Jumat, 09 Maret 2012

Tips menulis Novel

TIPS MENULIS NOVEL FIKSI REMAJA
Novel fiksi remaja bukanlah jenis novel yang  sulit untuk dibuat, jika Anda mengetahui triknya.
Namun, tanpa bimbingan dan arahan, membuat novel fiksi remaja memang akan menjadi sulit.
Ada banyak cara untuk menulis sebuah novel fiksi remaja, tetapi ada kunci utama yang harus dikuasai agar sukses dalam membuatnya.
Berikut adalah beberapa tips penting yang harus Anda ketahui ketika akan menulis sebuah novel fiksi remaja:
1. Pilihlah topik yang disukai oleh remaja.
Topik seperti politik, pemerintahan, dan memasak mungkin bukanlah topik terbaik yang bisa membuat remaja tertarik.
Topik seperti cerita hantu, misteri pembunuhan, dan cerita tentang olahraga merupakan contoh topik yang diminati sebagian besar remaja.
2. Tulislah cerita dalam paragraf pendek.
Menggunakan paragraf yang pendek-pendek akan membantu menjaga perhatian audiens remaja.
Paragraf yang panjang akan membuat remaja enggan membaca novel Anda. Menulis dengan cara ini juga akan memungkinkan Anda untuk menggunakan lebih banyak ruang dengan kata-kata yang lebih sedikit.
3. Jelaskan karakter yang Anda buat dengan sangat detail.
Anda harus menjelaskan karakter yang digunakan dalam novel dengan sangat detail.
Pembaca remaja akan menjadi sangat tertarik dengan novel Anda jika mereka dapat memvisualisasikan tentang siapa yang sedang mereka baca.
4. Masukkan bahasa atau istilah prokem remaja yang sedang populer.
Pastikan Anda memahami konteks dan penggunaan istilah-istilah prokem tersebut sebelum menggunakannya dalam novel.
Salah satu cara terbaik adalah berbicara dengan remaja-remaja di sekitar tempat tinggal Anda atau mengunjungi SMP atau SMU terdekat, sehingga bisa sepenuhnya memahami bagaimana remaja berbicara dan bergaul dengan teman-temannya.
5. Tunjukkan perilaku atau etika yang baik.
Jika salah satu karakter Anda melanggar hukum atau berperilaku buruk, pastikan mereka tertangkap atau dihukum.
Ini akan menunjukkan kepada orangtua bahwa Anda tidak membenarkan perilaku tersebut, dan untuk para pembaca remaja Anda, Anda memberi pesan bahwa perilaku atau kebiasaan buruk pada akhirnya akan mendapatkan hukuman.

TIPS MENULIS NOVEL REMAJA

Menulis novel untuk remaja merupakan tantangan sekaligus dapat berkontribusi untuk memberi manfaat.
Novel remaja juga bisa dikategorikan sebagai novel dewasa muda. Seperti mengerjakan jenis novel  lain, menulis novel remaja harus dilakukan dengan penuh dedikasi.
Sangat penting menciptakan karakter yang berhubungan dengan remaja sekaligus membuat sebuah alur yang bisa membuat mereka tertarik.
Berikut tips sukses dalam menulis sebuah novel untuk remaja:
1. Kenali audiens
Anda menulis untuk orang-orang dengan rentang usia 13-18 tahun. Ini merupakan rentang usia yang lebar, sehingga perlu lebih disempitkan lagi.
Remaja yang berusia dekat dengan usia 13 akan memiliki ketertarikan atau minat yang berbeda dengan remaja yang berusia lebih tua.
Tetapkan target pembaca pada usia berapa sebelum mulai menulis. Kemudian, mulailah menulis cerita seolah sedang mambacakan cerita dan biarkan mengalir secara alami.
Hindari gaya penulisan seperti berpidato. Jika cerita memiliki tema atau pesan, biarkan keluar secara alami dalam cerita.
2. Memilih genre
Novel remaja bisa ditulis sebagai fiksi komedi, cerita misteri, thriller, roman, paranormal, atau fiksi ilmiah. Pilihlah salah satu atau dua genre untuk cerita dalam novel Anda.
Sebagian besar orang memilih buku dengan genre yang mereka suka. Seseorang yang suka cerita komedi dan kisah percintaan, tidak mungkin mau membaca novel fiksi ilmiah.
3. Membangun karakter
Bangun karakter utama yang bisa diidentifikasi oleh remaja. Sebaiknya karakter tersebut berusia sama dengan remaja sendiri untuk menjaga minat mereka, daripada karakter yang terlalu tua atau terlalu muda.
Karakter yang Anda buat harus tumbuh secara emosional, dan mungkin akan berubah seiring berjalannya cerita karena mendapatkan pengalaman baru. Karakter harus memiliki tujuan dan motivasi untuk mencapai tujuan tersebut.
Buatlah konflik yang mencegah karakter mendapatkan tujuannya, sehingga Anda akan memiliki awal cerita yang baik dan menarik.
4. Membuat plot cerita
Buatlah garis besar novel Anda. Ide akan memudar, apalagi bila menunggu terlalu lama untuk munculnya ide lain.  Apa yang pernah Anda pikirkan begitu bagus bisa menghilang dalam sekejap jika garis besar novel tidak segera dibuat.
Biasakan untuk membawa laptop atau buku catatan setiap saat. Segera tulis ide-ide yang baru datang.
5. Banyak membaca
Anda tidak dapat menulis dalam ruang hampa. Bacalah novel remaja dan dewasa muda sebanyak mungkin. Pergilah ke toko buku terdekat untuk melihat jenis novel remaja apa yang dijual.
Dengan membaca novel remaja populer, Anda akan mendapatkan gagasan tentang bagaimana menulisnya.
6. Bergabung di kelompok penulis
Anda bisa bergabung dengan kelompok penulis, sehingga penulis lain dapat memberikan umpan balik pada novel Anda dan mungkin akan menangkap inkonsistensi dalam cerita, kesalahan mengetik, atau kesalahan tata bahasa.
Kelompok ini akan menjadi tempat belajar untuk terus memperbaiki karya-karya berikutnya.[]

sumber:

TIPS MENGIRIM NASKAH

Apa sih yang harus disiapkan pertama kali sebelum mengirimkan naskah?

Yang harus diperhatikan pertama kali tentu saja naskah tersebut. Apakah naskah yang kita tulis sudah sesuai persyaratkan yang diminta oleh penerbit tersebut? Panjang halamannya sudah mencukupi batas minimal? Aturan penulisannya sudah disesuaikan? Biasanya, setiap penerbit memiliki aturan tersendiri. Satu sama lain bisa memiliki persyaratan dan aturan yang sama, bisa pula berbeda.

Adapun standar umum penulisan naskah fiksi (apalagi fiksi remaja) yang banyak berlaku di penerbit adalah sebagai berikut :
Panjang halaman : 100 - 150 halaman 
Ukuran kertas : A4

Jenis huruf (font) : Times New Roman
Ukuran huruf : 12 pt
Spasi : 1,5
Margin : Menyesuaikan dengan default (tidak perlu diganti)

Meskipun demikian, ada pula penerbit yang memberlakukan aturan sedikit berbeda. Misalnya di penerbit gagasmedia. Berdasarkan informasi yang ada di websitenya, panjang halaman minimal yang disyaratkan adalah 75 halaman A4, tetapi dengan spasi 1 (satu). Sebenarnya, kalau dikonversi ke spasi 1,5, jumlah halaman akhirnya tidak akan jauh berbeda. Hanya saja, kalau kita akan mengirimkan naskah ke sana, tentu kita harus mengikuti aturan main mereka, bukan?

Setelah itu, apa yang harus kita perhatikan?

Kerapian naskah! Sudahkah kita membaca dan mengecek ulang naskah yang kita tulis? Masih adakah typo (kesalahan ketik) di sana-sini? Apakah tanda baca yang kita gunakan sudah tepat? Apakah masih ada kata-kata yang ditulis berupa singkatan karena keasyikan menulis dan tidak menyadarinya (seperti kata yg, sdg, kmrn, dll)? Bahasa alay? Ckckck. Ayo editlah segera. Jadilah editor buat naskah kita sendiri agar naskahnya terlihat lebih rapi untuk dibaca.

Saya sering mendengar dan membaca komentar para editor seperti ini ; "kalau penulisnya saja tidak peduli terhadap naskahnya, kenapa kami juga harus peduli?" Itu adalah tanda-tanda tidak bagus untuk review naskah kita. Jangan salahkan mereka kalau mereka menolak menerbitkan naskah kita karena sudah enggan membacanya dari awal.

Naskah sudah rapi, apa lagi yang harus dilengkapi?

Ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan untuk melengkapi naskah.
Jangan lupa untuk membubuhi nomor halaman! Hal yang sepele tapi masih saja ada yang melupakan atau mengabaikannya. Bagaimana editor bisa tahu naskah kita ada berapa lembar kalau tidak ada nomor halamannya? Dihitung satu-satu? Plis deh!
Sinopsis - Pertama kali membuka naskah, biasanya yang akan dibaca oleh editor adalah sinopsisnya terlebih dahulu. Apakah ceritanya unik dan tidak biasa? Buatlah sinopsis singkat (maksimal 1 halaman) yang menguraikan alur cerita dari naskah kita. Buat secara menarik agar editor tertarik membaca naskah kita selengkapnya. Oya, sinopsis ini LENGKAP menggambarkan ceritanya dari awal sampai ending ya. Jangan buat sinopsis menggantung seperti di back cover novel-novel yang sudah jadi, seperti; "Bagaimana akhir kisah ini? Temukan sendiri di dalam novelnya." 
Biodata Penulis - Tuliskan data kita selengkap-lengkapnya. Nama asli, Nama pena (kalau ada), Alamat rumah, E-mail, No. Telp/handphone, Nomor rekening Bank, dan prestasi penulisan kalau ada (bisa berupa pengalaman menang lomba nulis, buku yang sudah diterbitkan, karya yang dimuat di media, dan lain-lain). Data yang lengkap akan memudahkan penerbit untuk menghubungi apabila ada informasi yang berhubungan dengan naskah kita.
Profil Penulis - Tidak ada salahnya kita sudah membuat profil penulis berupa deskripsi untuk diletakan di bagian dalam belakang buku. Tulis dalam bentuk deskripsi singkat (contohnya pasti sudah pada tahu, kan? Bisa dibaca di setiap buku kok). Apabila naskah ini lolos diterbitkan, kita tidak perlu repot menuliskannya lagi, bukan?
Surat Pernyataan Keaslian Naskah - Kalau anda masih kebingungan seperti apa sih surat pernyataan ini? Tidak perlu bingung. Surat pernyataan ini tidak perlu memiliki form khusus, dan kita bisa membuatnya sendiri. Asal di dalam surat pernyataan tersebut tercantum bahwa naskah tersebut adalah asli karya kita, dan tidak melanggar hak cipta, itu sudah cukup kok. Jangan lupa tempelkan meterai Rp.6.000,- pada kolom tanda tangan.
Surat Pengantar - Ibaratnya kita bertamu ke rumah orang, sopan santun tetap dibutuhkan. Apalagi kalau kita baru pertama kali menawarkan naskah ke penerbit yang bersangkutan. Surat pengantar ibarat mengenalkan diri kita sebagai penulis kepada penerbit. Lagipula, kalau kita bisa menulis naskah beratus halaman, masa menulis surat pengantar setengah halaman saja tidak bisa?
Daftar Isi - Ini adalah bagian yang tidak boleh terlewatkan. Susun daftar isi mulai dari surat pengantar, sinopsis, biodata penulis, surat pernyataan keaslian naskah, Judul-judul bab, sampai ke profil penulis.
Ah, jangan lupa, buatlah sampul naskah agar naskah kita lebih terlihat menarik. Biasanya halaman pertama dari naskah selalu saya buatkan sampul. Saya tuliskan judul naskah saya besar-besar. Di bawah judul saya tampilkan gambar/ilustrasi yang kira-kira sesuai dengan isi cerita. Gambar itu biasanya saya browsing dari internet. Di bawah gambar kemudian saya tuliskan nama, alamat, email, dan nomor telepon. 
Print out, lalu jilid! Agar lebih kuat, halaman sampul dicetak/copy di atas kertas tebal. Kalau perlu, tambahkan lapisan plastik di luarnya. Tampilan yang menarik tentu akan lebih enak dipandang. Siapa tahu menarik editor juga agar penasaran membaca isinya.
Jilid? Kenapa harus dijilid? Bukannya naskah bisa dikirim via email?

Tidak semua penerbit menerima kiriman naskah via email, teman. Masih banyak penerbit yang hanya menerima kiriman naskah hardcopy. Setidaknya, itulah yang selalu saya lakukan ketika bekerjasama dengan penerbit Mizan, Gramedia Pustaka Utama, dan Gagasmedia (yang sudah bekerjasama selama ini). Sampai saat ini --yang saya tahu-- mereka hanya terima kirim naskah hardcopy. Setelah dinyatakan lolos terbit, baru kita diminta mengirimkan softcopy-nya.

Kalau memang penerbit yang kita tuju menerima kiriman via email, tentu saja kita bisa segera mengirimkan naskah tersebut tanpa perlu print terlebih dahulu. Jangan lupa, surat pernyataan keaslian naskah harus di scan terlebih dahulu agar dapat ikut dilampirkan.


Dimana kita bisa mendapatkan alamat para penerbit?

Di back cover setiap buku biasanya selalu tercantum alamat penerbit. Kita juga bisa cari tahu di website penerbit tersebut (kalau memiliki website). Beberapa alamat website penerbit sudah saya tulis di sidebar sebelah kanan blog ini. Kalau tidak ada, cobalah pergunakan search engine seperti google dan yahoo, untuk mencari alamat penerbitnya.

Agar aman naskah kita kirim pakai apa?

Kalau lokasi penerbit dekat dengan rumah kita, tentu lebih baik mengantarkan langsung naskahnya, agar bisa berkenalan langsung dengan kru penerbitan. Siapa tahu malah bisa diskusi dengan para editor di sana (kalau tidak sibuk). Alternatif lain, tentu saja mengirimkannya melalui pos atau kurir. Pergunakan pos tercatat/kilat khusus kalau menggunakan Pos Indonesia. Simpan resi/bukti pengiriman dari Pos/Kurir. Itu bisa jadi catatan juga kapan kita mengirimkan naskah tersebut, atau untuk melacak apakah naskah kita sudah sampai di alamat yang dituju atau belum.

Kalau naskah kita ditolak dan ingin dikembalikan, jangan lupa selipkan perangko secukupnya (lihat tarif di PT. Pos).

Naskah sudah terkirim. Sekarang kita tinggal menunggu sampai ada kabar mengenai status naskah kita; diterbitkan, atau tidak.Semabari menunggu kabar itu datang, marilah kita menulis lagi.

Semoga postingan ini membantu. :)

Cara Memilih Penerbit

Beberapa tips dalam memilih penerbit:
  1. Kenali penerbit yang dituju, berikut divisi2 mereka, pastikan karya yang kita kirimkan sesuai dengan karakter divisi penerbit tersebut.
  2. Cari data tentang penerbit-penerbit sejenis, semakin banyak, semakin banyak pilihan pula bagi kita.
  3. Kenali produk yang telah mereka luncurkan, sosok bukunya. kenali kemampuan penetrasi pasar (lihat buku-buku yang telah diterbitkan, sudah berapa kali cetak ulang dan sebagainya, ini cuma satu indikasi), kenali profesionalitas mereka, cari info dari yang telah menulis di sana lebih dulu, untuk mengetahui seberapa jauh penerbit tersebut menghargai karya penulis-penulisnya, dan menunaikan hak royalti dengan baik, kenali pula standar royalti di sana.
  4. Kenali keinginan kita tentang buku yang nanti diterbitkan (secara sosok, ukuran, desain dan seterusnya), kombinasikan dengan profesionalitas penerbit tersebut.
  5. Langkah ke 4 perlu untuk membuat rank prioritas 1-10 misalnya, kirimkan naskah kita pertama-tama ke penerbit yang kita anggap paling cocok menerbitkan buku-buku kita.
  6. Kirimkan naskah dalam bentuk disket dan hard copy, juga dalam bentuk email. Kalau kita menginginkan naskah dikembalikan apabila tidak dimuat, kirimkan juga sebuah amplop kosong yang bertuliskan nama kita dan alamat dan sudah dibubuhi perangko, hingga tidak merepotkan penerbit.
  7. Sertakan juga biodata dan kalau ada keterangan tentang karya-karya yang telah dimuat di media mana saja. sertakan sinopsis cerita, sertakan pula karakter tokoh-tokoh dalam cerita, ini akan memudahkan ilustrator nantinya.
  8. Rajinlah mengontak penerbit yang bersangkutan, apakah naskah kita sudah mereka terima, tanyakan pula kira2 berapa lama kita harus menunggu. kalau mereka tidak punya jawaban mungkin kita bisa memberikan alternatif (3 bln? 6 bln? 12 bln? tentu disesuaikan dengan posisi bargaining power kita, kalau baru pertama kali, mungkin jangan langsung 'menggetok' penerbit dengan hanya memberi waktu 3 bulan) untuk diketahui, biasanya penerbit perlu waktu 2-3 bulan untuk menerbitkan sebuah buku.
  9. Meskipun itu buku pertama kita, gak berarti penulis gak berhak untuk memberikan usul2, atau meminta beberapa terms, selama wajar. misal minta dikabari soal ancer2 kaver, minta ngintip duluan soal endorsment atau sinopsis yang mereka buat, tanya apakah boleh memberi alternatif dari kita sendiri? tentu kalau kita yakin, bahwa endorsment dari kita memang lebih baik.
  10. Pintar-pintar menempatkan diri dalam berkomunikasi dengan penerbit. ingat ini kebutuhan simbiosis mutualisme, bukan cuma penerbit yang butuh naskah, tapi pengarang juga butuh diterbitkan.
  11. Kalau memang karya kita sudah dipastikan bisa terbit, biasanya surat perjanjian penerbitan ditandatangani setelah naskah mendekati siap cetak. jadi jangan nguber2 dulu sebelum itu. intinya sebelum buku terbit (siap cetak), harusnya kita sudah menerima spp. pastikan anda membaca secara teliti semua pasal-pasal di surat perjanjian penerbitan tersebut, tanyakan kalau ada yang tidak anda mengerti.
  12. selama naskah dalam proses (setelah anda kirimkan), sebaiknya tidak menyusahkan penerbit dengan mengirimkan naskah yang sama ke penerbit lain, kecuali memang membuat sistem tender. sering kali terjadi penerbit telah selesai edit dan mau masuk ke lay out naskah, mendadak pas dihubungi, penulisnya bilang, akan menarik naskah tsb! ini sangat merugikan. kalau anda ingin menarik naskah, lakukan sedini mungkin, batalkan secepatnya semua proses (lihat dulu udah sejauh apa), jangan sampai baru membatalkan ketika penerbit mengontak anda.
  13. Klau naskah ditolak? jangan nangis dulu:) minta masukan dari mereka, apa kekurangan naskah yang dikirimkan. perbaiki setelah itu kirim ke penerbit number.
2 (Lhat poin 2-5), atau malah kirim lagi ke penerbit pertama. it's ok, kan sudah diperbaiki, siapa tahu perbaikannya cowok. begitu seterusnya. ada kalanya naskah ditolak bukan karena jelek, tapi berbeda jenis atau tidak sesuai tema yang diusung penerbit ybs. jadi jangan lelah kirim lagi, kirim lagi, kirim lagi. ***
*) Tulisan ini diambil dari mailing list Forum Lingkar Pena.