Part 1 _ Pertemuan Yang Menjadi Awal
“Hey mau kemana kau?” Seorang pemuda tengah mengejar kupu-kupu hitam yang terbang dengan cepat. Pemuda itu mengenakan jaket hitam dengan padanan celana panjang hitam. Rambutnya pendek berwarna merah darah. Wajah tampannya sesekali terlihat terkena cahaya rembulan. Malam ini bulan purnama penuh. Pemuda itu bergerak cepat melompat dari atap rumah yang satu ke atap rumah yang lain. Pandangan matanya terus terfokus pada kupu-kupu hitam di depannya.
“Bekerjalah dengan benar Kenji!” Pemuda berjubah hitam panjang melesat melewati pemuda berjaket hitam. Rambut panjang keemasannya terurai melambai-lambai saat dia bergerak. Wajah pemuda ini tak kalah tampannya dengan wajah pemuda pertama. Tiba-tiba pemuda kedua berhenti tepat di atas atap rumah. Cahaya rembulan menyinarinya membuat rambut keemasannya tampak indah.
“Kenapa kau suka sekali berhenti tiba-tiba seperti itu Ichiru?” gumam Kenji kesal. Dia hampir saja terjatuh karena harus berhenti mendadak. Kenji berdiri di samping Ichiru.
“Lihatlah itu!” Telunjuk tangan kanan Ichiru menunjuk ke bawah. Kupu-kupu hitam yang dikejar mereka terbang berputar-putar di atas kepala seorang gadis yang sedang berjalan sendirian. Seragam sekolah masih melekat di tubuhnya. Rambut hitamnya terurai sebahu. Gadis itu tampak lesu. Tak bersemangat. Dengan lemah dia berjalan.
“Apa yang akan dilakukannya?” tanya Kenji. Ichiru mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu. “Ah, aku lelah,” keluh Kenji. Kenji menghempaskan pantatnya di atap rumah tempatnya berdiri. Kedua kakinya di lipat, duduk bersila. Ichiru masih tetap mengawasi gadis itu.
Gadis itu berjalan tak menentu sampai ke tengah jalan. Langkah kakinya berhenti. Gadis itu berdiri di tengah jalan. Diam. Tanpa diduga sebuah truk melaju dengan cepat dari arah belakang gadis itu.
“Sial, dia mau mengakhiri hidupnya!” gumam Ichiru. Dia melesat turun dengan cepat menyambar tubuh gadis yang diawasinya tadi. “Kau sudah gila!” bentak Ichiru pada gadis itu. Kini mereka berdiri berhadapan. Gadis itu menunduk. “Tak usah dengan cara seperti itu kau pun nantinya akan mati!” omel Ichiru lagi. Matanya tajam menatap gadis itu. Hampir saja dia mengacaukan pekerjaanku, batin Ichiru. Untung saja masih sempat terselamatkan. “GADIS BODOH!”
“Apa?” Gadis itu mendongak.
Ichiru tak menghiraukan ucapan gadis itu. Dia langsung membalikkan tubuhnya berjalan menjauhi gadis itu.
“HEY AKU BELUM SELESAI BICARA DENGANMU!” teriak gadis itu. Ichiru tak menggubrisnya. Gadis itu berlari cepat mengejar Ichiru. Dia lalu mendahuluinya dan berdiri di depan Ichiru. “Kau tuli ya!” ejek gadis itu menantang Ichiru.
Ichiru melotot marah. “Apa maumu gadis bodoh?” tanya Ichiru ketus.
“Kau harus tanggung jawab!” ucap gadis itu spontan. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Dia terlihat kesal.
“…..” Ichiru tak menjawab. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya.
“Kau sudah mencegahku untuk mati. Kau harus tanggung jawab,” jelas gadis itu.
Ichiru berjalan mendekat pada gadis itu. Melihat itu gadis berambut sebahu itu berjalan mundur. Menjaga jarak dengan Ichiru. Ichiru menatap tajam gadis itu. Tatapan dingin. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Membuat nyali gadis itu perlahan menyurut. “A-apa maumu?” tanya gadis itu terbata. Raut wajahnya berubah takut.
“Kau menyuruhku tanggung jawab bukan?” Ichiru tersenyum sinis. Dia terus berjalan mendekati gadis itu. Tanpa disadarinya gadis itu sudah tersudut di gang buntu. Gadis itu tak dapat kemana-mana lagi. Dia benar-benar tersudut sekarang. Ichiru masih mendekatinya. Tangan kanan Ichiru menggapai pipi kiri gadis itu. “Kau mau apa?” dengan sisa keberaniannya gadis itu kembali bertanya.
Ichiru lagi-lagi tak menjawab. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Makin dekat dan dekat sampai gadis itu mampu merasakan napas Ichiru. Dengan takut-takut gadis itu memejamkan matanya. Ichiru tersenyum tipis. “Dasar gadis bodoh!” bisik Ichiru di telinga gadis itu. Lama gadis itu memejamkan matanya. Tapi tak ada perlakuan apapun terhadapnya. Perlahan gadis itu membuka matanya. Dilihatnya Ichiru sudah tak ada di depannya. Dia menghilang. Gadis itu menoleh kesana kemari tapi tak ditemukannya sosok pemuda berambut emas itu. dia sudah menghilang.
****
“Kau itu bodoh! Kenapa berinteraksi dengan calon buruanmu?” Kenji masih mengomel memarahi Ichiru.
“Berisik!” ucap Ichiru ketus. Dia berjalan melawati Kenji begitu saja. Kenji makin kesal dengan sikap dingin Ichiru itu. Ichiru terus berjalan memasuki sebuah rumah besar bergaya Eropa. Sebuah rumah kuno yang mewah di tengah hutan. Kenji mengikutinya.
“Kau benar-benar menyebalkan Ichiru!” ujar Kenji masih kesal. “Kau juga menyebalkan cho!” Kenji menoleh ke samping. Menatap kesal kupu-kupu hitam yang terbang dengan pelan di sampingnya. Binatang cantik itu kini menjadi pelampiasan kekesalan Kenji.
“Apa kau tidak bisa diam? Jika onisan mendengar kau bisa habis!” kata Ichiru datar mengingatkan Kenji untuk berhati-hati dengan ucapannya. Mereka sudah berada dalam rumah besar itu. Mereka menaiki tangga bersamaan.
“Bagaimana kerja kalian hari ini?” sebuah suara bass selembut beledu menyapa mereka. Pandangan Ichiru dan Kenji langsung tertuju pada pemilik suara itu. Seorang pemuda berkaca mata dengan setelan jas hitamnya berdiri bersandar di dinding dekat tangga. Rambutnya pendek berwarna hitamnya sesekali bergerak-gerak tertiup angin yang menerobos dari jendela rumah itu yang terbuka.
“Buruk Onisan, Ichiru bermain-main dengan calon buruannya,” adu Kenji pada pemuda itu. Ichiru malah memalingkan mukanya.
“Aku lelah!” kata Ichiru. Dia berjalan menuju kamarnya. Pemuda yang menyapa Ichiru dan Kenji hanya mampu menggelengkan kepala. Memang seperti itulah adiknya.
*****
Ichiru menghempaskan badannya di atas tempat tidur empuknya. Tangan kirinya menggapai sebuah bingkai foto di meja dekat tempat tidurnya. Dipandanginya foto itu lekat. Terlihat seorang pemuda berambut emas dengan sayap hitam di punggungnya sedang memeluk seorang gadis berambut panjang yang tengah tersenyum ceria. Tatapan dingin Ichiru berubah teduh. “Hikari,” gumam Ichiru. Matanya terpejam. Dipeluknya bingkai foto itu. Angannya melayang jauh meninggalkan jiwanya.
“Lihat ini Ichiru. Indah bukan?”
“Ichiru tunggu! Hikari takut. Jangan tinggalkan Hikari!”
“PERGI! Hikari tidak mau bertemu Ichiru! Hikari benci Ichiru!”
Bayangan gadis dalam foto itu terlintas dalam benak Ichiru. Suara-suaranya bahkan seperti terdengar jelas di telinganya. “Maafkan aku Hikari.”
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar