Tampilkan postingan dengan label darkbutterfly. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label darkbutterfly. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2012

Dark Butterfly #3

Part 3 _ Ketidaksukaan Kenji

Ruka merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau bukit belakang sekolah. Sepoi angin membelai kulitnya dengan lembut. Matanya terpejam. Nyaman. Ruka memang suka sekali berada di bukit belakang sekolahnya. Sepi. Dia biasa menyendiri di tempat itu.

Wuss. Angin kencang menerpa tubuh Ruka. Sreek. Sreek. Suara daun-daun bergesek terdengar. Ruka membuka matanya. Bangkit dari tidurnya dan terduduk di atas rumput. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepi. Hanya ada Ruka di sana. Mungkin hanya suara binatang kecil, pikir Ruka.

“Gadis bodoh sedang apa kau di sini?” suara bass seorang lelaki terdengar. Ruka mengedarkan pandangannya sampai dia menangkap bayangan manusia duduk di atas ranting pohon tak jauh dari tempatnya.

“Kau?” Laki-laki itu lagi. Sejak kapan dia ada di situ, batin Ruka.

Lelaki itu tersenyum sinis. Dia melompat dengan cepat. Hup. Dengan anggun kakinya mencapai tanah. Beberapa helai rambut panjang keemasannya melayang terhempas angin. Ruka hampir terpesona melihat cara lelaki itu turun. Ruka mengerjapkan matanya beberapa kali. Aku tidak boleh terpesona. Sadarlah Ruka! Ruka berusaha menyadarkan dirinya.

Lelaki itu berjalan mendekatinya. Sial, langkahnya pun terlihat anggup. Kenapa orang seperti dia itu menyebalkan, runtuk Ruka. “Apa yang kau lakukan di sini gadis bodoh?” lelaki itu bertanya lagi.

“Berhenti memanggilku gadis bodoh! Aku bukan gadis bodoh!” bentak Ruka. Amarah terpancar dari air mukanya.

Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di atas rerumputan hijau. Tepat di samping Ruka. “Hmm nyaman juga di sini.” Lelaki itu memejamkan matanya. Tak menghiraukan ucapan Ruka. Ruka mengerucutkan mulutnya.

“Pemuda menyebalkan!” gumam Ruka.

Wuss. Angin kencang lagi-lagi berhembus. Seperti ada yang melintas dengan cepat di depan Ruka. Sreek. Terdengar suara daun bergesekan. “Hey, jangan bersantai di sini Ichiru,” suara merdu seorang lelaki menggema. Dengan cepat Ruka menoleh ke sumber suara. Pada pohon sakura satu meter dari tempat Ruka, seorang lelaki berambut merah menatap gusar. Matanya sungguh tajam. Siapa lagi ini? pikir Ruka. Dia anak baru di kelasku tadi. Rupanya teman pemuda menyebalkan itu.

“ICHIRU!” teriak lelaki berambut merah itu. “Kau lupa dengan tugas kita? Jangan bersantai-santai seperti itu.”

“Kau berisik sekali, Kenji,” ujar lelaki bernama Ichiru. Dia masih memejamkan matanya.

Kenji melompat dengan kasar. Sayap hitamnya tak terlihat. Dum. Dentaman kakinya yang menginjak tanah terdengar kencang. Kenji berjalan cepat. Tangannya dengan kasar menggapai kerah baju Ichiru. “Kau membuat darahku naik!”

Ichiru membuka mata dan tersenyum mengejek. “Memang kau punya darah, Hah?”

Ruka yang melihat adegan itu hanya mampu mengerutkan keningnya. Apa yang mereka lakukan? Mereka mengganggu tidur siangku. Huh. Ruka mendengus kesal. Dia berdiri. Beranjak meninggalkan Ichiru dan Kenji.

Bugh. Pukulan keras mendarat di wajah Ichiru. Tubuhnya terlempar beberapa meter. Badannya mendarat kasar di tanah. Membuat tanah berserakkan di sekitar badan Ichiru. Ichiru mengusap darah segar di sudut bibirnya. Dia berdiri sambil tersenyum tipis. Kenji melesat kearah Ichiru. Kepalan tangan kanannya melayang lagi. Namun, kali ini Ichiru berhasil menahannya. Kenji memfokuskan kekuatannya di tangan kirinya yang masih bebas. Secercah cahaya merah keluar dari tangan kirinya. Cahaya itu memanjang membentuk sebilah pedang. Dengan gesit Ichiru melompat mundur. Menjauhkan tubuhnya dari Kenji. Ichiru seperti tak mau kalah. Tangan kanannya memancarkan cahaya hitam pekat panjang. Membentuk sebilah pedang hitam. Sama seperti Kenji. Krek cess. Krek cess. Kilatan-kilatan cahaya kecil memercik di sekeliling pedang cahaya mereka.

“DUEL!” teriak Kenji keras seraya melesat maju kearah Ichiru. Seperti peluru yang ditembakkan. Begitu cepat. Prang. Cezz. Pedang cahaya mereka saling beradu. Tak ada yang mengalah. Tiba-tiba sebuah bola energi berwarna merah melesar kearah mereka. Duaarr. Bola energi itu membentur tanah. Membuat lubang besar di tempat itu. Asap mengepul seketika. Bayangan Kenji dan Ichiru tak terlihat.

“SIAL! Onisan, jangan ikut campur!” teriak Kenji. Kepalanya mendongak ke atas. Menatap seorang pria yang tengah melayang di langit. Tepat diatasnya. Sayap putih yang melekat pada punggung pria itu terkembang. Senyum manis terlukis pada wajah pria itu. Sedangkan, air muka Kenji masih terlihat gusar. Kenji berada beberapa meter dari lubang besar bekas ledakan tadi.

“Kau harus berhati-hati menggunakan kekuatanmu, Kenji,” ujar pria itu memperingatkan. Perlahan pria itu turun. Menginjak tanah. Berhadapan dengan Kenji. Di sisi lain, Ichiru terlihat membenarkan dirinya yang terlempar jauh akibat ledakan tadi. Mencoba berdiri tegak. Pria itu menoleh kearah Ichiru. Tersenyum sinis. “Kau payah Ichiru!” Ichiru membuang muka.

Onisan jangan menghalangiku!” bentak Kenji.

Pria yang dipanggilnya Onisan itu menatapnya dalam-dalam. “Apa kau tidak bisa meredam emosimu?”

“Meredamnya? Aku muak bersikap seperti itu. Karena dia, aku harus terjebak di sini selama satu tahun terakhir ini.” Tangan Kenji menunjuk Ichiru. “Dan tadi aku hampir kewalahan menghadapi shinigami. Jadi, biarkan aku memberinya pelajaran!” sengitnya.

“Tugas kita masih banyak. Bersabarlah. Setelah kita menemukan Kristal kehidupan yang paling murni secara lengkap, kita pasti bisa kembali ke Reijima. Jadi, berusahalah lebih keras lagi,” Onisan-nya bersaran. Dengan tenang dia mencoba meredamkan emosi Kenji yang selalu meluap-luap.

Sssttt. Pedang cahaya di tangan Kenji lenyap. Tersedot dalam tangannya. Amarahnya mereda. Onisan-nya tersenyum mempesona. “Mikami-sama sebaiknya mengajari Ichiru agar dia tidak menyebalkan lagi!” saran Kenji. Sayap hitamnya mengembang. Bergerak-gerak. Membuat tubuhnya melayang. Kenji terbang. Menjauhi tempat pertengkarannya.

Sepeninggalan Kenji, Mikami membalikkan badan. Memandang Ichiru. Kedua tangan dilipat di depan dada. Sayap putih menelungkup di punggungnya. Ichiru menepuk-nepuk baju depannya. Menyingkirkan debu yang mengotorinya. “Kau payah sekali. Jangan sampai peristiwa satu tahun yang lalu itu terulang lagi. Apa kau mau membuat kesalahan yang sama?” ujar Mikami.

“Kali ini, aku tak akan membuat kesalahan. Jadi, biarkan aku melakukan semuanya sesukaku!” sahut Ichiru. Mata emasnya menatap lekat makhluk bersayap putih di depannya. Penuh keyakinan.

“Baiklah. Tapi kau harus ingat apa tugasmu di sini.” Buk. Buk. Buk. Sayap putih Mikami mengepak kencang. Menghembuskan angin yang menerpa dedaunan dan rerumputan di sekitarnya. Tubuh Mikami melayang ke atas. “Jangan menyia-nyiakan kesempatanmu lagi,” ujarnya lagi. Ichiru hanya mengangguk. Mikami pun terbang cepat meninggalkan Ichiru.
@@-@-@@

Ruka berjalan lemah. Tak bersemangat. Pikirannya terus saja memikirkan anak baru yang mengganggu acara tidur siangnya di bukit belakang sekolah. Lelaki itu selalu muncul didekatnya akhir-akhir ini. Aneh. Menurutnya.

“AMANE!” teriakan keras menggemakan nama Ruka. Dia menoleh ke sumber suara. Di tengah lapangan dekat sekolahnya, seorang laki-laki melambai-lambaikan tangannya. Ruka tercekat. “Kataoka,” gumam Ruka menyebut nama pemuda yang memanggilnya.

Izaki Kataoka, nama lengkap pemuda itu. Teman sekolah Ruka sejak masih di bangku SMP. Pemuda tampan yang jago sepak bola. Selama di SMP dulu, Ruka sekelas dengannya. Tapi sayang saat SMA, Izaki selalu masuk di kelas unggulan. Berbeda dengan Ruka. Rambut hitam jigraknya bergerak-gerak saat dia berlari menghampiri Ruka.

“Hhhh, Belum pulang dari tadi?” tanya Izaki saat didekat Ruka. Napasnya masih terengah-engah. Membungkuk. Memegang kedua lututnya.

Ruka menggeleng cepat. “Kataoka sedang latihan ya?” kata Ruka pelan. Dia merogoh isi tas sekolahnya. Sebuah sapu tangan putih keluar dari dalam tasnya. Ruka menyodorkan sapu tangan itu pada Izaki.

Arigato,” ucap Izaki setelah menerima sapu tangan Ruka. Dia menyeka keringat di wajahnya dengan sapu tangan itu. “Ayo, Amane ikut lihat!” ajak Izaki. Tangan kanannya meraih tangan kiri Ruka. Membimbing gadis itu menuju pinggir lapangan sepak bola. Ruka diam saja. “Tunggu di sini. Aku akan mencetak satu gol untukmu!” janji Izaki. Ruka tersenyum tipis untuknya. Pemuda itu langsung kembali ke tengah lapangan. Permainannya kembali dimulai.

Izaki menendang bola pertama kali. Mengopernya kepada teman di sebelah kanannya. Seseorang menghadang. Bola itu kembali ke kaki Izaki. Dia menggiringnya sampai di daerah penalti. Dua orang lawannya mencoba menghalangi. Dengan lincah, Izaki mengecoh lawannya. Bergerak cepat. Dia berhasil melewati satu lawan. Bola dioperkan ke belakang untuk menghindari lawan yang masih menghadangnya. Sedangkan, Izaki terus berlari ke sisi kiri dekat gawang. Tak ada yang menjaganya. Melihat kesempatan emas, Izaki melirik temannya yang membawa bola. Memberi isyarat melalui kedipan mata. Lalu bola kembali padanya. Ditendangnya kuat-kuat bola itu. Bolanya meluncur berbelok. Kipper tak mampu menangkapnya dan masuk gol.  Izaki histeris. Berteriak. Berlari menghampiri salah satu kawannya. Plok. Keduanya saling tos. Merayakan kesuksesan mereka.

Ruka tersenyum puas. Turut senang atas keberhasilan Izaki, kawan lamanya itu. Izaki menghampirinya. Dengan tersenyum lebar. “Kau semakin hebat saja,” puji Ruka. Senyum yang terkembang di bibir Izaki semakin lebar. “Tentu saja. Izaki Kataoka,” ujarnya membanggakan diri. “Aku senang bisa menghiburmu lewat permainanku,” sambung Izaki. Ruka terdiam. Dia mengerti apa maksud kata-kata Izaki itu.

Ruka adalah gadis yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal satu tahun yang lalu akibat kecelakaan mobil. Tepat di ulang tahun Ruka. Saat itu, Ruka bersama mereka. Hanya dia yang selamat. Sejak itu Ruka tak lagi menjadi gadis yang ceria. Dia sering murung dan menjadi pendiam. Setelah kepergian orang tuanya, Ruka tinggal bersama ojiisan-nya (kakek). Satu-satunya keluarga yang masih tersisa. Rumah ojiisan-nya bersebelahan dengan rumah Izaki. Mereka pun menjadi semakin akrab. Izakil-lah yang selama ini selalu menghibur Ruka. Memberinya semangat.
“Ruka, ayo pulang sama-sama!” ajak Izaki. Semua perlengkapan sebak bolanya telah rapi ia masukkan dalam tas besarnya. Dia menenteng tas besarnya itu. tangan kanannya meraih tangan kiri Ruka. Membimbing gadis berambut sebahu itu berjalan bersama. Ruka hanya diam. Mengikuti Izaki.
@-@@-@

Kenji’s PoV

Hari yang menyebalkan. Kekuatanku terkuras banyak hari ini. Bukan hanya karena shinigami yang mengganggu pekerjaanku, tapi karena amarahku yang meluap. Masih sulit bagiku mengendalikan amarah. Keluhku dalam hati.
Aku memilih berbaring di atas atap gedung rumah sakit. Sepi. Cocok untuk menenangkan diri. Kutatap langit malam. Gelap. Kuhitung bintang yang menghiasinya. Bintang-bintang yang membentuk rasinya. Di sisi lain angin berhembus pelan. Sejuk. Aku suka angin malam. Lebih baik aku berada disini. Daripada aku pulang dan bertemu dengan Ichiru lagi. Dia selalu membuat emosiku naik. Kalau mengingatnya. Jadi, teringat peristiwa satu tahun yang lalu. Peristiwa yang membuat aku diusir dari tengoku.

Kenji terbang. Turun ke dunia manusia. Ia mendapat tugas mencabut nyawa seseorang. Dia turun perlahan ke sebuah rumah sakit. Kamar 303. Seorang gadis dengan alat bantu pernapasan menutupi sebagian wajahnya. Alat pendeteksi jantung terus berdetak. Di tangannya terpasang selang infuse. Kenji mendekati gadis itu. Sayap hitamnya terkembang. Di pinggangnya melekat pedang zanpakutou miliknya. Pedang berwarna merah. Kenji bersiap memegang pedang itu. Melepaskan dari sarungnya. Sreeet. Bunyi gesekan mata pedang dan sarungnya terdengar. Kenji mengayunkan ke atas. Lalu turun menuju dada gadis itu.

“TUNGGU!” teriakan seorang lelaki membuat Kenji berhenti mengayunkan pedangnya. Menoleh kearah suara. Dia tahu sang pemilik suara itu bukanlah manusia. “Jangan lakukan itu!” cegah sang pemilik suara.

“Ini sudah waktunya. Waktu untuk mati. Kau tak bisa mencegahku, Ichiru,” ujar Kenji. Matanya menatap tajam lelaki di depannya. Lelaki berambut keemasan itu Ichiru. Teman Kenji, sesama malaikat bersayap hitam.

“Tunggu sampai dia sadar,” pinta Ichiru. Gurat wajahnya memelas.

“Kau tahu itu tidak mungkin! Jangan mencegahku lagi!” suara Kenji mulai meninggi. Dia kembali mengayunkan pedangnya. Prang. Pedangnya tertahan oleh pedang hitam Ichiru. “Apa kau sudah gila, Ichiru?” bentak Kenji.

“Maaf, aku hanya meminta harinya diperpanjang satu hari saja. Besok biar aku yang melakukannya,” tawar Ichiru. Matanya dan mata Kenji saling beradu.

“Tidak bisa!” tolak Kenji. Kakinya melompat dengan anggun mundur ke belakang. Menjauhkan diri dari Ichiru. “Kau tahu apa akibatnya? Kita tidak bisa mengubah ketentuan-Nya untuk hal kematian.”

“Tapi….” Ichiru menunduk lemah. Bimbang. Bingung. Dia tak ingin kehilangan gadis itu. Tapi, dia juga tidak bisa melanggar peraturan. Pilihan yang sulit.

“Dari awal aku sudah memperingatkanmu. Kau tak boleh jatuh cinta pada manusia. Inilah akibatnya,” kata Kenji. Dia berjalan pelan. Mendekati tubuh gadis itu.

“Jika begitu aku terpaksa akan melawanmu!” ancam Ichiru. Dia menyiagakan tangannya. Memasang pedang hitamnya di depan dada. Bersiap menyerang.

Kenji mendengus kesal. Ini yang tidak disukainya. Jika harus bertarung melawan rekannya sendiri. tapi, apa boleh buat. Tak ada pilihan lain. Mereka berdua melesat cepat keluar dari ruangan itu. Di atas langit mereka saling beradu pedang. Menyerang dan bertahan. Ichiru bergerak lebih gesit daripada Kenji. Dia lebih unggul dalam hal kecepatan. Beberapa serangan cepatnya membuat Kenji kewalahan. Bahkan bagian perut Kenji sempat terkena sabetan pedangnya. Untungnya Kenji masih sempat menghindar. Lukanya tak terlalu dalam. Lengah sedikit saja dia pasti celaka.

“Menyerah saja kau. Aku lebih unggul daripada kamu!” ujar Ichiru memperingatkan. Kenji terengah-engah dua meter dari hadapan Ichiru. Kekuatannya memang tak sebanding dengan Ichiru. Kenji berada dua tingkat di bawah Ichiru. Cukup sulit baginya menyeimbangi serangan Ichiru.

“Tak bisa! Aku harus mampu bertanggung jawab terhadap pekerjaanku,” sanggah Kenji. Di tangan kirinya sebuah bola cahaya merah muncul. Dari kecil menjadi besar secara perlahan. Kenji mengonsentrasikan sisa kekuatannya membentuk bola api. Lalu diacungkan ke depan tangan kirinya itu. bola api itu melesat cepat seperti peluru kearah Ichiru. Dengan pedang hitamnya, Ichiru menahan laju bola api itu. diayunkannya pedang miliknya ke atas. Menghempaskan bola api tinggi-tinggi ke atas. Duaarr. Bola api itu meledak tepat diatas mereka. memercikkan api-api kecil. Ichiru tersenyum mengejek. Merasa diatas angin. Craaz. Tebasan singkat mendarat di perut Kenji. Begitu cepat. Darah mengucur. Bugh. Belum sempat menghindar, lagi-lagi Kenji mendapat serangan dari Ichiru. Pukulan keras mendarat di punggungnya. Membuat tubuh malaikat berambut merah itu jatuh ke bawah. Dam. Tubuhnya mencapai tanah. Lemah. Kenji tak mampu terbang menyelamatkan  diri agar tak terjatuh. Tubuh Kenji terbaring di tanah. Darah masih mengucur dari perutnya. Kenji diam. Tak bisa bergerak. Kekuatannya sudah habis. Ichiru turun perlahan mendekati Kenji.

“Sudah kubilang. Kau bukan tandinganku. Maafkan aku,” ujar Ichiru pelan.
“Bunuh aku!” perintah Kenji lemah. “CEPAT BUNUH AKU!” Kenji berteriak keras. Namun, tak dihiraukan oleh Ichiru. Dia malah berlalu meninggalkan Kenji membusuk dengan kekalahannya.

Sabtu, 28 Januari 2012

Dark Butterfly #2

Part 2 _ Membaur

“APA?” Mata Kenji melotot kaget. “Kita harus hidup seperti manusia? Aku tidak mau. Itu merepotkan Onisan!” keluh Kenji.

Seorang pemuda berkaca mata berjalan santai mendekati Kenji. Tangannya menepuk bahu Kenji. “Cobalah hidup seperti manusia. Ketua sudah memberikan izinnya supaya kita dapat hidup seperti manusia. Tidak ada salahnya kan? Daripada kita seperti ini saja, membosankan!” jelasnya. “Bersemangatlah Kenji!”

“Aaarrrgghh!” Kenji menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia tampak gusar dengan perintah dari pemuda berkaca mata yang dipanggilnya onisan. Sementara itu, Ichiru berdiri di dekat jendela ruang tamu. Dia lebih suka mengamati keadaan di luar rumahnya. Daun-daun pohon maple dan sakura berguguran. Musim gugur telah tiba.

“Ichiru-kun apa pendapatmu?” teriakkan Kenji membuat Ichiru mengalihkan pandangannya. Ichiru memandang Kenji datar. Tanpa ekspresi.

“Terserah!” jawab Ichiru. Dia berlalu keluar rumah. Menikmati suasana awal musim gugur. Tak ada salahnya berjalan-jalan sebentar, batinya.

Dasar makhluk berhati es! runtuk Kenji dalam hati.
****

Gadis berambut sebahu terlihat sedang berjalan dengan menenteng katung plastic putih. Dia baru saja keluar dari minimarket yang tak jauh dari rumahnya. “Hari minggu yang membosankan!” gumamnya. Hembusan napas kecil keluar dari hidungnya. Dia berjalan sambil menundukkan kepala. Kakinya menendang-nendang sebuah kerikil kecil yang baru saja di temuinya sewaktu ia berjalan. Tak begitu memperhatikan jalan di depannya. Bruk. Tubuh gadis itu terhempas jatuh. Dia baru menabrak seseorang. Gadis itu terduduk di atas trotoar jalan. Barang-barang dalam kantung plastiknya berceceran. Segera dia memunguti barang-barangnya. Orang yang ditabraknya masih berdiri di depannya. Dia dapat melihat celana panjang hitam dan sepatu warna senada yang dipakai orang itu. Gadis berambut sebahu itu mendongakkan kepalanya seraya berdiri. “Kamu lagi!” ujarnya kaget melihat pemuda di depannya. Lagi-lagi dia bertemu dengan pemuda berambut emas itu. “Sepertinya aku selalu kena sial jika bertemu denganmu!” desahnya kesal. Ichiru hanya terdiam. Dia langsung berlalu begitu saja. Gadis itu hanya mampu menatap Ichiru heran. “Dasar lelaki aneh!”
****

Ichiru duduk di bangku taman yang sepi. Menikmati tiap hembusan anngin musim gugur yang membelai kulitnya. Langit tampak berawan. Cerah. Nyaman berada di tempat ini. Sorot matanya kosong. Menatap langit biru berawan. Bayangan gadis yang baru ditemuinya berkelebat dalam benaknya. Gadis itu. Kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi? Gadis bodoh!

“Ichiru-sama! Kenapa disini sendirian?” Tiba-tiba muncul seorang gadis berambut panjang bergelombang di samping Ichiru. Matanya merah seperti batu rubi. Bersinar-sinar penuh kekaguman pada sosok yang ditatapnya. Dia langsung memeluk lengan Ichiru. “Hmm, aku rindu Ichiru-sama,” gumamnya.

“Sora, kenapa kamu ada disini?” tanya Ichiru heran. Keningnya berkerut mendapati Sora sudah memeluk lengannya. Sejak dulu Sora memang selalu mengejarnya. Tetapi, Ichiru tak sekali pun memberikan respon kepadanya. Dia selalu mengikutinya. Bahkan dia sengaja melakukan kesalahan agar bisa keluar, diusir dari tengoku. Sama seperti dirinya. Sayangnya, Ichiru hanya menganggap Sora sebagai rekan dan teman biasa.

“Aku rindu Ichiru-sama. Sudah lama sekali kan kita tidak bertemu,” jelas Sora.
Huft. Ichiru menghela napas panjang. Lagi-lagi harus bertemu Sora. “Kau kesini bersama Akai-san?” tanya Ichiru. Matanya menatap lurus ke depan.

Sora menggeleng cepat. “Dia sedang melaksanakan pekerjaannya di Reijima.”

“Kau turun kesini sendiri? Kau tidak takut jika Akai-san menghukummu?”

“Apapun akan aku lakukan agar dapat bertemu denganmu, Ichiru.” Sora mengembangkan senyuman lebar di wajahnya. Dia tampak sangat senang dapat bertemu Ichiru.

“Sudahlah. Kau sebaiknya kembali ke Reijima. Aku tak mau ada masalah gara-gara keberadaanmu disini!” bentar Ichiru. Dia berdiri dan berjalan meninggalkan Sora begitu saja.

Ichiru… kenapa kau selalu dingin terhadapku? Aku sungguh-sungguh mencintaimu sejak dulu sampai sekarang, gumam Sora dalam hati. Dia tak mampu berbuat apa-apa lagi. Dia hanya bisa menatap kepergian Ichiru.
****

Senin pagi menjelang. Daun-daun terlihat berguguran di sana sini. Udara dingin mulai menyeruak. Musim gugur masih terlalu awal untuk segera berakhir. Yah, ini baru awal. Mungkin nanti akan lebih dingin dari ini.

Ruka Amane mengedarkan pandangannya keluar jendela kelasnya. Guru yang mengajar di kelasnya belum datang. Padahal bel masuk telah berbunyi lima menit yang lalu. Sementara itu, anak-anak yang lain di kelasnya ramai saling berceloteh dan bercanda. Ruka tak tertarik untuk turut serta bercanda bersama mereka. Dia lebih suka menyendiri di bangkunya yang terletak paling belakang. Sejak setahun yang lalu, Ruka lebih suka menyendiri.

Sreek. Pintu kelasnya bergeser terbuka. Kuwabara sensei masuk berjalan ke mejanya. Suasana kelas yang tadinya ricuh menjadi tenang. Setelah meletakkan buku yang dibawanya Kuwabara-san berdiri di depan kelas. “Ohayo mina-san,” sapa Kuwabara-san, salah satu guru matematika yang saat itu mengajar. Secara serentak siswa di kelas menjawab sapaannya. “Ohayo sensei.”

Srek. Pintu kelas kembali bergeser. Pandangan semua penghuni kelas 3-F mengarah ke pintu kelas mereka. Dua orang pemuda masuk. Satu berambut merah darah dan satu lagi berambut kuning keemasan. Wajah mereka tampan. Siswa perempuan saling berbisik begitu melihat kehadiran dua makhluk tampan itu di dalam kelas mereka. Pemuda berambut merah berbicara pelan kepada Kuwabara-sensei. Sementara pemuda berambut emas mengedarkan pandangannya keseluruh penghuni kelas. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seorang gadis berambut sebahu duduk di belakang kelas. Senyum tipis terkembang di wajah pemuda itu. Dia lagi, ucapnya dalam hati.

“Anak-anak mereka ini adalah murid baru yang akan menjadi teman kalian,” kata Kuwabara-sensei memperkenalkan kedua pemuda itu kepada seluruh murid di kelas 3-F. “Silahkan kalian memperkenalkan diri,” ucap sensei kepada kedua pemuda itu.

“Aku Kenji Saotome. Mohon kerjasamanya,” ujar pemuda berambut merah. Badannya menunduk saat memberikan salam.

“Aku Ichiru Kuroki,” sambung pemuda berambut emas. Dia juga menundukkan badannya sedikit. “Mohon kerjasamanya.”

“Baik, kalian bisa duduk sekarang,” kata Kuwabara-sensei memberikan izin pada Kenji dan Ichiru untuk duduk.

Ichiru berjalan dengan santai menuju meja paling belakang. Dia langsung menghempaskan pantatnya di kursi yang sejak tadi dipandanginya. Tepat di sebelah kiri Ruka. Ruka yang sejak tadi memandang keluar jendela tak menyadari kehadiran Ichiru. Sedangkan, Kenji memilih duduk di bangku kosong di depan Ichiru.

“Ruka Amane! Apa yang kamu lakukan? Buka buku matematikamu!” Teriakan dari Kuwabara-sensei membuat Ruka tersentak dan sadar dari lamunannya. Ruka gelagapan mengambil buku di dalam tasnya.

“Gadis bodoh!” bisik Ichiru sambil tersenyum sinis.

Ruka mendengar apa yang dikatakan Ichiru. Dia menoleh kearah sumber suara itu. Matanya membelalak kaget. “KAU LAGI!” ujarnya sedikit berteriak. Seluruh murid dalam kelas memandang Ruka. Ternyata suaranya terlalu keras.

“Ruka, kau niat untuk mengikuti pelajaran atau tidak? Jika tidak keluar saja dari kelas ini! Kau hanya mengganggu yang lainnya,” omel guru matematikanya di depan kelas. Mendengar itu Ruka menjadi ciut. Merasa bersalah. “Maaf, Pak,” sesal Ruka. Dia menundukkan kepalanya dan kembali menatap buku di mejanya. Huh, menyebalkan. Lagi-lagi gara-gara laki-laki itu. Aku selalu sial jika bertemu dengannya, batin Ruka kesal.
******

Tiga jam pelajaran berhasil dilalui Kenji dengan cepat. Begitu bel berbunyi, dia langsung beranjak dari kelas yang menurutnya membosankan. Kenji tak suka membaur dengan manusia. Kesombongan dan keangkuhannya yang membuatnya seperti itu. menurutnya manusia itu lemah dan munafik. Saling menikam satu sama lain. Kenji tak menyukainya.

Kenji berjalan di koridor sekolah. Sebagian besar murid-murid yang dilewatinya menatapnya. Murid perempuan menatapnya dengan terkagum-kagum. Sedangkan, murid laki-laki menatapnya tajam. Tatapan tak suka. Ketampanannya memang dapat membuat orang-orang terpesona sekaligus iri.

Tak ada yang menarik di sini, batinnya kesal. Kenji melirik kearah luar. Kupu-kupu bersayap hitam atau yang biasa disebut sebagai kupu-kupu neraka, jigoku-chou tengah terbang dengan anggunnya. Kenji segera berlari. Mencari tempat yang aman untuknya merubah diri. Kakinya berlari sampai di atas loteng sekolah. Sepi. Tempat yang cocok.

Kenji memejamkan matanya. Berkonsentrasi. Seketika itu juga kedua sayap hitam di punggungnya terkembang.  Kini tak seorang pun dapat melihatnya. Perlahan kedua sayapnya itu bergerak-gerak. Mengepak-ngepak. Membuat tubuhnya melayang di udara. Matanya kembali terbuka. Dilihatnya jigoku-chou terbang tepat di depan matanya.

“Jadi dimana target kita sekarang?” tanyanya pada kupu-kupu itu. Tak ada jawaban. Kupu-kupu itu tak dapat berbicara. Malah langsung bergerak, terbang dengan cepat kearah kota. Kenji mengikutinya. Saat melesat di atas langit, dia sempat melihat Ichiru berbaring di atas rerumputan hijau belakang sekolah. Tepat di bawahnya. Hatinya kesal mendapati Ichiru yang bersikap seenaknya. Tak peduli pada tugasnya.

Sejauh 20 kilometer, Kenji terbang. Angin menerpa wajahnya kasar. Dia terbang dengan kecepatan tinggi. Jigoku-Chou, berhenti di tempat proyek pembangunan sebuah apartemen dekat pusat kota. Tiang-tiang besi membentuk kerangkanya. Hanya itu yang baru terpasang. Pembangunannya baru dimulai satu bulan yang lalu.

Kenji mendarat di atas tiang listrik depan proyek itu. Sayap hitamnya menelungkup. “Jadi, di sini?” gumamnya. “Sepertinya kali ini korbannya roh yang masih segar.”

Kenji mengedarkan pandangannya ke setiap sisi tempat itu. Chou miliknya terbang mengitari tiang-tiang besi penyangga gedung apartemen yang sedang dibangun. Sampailah chou didekat seorang pria paruh baya dengan alat las di tangannya. Helm kuning melekat erat di kepalanya. Sesekali pria itu menyeka keringat yang mengucur di dahinya.

Di samping pria itu berdiri sesosok makhluk yang mirip seperti Kenji. Bersayap hitam. Berambut hitam. Jubah hitam panjang menutupi tubuhnya. Tangan kanannya tertutupi sarung tangan hitam. Sementara itu, dipinggang kanannya melekat sebilah pedang samurai, zanpakutou. Kenji mengernyit mendapati sosok makhluk itu. Dia mengenalnya. Shinigami dari tengoku.

Brak. Daam. Bunyi sesuatu menghantam tanah dengan keras terdengar. Pria tadi. Tubuhnya sudah terkapar di atas tanah. Bersimbah darah. Orang-orang mengeruminya. Panik. Pekerjaan dihentikan. Kenji mengalihkan pandangannya ke kerumunan orang itu. Tepatnya ke sosok pria paruh baya tadi. Dia berdiri di dekat tubuhnya. Wajahnya pucat. Di dadanya terpasang rantai panjang yang mengikat dengan tubuhnya. Itu rantai takdir, Inga na Kusari. Malaikat kematian belum memotongnya. Roh itu masih segar. Kenji tersenyum tipis. “Permainan dimulai!”

Ssssstt. Kenji melesat cepat mendekati pria paruh baya itu. Dari arah lain, sesosok makhluk bersayap hitam ikut melesat. Mereka berhenti bersamaan di hadapan pria baruh baya tadi. Sang pria menatap takut-takut pada kedua makhluk dihadapannya.
“Oh, ternyata kau, Kenji. Sudah lama kita tidak bertemu,” ujar makhluk serba hitam di depan Kenji. Dia tersenyum tipis.

“Hahaha.” Kenji meledakkan tawanya. “Kau sendirian saja Kirishima? Dimana teman-temanmu?” tanya Kenji sinis. Dia memandang tak suka sosok di depannya. Kirishima Serizawa, malaikat maut atau yang biasa disebut shinigami. Dia pernah menjadi rekan Kenji. Tapi sekarang mereka harus berhadapan sebagai musuh. Visi mereka berbeda. Kirishima mencabut nyawa seseorang. Sedangkan, Kenji mengambil kristal kehidupan atau  yang dapat membuat arwah itu lenyap.

“Apa yang kau lakukan SENPAI ?” Kirishima sengaja memberi penekanan pada sebutannya untuk Kenji. Untuk mengejeknya.

“Mencari mangsa!” jawab Kenji singkat. Mata hitamnya melirik sosok arwah di sampingnya. Arwah itu ketakutan.

“Ka-kalian siapa? Mau apa?” ucap pria paruh baya di dekat Kenji. Perlahan pria itu berjalan mundur menjauhi dua makhluk di dekatnya.

“Kau sudah mati Pak Tua! Buat apa ketakutan seperti itu?” kata Kenji ketus.

“Itu kan kata-kata yang harusnya aku ucapkan, Senior. Kau tidak boleh merebut lahan pekerjaanku. Ingat itu, Senior,” sahut Kirishima.

“Kau lamban!” bentak Kenji. Di tangan kanan terpancar cahaya panjang berwarna merah. Mirip sebilah pedang api. Itu faiareddo miliknya. Kenji menyambarkan pedang cahayanya ke pria tua di dekatnya.

Prang. Faiareddo-nya berbenturan dengan zenpakutou Kirishima. Kenji mundur mengepakkan sayap hitamnya. Melayang di udara. Kirishima berdiri di depan pria tua itu. Melindunginya. “Jangan mengganggu pekerjaanku!” teriak Kenji.

“Kau yang mengganggu pekerjaanku!” bentak Kirishima. Tak kalah sengit. Tubuhnya melayang ke atas. Sejajar dengan Kenji. “Aku tak ingin melawanmu. Tapi, aku tak punya pilihan. Maaf, Senior.” Kirishima meluncur kearah Kenji. Seperti sebuah peluru. Syuut. Prang. Suara benturan kedua pedang yang berbeda kembali terdengar. Kedua pemegang pedang itu tak mau mengalah. Keduanya saling mendorongkan pedangnya kearah lawan masing-masing.

“Sepertinya kau semakin kuat!” ujar Kenji. Tersenyum kecut.

Kirishima terkekeh pelan. “Senior terlalu memuji. Kau yang memang sekarang terlihat lemah!” katanya ketus. Kenji makin geram. Dia memukulkan tangan kirinya yang bebas ke perut Kirishima. “Shakkahou,” teriak Kenji. Syuut. Duaar. Cahaya merah keluar dari tangan kiri Kenji. Meledak saat mengenai badan Kirishima. Beruntunglah dia masih sempat menghindar. Hanya jubah hitamnya yang robek. “Sial!” gumam Kirishima.

Kenji tertawa puas. “Kau lengah!” Matanya bergerak kearah bawah. “Pria tua itu menghilang!” Kenji memfokuskan pandangannya pada rantai yang melekat pada tubuh pria itu. Inga no kusari itu masih terhubung dengan rohnya. Kenji mengikuti rantai itu. Menemukan dimana ujungnya berakhir. Dua meter dari jasad pria itu. Arwahnya tengah bersembunyi di antara gang buntu. “Kena!” Kenji menarik paksa rantai itu. Membuat arwah pria tadi tersentak. Terlempar keluar dari persembunyiannya. “Mau kemana kau Pria Tua! Kau tak akan bisa lari!” Kenji berjalan mendekat. Sssst. Sebuah bola cahaya biru besar melesat kearah Kenji. Dia menangkis shoukatsui itu dengan tangan kanannya. Tanpa melihat arah datangnya bola cahaya itu. Duaar. Tembok pembatas jalan di sebelah kanannya hancur terkena shoukatsui. Aksi Kenji masih berlanjut. Faiareddo kembali muncul di tangan kanannya. Dengan gerakan cepat. Bless. Pedang itu tertancap di dada pria tua tadi. Tangan kiri Kenji menarik paksa ujung rantai yang melekat di dadanya.

“Aaaargh.” Pria itu mengerang keras. Sebuah Kristal kuning keluar dari tubuhnya. Tubuh pria itu perlahan lenyap seperti asap. Kenji menangkap Kristal itu dengan tangan kirinya. “Hanya Kristal biasa,” gumamnya. Dia membalikkan tubuhnya. Menatap Kirishima yang tercengang melihat aksinya. Kirishima terlambat mencegahnya.

“Baik. Sampai di sini saja Kirishima. Lain kali ada baiknya kau membawa teman,” ucap Kenji. Senyum kepuasan terkembang di bibirnya. Kirishima diam. Tak berdaya. Dia terlambat. Dia telah kalah. Tak lama, sayap hitam Kenji mengembang. Lalu menuntupi seluruh tubuh depannya. Seketika sosoknya lenyap. Meninggalkan beberapa helai bulu hitam yang melayang di udara.

Dark Butterfly #1

Part 1 _ Pertemuan Yang Menjadi Awal

“Hey mau kemana kau?” Seorang pemuda tengah mengejar kupu-kupu hitam yang terbang dengan cepat. Pemuda itu mengenakan jaket hitam dengan padanan celana panjang hitam. Rambutnya pendek berwarna merah darah. Wajah tampannya sesekali terlihat terkena cahaya rembulan. Malam ini bulan purnama penuh. Pemuda itu bergerak cepat melompat dari atap rumah yang satu ke atap rumah yang lain. Pandangan matanya terus terfokus pada kupu-kupu hitam di depannya.

“Bekerjalah dengan benar Kenji!” Pemuda berjubah hitam panjang melesat melewati pemuda berjaket hitam. Rambut panjang keemasannya terurai melambai-lambai saat dia bergerak. Wajah pemuda ini tak kalah tampannya dengan wajah pemuda pertama. Tiba-tiba pemuda kedua berhenti tepat di atas atap rumah. Cahaya rembulan menyinarinya membuat rambut keemasannya tampak indah.

“Kenapa kau suka sekali berhenti tiba-tiba seperti itu Ichiru?” gumam Kenji kesal. Dia hampir saja terjatuh karena harus berhenti mendadak. Kenji berdiri di samping Ichiru.

“Lihatlah itu!” Telunjuk tangan kanan Ichiru menunjuk ke bawah. Kupu-kupu hitam yang dikejar mereka terbang berputar-putar di atas kepala seorang gadis yang sedang berjalan sendirian. Seragam sekolah masih melekat di tubuhnya. Rambut hitamnya terurai sebahu. Gadis itu tampak lesu. Tak bersemangat. Dengan lemah dia berjalan.

“Apa yang akan dilakukannya?” tanya Kenji. Ichiru mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu. “Ah, aku lelah,” keluh Kenji. Kenji menghempaskan pantatnya di atap rumah tempatnya berdiri. Kedua kakinya di lipat, duduk bersila. Ichiru masih tetap mengawasi gadis itu.

Gadis itu berjalan tak menentu sampai ke tengah jalan. Langkah kakinya berhenti. Gadis itu berdiri di tengah jalan. Diam. Tanpa diduga sebuah truk melaju dengan cepat dari arah belakang gadis itu.
“Sial, dia mau mengakhiri hidupnya!” gumam Ichiru. Dia melesat turun dengan cepat menyambar tubuh gadis yang diawasinya tadi. “Kau sudah gila!” bentak Ichiru pada gadis itu. Kini mereka berdiri berhadapan. Gadis itu menunduk. “Tak usah dengan cara seperti itu kau pun nantinya akan mati!” omel Ichiru lagi. Matanya tajam menatap gadis itu. Hampir saja dia mengacaukan pekerjaanku, batin Ichiru. Untung saja masih sempat terselamatkan. “GADIS BODOH!”

“Apa?” Gadis itu mendongak.

Ichiru tak menghiraukan ucapan gadis itu. Dia langsung membalikkan tubuhnya berjalan menjauhi gadis itu.

“HEY AKU BELUM SELESAI BICARA DENGANMU!” teriak gadis itu. Ichiru tak menggubrisnya. Gadis itu berlari cepat mengejar Ichiru. Dia lalu mendahuluinya dan berdiri di depan Ichiru. “Kau tuli ya!” ejek gadis itu menantang Ichiru.

Ichiru melotot marah. “Apa maumu gadis bodoh?” tanya Ichiru ketus.

“Kau harus tanggung jawab!” ucap gadis itu spontan. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Dia terlihat kesal.

“…..” Ichiru tak menjawab. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya.

“Kau sudah mencegahku untuk mati. Kau harus tanggung jawab,” jelas gadis itu.

Ichiru berjalan mendekat pada gadis itu. Melihat itu gadis berambut sebahu itu berjalan mundur. Menjaga jarak dengan Ichiru. Ichiru menatap tajam gadis itu. Tatapan dingin. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Membuat nyali gadis itu perlahan menyurut. “A-apa maumu?” tanya gadis itu terbata. Raut wajahnya berubah takut.

“Kau menyuruhku tanggung jawab bukan?” Ichiru tersenyum sinis. Dia terus berjalan mendekati gadis itu. Tanpa disadarinya gadis itu sudah tersudut di gang buntu. Gadis itu tak dapat kemana-mana lagi. Dia benar-benar tersudut sekarang. Ichiru masih mendekatinya. Tangan kanan Ichiru menggapai pipi kiri gadis itu. “Kau mau apa?” dengan sisa keberaniannya gadis itu kembali bertanya.

Ichiru lagi-lagi tak menjawab. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Makin dekat dan dekat sampai gadis itu mampu merasakan napas Ichiru. Dengan takut-takut gadis itu memejamkan matanya. Ichiru tersenyum tipis. “Dasar gadis bodoh!” bisik Ichiru di telinga gadis itu. Lama gadis itu memejamkan matanya. Tapi tak ada perlakuan apapun terhadapnya. Perlahan gadis itu membuka matanya. Dilihatnya Ichiru sudah tak ada di depannya. Dia menghilang. Gadis itu menoleh kesana kemari tapi tak ditemukannya sosok pemuda berambut emas itu. dia sudah menghilang.
****

“Kau itu bodoh! Kenapa berinteraksi dengan calon buruanmu?” Kenji masih mengomel memarahi Ichiru.

“Berisik!” ucap Ichiru ketus. Dia berjalan melawati Kenji begitu saja. Kenji makin kesal dengan sikap dingin Ichiru itu. Ichiru terus berjalan memasuki sebuah rumah besar bergaya Eropa. Sebuah rumah kuno yang mewah di tengah hutan. Kenji mengikutinya.

“Kau benar-benar menyebalkan Ichiru!” ujar Kenji masih kesal. “Kau juga menyebalkan cho!” Kenji menoleh ke samping. Menatap kesal kupu-kupu hitam yang terbang dengan pelan di sampingnya. Binatang cantik itu kini menjadi pelampiasan kekesalan Kenji.

“Apa kau tidak bisa diam? Jika onisan mendengar kau bisa habis!” kata Ichiru datar mengingatkan Kenji untuk berhati-hati dengan ucapannya. Mereka sudah berada dalam rumah besar itu. Mereka menaiki tangga bersamaan.

“Bagaimana kerja kalian hari ini?” sebuah suara bass selembut beledu menyapa mereka. Pandangan Ichiru dan Kenji langsung tertuju pada pemilik suara itu. Seorang pemuda berkaca mata dengan setelan jas hitamnya berdiri bersandar di dinding dekat tangga. Rambutnya pendek berwarna hitamnya sesekali bergerak-gerak tertiup angin yang menerobos dari jendela rumah itu yang terbuka.

“Buruk Onisan, Ichiru bermain-main dengan calon buruannya,” adu Kenji pada pemuda itu. Ichiru malah memalingkan mukanya.

“Aku lelah!” kata Ichiru. Dia berjalan menuju kamarnya. Pemuda yang menyapa Ichiru dan Kenji hanya mampu menggelengkan kepala. Memang seperti itulah adiknya.
*****

Ichiru menghempaskan badannya di atas tempat tidur empuknya. Tangan kirinya menggapai sebuah bingkai foto di meja dekat tempat tidurnya. Dipandanginya foto itu lekat. Terlihat seorang pemuda berambut emas dengan sayap hitam di punggungnya sedang memeluk seorang gadis berambut panjang yang tengah tersenyum ceria. Tatapan dingin Ichiru berubah teduh. “Hikari,” gumam Ichiru. Matanya terpejam. Dipeluknya bingkai foto itu. Angannya melayang jauh meninggalkan jiwanya.

“Lihat ini Ichiru. Indah bukan?”

“Ichiru tunggu! Hikari takut. Jangan tinggalkan Hikari!”

“PERGI! Hikari tidak mau bertemu Ichiru! Hikari benci Ichiru!”

Bayangan gadis dalam foto itu terlintas dalam benak Ichiru. Suara-suaranya bahkan seperti terdengar jelas di telinganya. “Maafkan aku Hikari.”
****

Dark Butterfly #Prolog

DARK BUTTERFLY

Writer : Vievie Dwi
Genre : Fantasy, romance, action

Prolog

Tak ada yang tahu…
Tak ada yang menginginkan menjadi seperti ini…
Hidup dengan mengepakan sayap hitam
Merenggut setiap kristal-kristal kehidupan dari roh-roh yang tersesat
Dari setiap arwah-arwah yang baru terlahir
Hanya untuk mencari kemurnian
Demi menghidupkan Sang Kupu-kupu hitam tertinggi

“Kau takkan bisa lari lagi!” Seorang pemuda berambut hitam pendek menyeringai. Matanya masih terlihat tajam dbalik kacamata beningnya. Buruannya, pria berkemeja biru takut-takut menatap pemuda itu.

“Tolong, jangan musnahkan aku. Aku masih ingin di sini,” ucap pria itu memohon.

“Ini bukan tempatmu!” Pemuda itu mengangkat tangan kanannya ke depan. Cahaya hitam muncul dari tangannya. Cahaya itu membentuk sebilah pisau. “Ucapkan selamat tinggal pada dunia!” Pemuda itu melesat cepat. Menancapkan cahaya hitam di tangannya ke dada buruannya.

“Aaaarrhhg.” Teriakan keras menggema. Tangan kiri pemuda berjubah hitam itu menarik rantai yang melekat pada dada pria buruannya. Sssseesstt. Rantai itu terlepas. Cahaya kebiruan terpancar. Kristal berwarna biru keluar dari tubuh pria itu. Tubuh pria itu pun memuai bagai kabut. Perlahan menghilang lenyap. “Sial!”