishima terlambat mencegahnya.
“Baik. Sampai di sini saja Kirishima. Lain kali ada baiknya kau membawa teman,” ucap Kenji. Senyum kepuasan terkembang di bibirnya. Kirishima diam. Tak berdaya. Dia terlambat. Dia telah kalah. Tak lama, sayap hitam Kenji mengembang. Lalu menuntupi seluruh tubuh depannya. Seketika sosoknya lenyap. Meninggalkan beberapa helai bulu hitam yang melayang di udara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar