Jumat, 09 Maret 2012

Tips menulis Novel

TIPS MENULIS NOVEL FIKSI REMAJA
Novel fiksi remaja bukanlah jenis novel yang  sulit untuk dibuat, jika Anda mengetahui triknya.
Namun, tanpa bimbingan dan arahan, membuat novel fiksi remaja memang akan menjadi sulit.
Ada banyak cara untuk menulis sebuah novel fiksi remaja, tetapi ada kunci utama yang harus dikuasai agar sukses dalam membuatnya.
Berikut adalah beberapa tips penting yang harus Anda ketahui ketika akan menulis sebuah novel fiksi remaja:
1. Pilihlah topik yang disukai oleh remaja.
Topik seperti politik, pemerintahan, dan memasak mungkin bukanlah topik terbaik yang bisa membuat remaja tertarik.
Topik seperti cerita hantu, misteri pembunuhan, dan cerita tentang olahraga merupakan contoh topik yang diminati sebagian besar remaja.
2. Tulislah cerita dalam paragraf pendek.
Menggunakan paragraf yang pendek-pendek akan membantu menjaga perhatian audiens remaja.
Paragraf yang panjang akan membuat remaja enggan membaca novel Anda. Menulis dengan cara ini juga akan memungkinkan Anda untuk menggunakan lebih banyak ruang dengan kata-kata yang lebih sedikit.
3. Jelaskan karakter yang Anda buat dengan sangat detail.
Anda harus menjelaskan karakter yang digunakan dalam novel dengan sangat detail.
Pembaca remaja akan menjadi sangat tertarik dengan novel Anda jika mereka dapat memvisualisasikan tentang siapa yang sedang mereka baca.
4. Masukkan bahasa atau istilah prokem remaja yang sedang populer.
Pastikan Anda memahami konteks dan penggunaan istilah-istilah prokem tersebut sebelum menggunakannya dalam novel.
Salah satu cara terbaik adalah berbicara dengan remaja-remaja di sekitar tempat tinggal Anda atau mengunjungi SMP atau SMU terdekat, sehingga bisa sepenuhnya memahami bagaimana remaja berbicara dan bergaul dengan teman-temannya.
5. Tunjukkan perilaku atau etika yang baik.
Jika salah satu karakter Anda melanggar hukum atau berperilaku buruk, pastikan mereka tertangkap atau dihukum.
Ini akan menunjukkan kepada orangtua bahwa Anda tidak membenarkan perilaku tersebut, dan untuk para pembaca remaja Anda, Anda memberi pesan bahwa perilaku atau kebiasaan buruk pada akhirnya akan mendapatkan hukuman.

TIPS MENULIS NOVEL REMAJA

Menulis novel untuk remaja merupakan tantangan sekaligus dapat berkontribusi untuk memberi manfaat.
Novel remaja juga bisa dikategorikan sebagai novel dewasa muda. Seperti mengerjakan jenis novel  lain, menulis novel remaja harus dilakukan dengan penuh dedikasi.
Sangat penting menciptakan karakter yang berhubungan dengan remaja sekaligus membuat sebuah alur yang bisa membuat mereka tertarik.
Berikut tips sukses dalam menulis sebuah novel untuk remaja:
1. Kenali audiens
Anda menulis untuk orang-orang dengan rentang usia 13-18 tahun. Ini merupakan rentang usia yang lebar, sehingga perlu lebih disempitkan lagi.
Remaja yang berusia dekat dengan usia 13 akan memiliki ketertarikan atau minat yang berbeda dengan remaja yang berusia lebih tua.
Tetapkan target pembaca pada usia berapa sebelum mulai menulis. Kemudian, mulailah menulis cerita seolah sedang mambacakan cerita dan biarkan mengalir secara alami.
Hindari gaya penulisan seperti berpidato. Jika cerita memiliki tema atau pesan, biarkan keluar secara alami dalam cerita.
2. Memilih genre
Novel remaja bisa ditulis sebagai fiksi komedi, cerita misteri, thriller, roman, paranormal, atau fiksi ilmiah. Pilihlah salah satu atau dua genre untuk cerita dalam novel Anda.
Sebagian besar orang memilih buku dengan genre yang mereka suka. Seseorang yang suka cerita komedi dan kisah percintaan, tidak mungkin mau membaca novel fiksi ilmiah.
3. Membangun karakter
Bangun karakter utama yang bisa diidentifikasi oleh remaja. Sebaiknya karakter tersebut berusia sama dengan remaja sendiri untuk menjaga minat mereka, daripada karakter yang terlalu tua atau terlalu muda.
Karakter yang Anda buat harus tumbuh secara emosional, dan mungkin akan berubah seiring berjalannya cerita karena mendapatkan pengalaman baru. Karakter harus memiliki tujuan dan motivasi untuk mencapai tujuan tersebut.
Buatlah konflik yang mencegah karakter mendapatkan tujuannya, sehingga Anda akan memiliki awal cerita yang baik dan menarik.
4. Membuat plot cerita
Buatlah garis besar novel Anda. Ide akan memudar, apalagi bila menunggu terlalu lama untuk munculnya ide lain.  Apa yang pernah Anda pikirkan begitu bagus bisa menghilang dalam sekejap jika garis besar novel tidak segera dibuat.
Biasakan untuk membawa laptop atau buku catatan setiap saat. Segera tulis ide-ide yang baru datang.
5. Banyak membaca
Anda tidak dapat menulis dalam ruang hampa. Bacalah novel remaja dan dewasa muda sebanyak mungkin. Pergilah ke toko buku terdekat untuk melihat jenis novel remaja apa yang dijual.
Dengan membaca novel remaja populer, Anda akan mendapatkan gagasan tentang bagaimana menulisnya.
6. Bergabung di kelompok penulis
Anda bisa bergabung dengan kelompok penulis, sehingga penulis lain dapat memberikan umpan balik pada novel Anda dan mungkin akan menangkap inkonsistensi dalam cerita, kesalahan mengetik, atau kesalahan tata bahasa.
Kelompok ini akan menjadi tempat belajar untuk terus memperbaiki karya-karya berikutnya.[]

sumber:

TIPS MENGIRIM NASKAH

Apa sih yang harus disiapkan pertama kali sebelum mengirimkan naskah?

Yang harus diperhatikan pertama kali tentu saja naskah tersebut. Apakah naskah yang kita tulis sudah sesuai persyaratkan yang diminta oleh penerbit tersebut? Panjang halamannya sudah mencukupi batas minimal? Aturan penulisannya sudah disesuaikan? Biasanya, setiap penerbit memiliki aturan tersendiri. Satu sama lain bisa memiliki persyaratan dan aturan yang sama, bisa pula berbeda.

Adapun standar umum penulisan naskah fiksi (apalagi fiksi remaja) yang banyak berlaku di penerbit adalah sebagai berikut :
Panjang halaman : 100 - 150 halaman 
Ukuran kertas : A4

Jenis huruf (font) : Times New Roman
Ukuran huruf : 12 pt
Spasi : 1,5
Margin : Menyesuaikan dengan default (tidak perlu diganti)

Meskipun demikian, ada pula penerbit yang memberlakukan aturan sedikit berbeda. Misalnya di penerbit gagasmedia. Berdasarkan informasi yang ada di websitenya, panjang halaman minimal yang disyaratkan adalah 75 halaman A4, tetapi dengan spasi 1 (satu). Sebenarnya, kalau dikonversi ke spasi 1,5, jumlah halaman akhirnya tidak akan jauh berbeda. Hanya saja, kalau kita akan mengirimkan naskah ke sana, tentu kita harus mengikuti aturan main mereka, bukan?

Setelah itu, apa yang harus kita perhatikan?

Kerapian naskah! Sudahkah kita membaca dan mengecek ulang naskah yang kita tulis? Masih adakah typo (kesalahan ketik) di sana-sini? Apakah tanda baca yang kita gunakan sudah tepat? Apakah masih ada kata-kata yang ditulis berupa singkatan karena keasyikan menulis dan tidak menyadarinya (seperti kata yg, sdg, kmrn, dll)? Bahasa alay? Ckckck. Ayo editlah segera. Jadilah editor buat naskah kita sendiri agar naskahnya terlihat lebih rapi untuk dibaca.

Saya sering mendengar dan membaca komentar para editor seperti ini ; "kalau penulisnya saja tidak peduli terhadap naskahnya, kenapa kami juga harus peduli?" Itu adalah tanda-tanda tidak bagus untuk review naskah kita. Jangan salahkan mereka kalau mereka menolak menerbitkan naskah kita karena sudah enggan membacanya dari awal.

Naskah sudah rapi, apa lagi yang harus dilengkapi?

Ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan untuk melengkapi naskah.
Jangan lupa untuk membubuhi nomor halaman! Hal yang sepele tapi masih saja ada yang melupakan atau mengabaikannya. Bagaimana editor bisa tahu naskah kita ada berapa lembar kalau tidak ada nomor halamannya? Dihitung satu-satu? Plis deh!
Sinopsis - Pertama kali membuka naskah, biasanya yang akan dibaca oleh editor adalah sinopsisnya terlebih dahulu. Apakah ceritanya unik dan tidak biasa? Buatlah sinopsis singkat (maksimal 1 halaman) yang menguraikan alur cerita dari naskah kita. Buat secara menarik agar editor tertarik membaca naskah kita selengkapnya. Oya, sinopsis ini LENGKAP menggambarkan ceritanya dari awal sampai ending ya. Jangan buat sinopsis menggantung seperti di back cover novel-novel yang sudah jadi, seperti; "Bagaimana akhir kisah ini? Temukan sendiri di dalam novelnya." 
Biodata Penulis - Tuliskan data kita selengkap-lengkapnya. Nama asli, Nama pena (kalau ada), Alamat rumah, E-mail, No. Telp/handphone, Nomor rekening Bank, dan prestasi penulisan kalau ada (bisa berupa pengalaman menang lomba nulis, buku yang sudah diterbitkan, karya yang dimuat di media, dan lain-lain). Data yang lengkap akan memudahkan penerbit untuk menghubungi apabila ada informasi yang berhubungan dengan naskah kita.
Profil Penulis - Tidak ada salahnya kita sudah membuat profil penulis berupa deskripsi untuk diletakan di bagian dalam belakang buku. Tulis dalam bentuk deskripsi singkat (contohnya pasti sudah pada tahu, kan? Bisa dibaca di setiap buku kok). Apabila naskah ini lolos diterbitkan, kita tidak perlu repot menuliskannya lagi, bukan?
Surat Pernyataan Keaslian Naskah - Kalau anda masih kebingungan seperti apa sih surat pernyataan ini? Tidak perlu bingung. Surat pernyataan ini tidak perlu memiliki form khusus, dan kita bisa membuatnya sendiri. Asal di dalam surat pernyataan tersebut tercantum bahwa naskah tersebut adalah asli karya kita, dan tidak melanggar hak cipta, itu sudah cukup kok. Jangan lupa tempelkan meterai Rp.6.000,- pada kolom tanda tangan.
Surat Pengantar - Ibaratnya kita bertamu ke rumah orang, sopan santun tetap dibutuhkan. Apalagi kalau kita baru pertama kali menawarkan naskah ke penerbit yang bersangkutan. Surat pengantar ibarat mengenalkan diri kita sebagai penulis kepada penerbit. Lagipula, kalau kita bisa menulis naskah beratus halaman, masa menulis surat pengantar setengah halaman saja tidak bisa?
Daftar Isi - Ini adalah bagian yang tidak boleh terlewatkan. Susun daftar isi mulai dari surat pengantar, sinopsis, biodata penulis, surat pernyataan keaslian naskah, Judul-judul bab, sampai ke profil penulis.
Ah, jangan lupa, buatlah sampul naskah agar naskah kita lebih terlihat menarik. Biasanya halaman pertama dari naskah selalu saya buatkan sampul. Saya tuliskan judul naskah saya besar-besar. Di bawah judul saya tampilkan gambar/ilustrasi yang kira-kira sesuai dengan isi cerita. Gambar itu biasanya saya browsing dari internet. Di bawah gambar kemudian saya tuliskan nama, alamat, email, dan nomor telepon. 
Print out, lalu jilid! Agar lebih kuat, halaman sampul dicetak/copy di atas kertas tebal. Kalau perlu, tambahkan lapisan plastik di luarnya. Tampilan yang menarik tentu akan lebih enak dipandang. Siapa tahu menarik editor juga agar penasaran membaca isinya.
Jilid? Kenapa harus dijilid? Bukannya naskah bisa dikirim via email?

Tidak semua penerbit menerima kiriman naskah via email, teman. Masih banyak penerbit yang hanya menerima kiriman naskah hardcopy. Setidaknya, itulah yang selalu saya lakukan ketika bekerjasama dengan penerbit Mizan, Gramedia Pustaka Utama, dan Gagasmedia (yang sudah bekerjasama selama ini). Sampai saat ini --yang saya tahu-- mereka hanya terima kirim naskah hardcopy. Setelah dinyatakan lolos terbit, baru kita diminta mengirimkan softcopy-nya.

Kalau memang penerbit yang kita tuju menerima kiriman via email, tentu saja kita bisa segera mengirimkan naskah tersebut tanpa perlu print terlebih dahulu. Jangan lupa, surat pernyataan keaslian naskah harus di scan terlebih dahulu agar dapat ikut dilampirkan.


Dimana kita bisa mendapatkan alamat para penerbit?

Di back cover setiap buku biasanya selalu tercantum alamat penerbit. Kita juga bisa cari tahu di website penerbit tersebut (kalau memiliki website). Beberapa alamat website penerbit sudah saya tulis di sidebar sebelah kanan blog ini. Kalau tidak ada, cobalah pergunakan search engine seperti google dan yahoo, untuk mencari alamat penerbitnya.

Agar aman naskah kita kirim pakai apa?

Kalau lokasi penerbit dekat dengan rumah kita, tentu lebih baik mengantarkan langsung naskahnya, agar bisa berkenalan langsung dengan kru penerbitan. Siapa tahu malah bisa diskusi dengan para editor di sana (kalau tidak sibuk). Alternatif lain, tentu saja mengirimkannya melalui pos atau kurir. Pergunakan pos tercatat/kilat khusus kalau menggunakan Pos Indonesia. Simpan resi/bukti pengiriman dari Pos/Kurir. Itu bisa jadi catatan juga kapan kita mengirimkan naskah tersebut, atau untuk melacak apakah naskah kita sudah sampai di alamat yang dituju atau belum.

Kalau naskah kita ditolak dan ingin dikembalikan, jangan lupa selipkan perangko secukupnya (lihat tarif di PT. Pos).

Naskah sudah terkirim. Sekarang kita tinggal menunggu sampai ada kabar mengenai status naskah kita; diterbitkan, atau tidak.Semabari menunggu kabar itu datang, marilah kita menulis lagi.

Semoga postingan ini membantu. :)

Cara Memilih Penerbit

Beberapa tips dalam memilih penerbit:
  1. Kenali penerbit yang dituju, berikut divisi2 mereka, pastikan karya yang kita kirimkan sesuai dengan karakter divisi penerbit tersebut.
  2. Cari data tentang penerbit-penerbit sejenis, semakin banyak, semakin banyak pilihan pula bagi kita.
  3. Kenali produk yang telah mereka luncurkan, sosok bukunya. kenali kemampuan penetrasi pasar (lihat buku-buku yang telah diterbitkan, sudah berapa kali cetak ulang dan sebagainya, ini cuma satu indikasi), kenali profesionalitas mereka, cari info dari yang telah menulis di sana lebih dulu, untuk mengetahui seberapa jauh penerbit tersebut menghargai karya penulis-penulisnya, dan menunaikan hak royalti dengan baik, kenali pula standar royalti di sana.
  4. Kenali keinginan kita tentang buku yang nanti diterbitkan (secara sosok, ukuran, desain dan seterusnya), kombinasikan dengan profesionalitas penerbit tersebut.
  5. Langkah ke 4 perlu untuk membuat rank prioritas 1-10 misalnya, kirimkan naskah kita pertama-tama ke penerbit yang kita anggap paling cocok menerbitkan buku-buku kita.
  6. Kirimkan naskah dalam bentuk disket dan hard copy, juga dalam bentuk email. Kalau kita menginginkan naskah dikembalikan apabila tidak dimuat, kirimkan juga sebuah amplop kosong yang bertuliskan nama kita dan alamat dan sudah dibubuhi perangko, hingga tidak merepotkan penerbit.
  7. Sertakan juga biodata dan kalau ada keterangan tentang karya-karya yang telah dimuat di media mana saja. sertakan sinopsis cerita, sertakan pula karakter tokoh-tokoh dalam cerita, ini akan memudahkan ilustrator nantinya.
  8. Rajinlah mengontak penerbit yang bersangkutan, apakah naskah kita sudah mereka terima, tanyakan pula kira2 berapa lama kita harus menunggu. kalau mereka tidak punya jawaban mungkin kita bisa memberikan alternatif (3 bln? 6 bln? 12 bln? tentu disesuaikan dengan posisi bargaining power kita, kalau baru pertama kali, mungkin jangan langsung 'menggetok' penerbit dengan hanya memberi waktu 3 bulan) untuk diketahui, biasanya penerbit perlu waktu 2-3 bulan untuk menerbitkan sebuah buku.
  9. Meskipun itu buku pertama kita, gak berarti penulis gak berhak untuk memberikan usul2, atau meminta beberapa terms, selama wajar. misal minta dikabari soal ancer2 kaver, minta ngintip duluan soal endorsment atau sinopsis yang mereka buat, tanya apakah boleh memberi alternatif dari kita sendiri? tentu kalau kita yakin, bahwa endorsment dari kita memang lebih baik.
  10. Pintar-pintar menempatkan diri dalam berkomunikasi dengan penerbit. ingat ini kebutuhan simbiosis mutualisme, bukan cuma penerbit yang butuh naskah, tapi pengarang juga butuh diterbitkan.
  11. Kalau memang karya kita sudah dipastikan bisa terbit, biasanya surat perjanjian penerbitan ditandatangani setelah naskah mendekati siap cetak. jadi jangan nguber2 dulu sebelum itu. intinya sebelum buku terbit (siap cetak), harusnya kita sudah menerima spp. pastikan anda membaca secara teliti semua pasal-pasal di surat perjanjian penerbitan tersebut, tanyakan kalau ada yang tidak anda mengerti.
  12. selama naskah dalam proses (setelah anda kirimkan), sebaiknya tidak menyusahkan penerbit dengan mengirimkan naskah yang sama ke penerbit lain, kecuali memang membuat sistem tender. sering kali terjadi penerbit telah selesai edit dan mau masuk ke lay out naskah, mendadak pas dihubungi, penulisnya bilang, akan menarik naskah tsb! ini sangat merugikan. kalau anda ingin menarik naskah, lakukan sedini mungkin, batalkan secepatnya semua proses (lihat dulu udah sejauh apa), jangan sampai baru membatalkan ketika penerbit mengontak anda.
  13. Klau naskah ditolak? jangan nangis dulu:) minta masukan dari mereka, apa kekurangan naskah yang dikirimkan. perbaiki setelah itu kirim ke penerbit number.
2 (Lhat poin 2-5), atau malah kirim lagi ke penerbit pertama. it's ok, kan sudah diperbaiki, siapa tahu perbaikannya cowok. begitu seterusnya. ada kalanya naskah ditolak bukan karena jelek, tapi berbeda jenis atau tidak sesuai tema yang diusung penerbit ybs. jadi jangan lelah kirim lagi, kirim lagi, kirim lagi. ***
*) Tulisan ini diambil dari mailing list Forum Lingkar Pena.  

Jumat, 10 Februari 2012

Dark Butterfly #3

Part 3 _ Ketidaksukaan Kenji

Ruka merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau bukit belakang sekolah. Sepoi angin membelai kulitnya dengan lembut. Matanya terpejam. Nyaman. Ruka memang suka sekali berada di bukit belakang sekolahnya. Sepi. Dia biasa menyendiri di tempat itu.

Wuss. Angin kencang menerpa tubuh Ruka. Sreek. Sreek. Suara daun-daun bergesek terdengar. Ruka membuka matanya. Bangkit dari tidurnya dan terduduk di atas rumput. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepi. Hanya ada Ruka di sana. Mungkin hanya suara binatang kecil, pikir Ruka.

“Gadis bodoh sedang apa kau di sini?” suara bass seorang lelaki terdengar. Ruka mengedarkan pandangannya sampai dia menangkap bayangan manusia duduk di atas ranting pohon tak jauh dari tempatnya.

“Kau?” Laki-laki itu lagi. Sejak kapan dia ada di situ, batin Ruka.

Lelaki itu tersenyum sinis. Dia melompat dengan cepat. Hup. Dengan anggun kakinya mencapai tanah. Beberapa helai rambut panjang keemasannya melayang terhempas angin. Ruka hampir terpesona melihat cara lelaki itu turun. Ruka mengerjapkan matanya beberapa kali. Aku tidak boleh terpesona. Sadarlah Ruka! Ruka berusaha menyadarkan dirinya.

Lelaki itu berjalan mendekatinya. Sial, langkahnya pun terlihat anggup. Kenapa orang seperti dia itu menyebalkan, runtuk Ruka. “Apa yang kau lakukan di sini gadis bodoh?” lelaki itu bertanya lagi.

“Berhenti memanggilku gadis bodoh! Aku bukan gadis bodoh!” bentak Ruka. Amarah terpancar dari air mukanya.

Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di atas rerumputan hijau. Tepat di samping Ruka. “Hmm nyaman juga di sini.” Lelaki itu memejamkan matanya. Tak menghiraukan ucapan Ruka. Ruka mengerucutkan mulutnya.

“Pemuda menyebalkan!” gumam Ruka.

Wuss. Angin kencang lagi-lagi berhembus. Seperti ada yang melintas dengan cepat di depan Ruka. Sreek. Terdengar suara daun bergesekan. “Hey, jangan bersantai di sini Ichiru,” suara merdu seorang lelaki menggema. Dengan cepat Ruka menoleh ke sumber suara. Pada pohon sakura satu meter dari tempat Ruka, seorang lelaki berambut merah menatap gusar. Matanya sungguh tajam. Siapa lagi ini? pikir Ruka. Dia anak baru di kelasku tadi. Rupanya teman pemuda menyebalkan itu.

“ICHIRU!” teriak lelaki berambut merah itu. “Kau lupa dengan tugas kita? Jangan bersantai-santai seperti itu.”

“Kau berisik sekali, Kenji,” ujar lelaki bernama Ichiru. Dia masih memejamkan matanya.

Kenji melompat dengan kasar. Sayap hitamnya tak terlihat. Dum. Dentaman kakinya yang menginjak tanah terdengar kencang. Kenji berjalan cepat. Tangannya dengan kasar menggapai kerah baju Ichiru. “Kau membuat darahku naik!”

Ichiru membuka mata dan tersenyum mengejek. “Memang kau punya darah, Hah?”

Ruka yang melihat adegan itu hanya mampu mengerutkan keningnya. Apa yang mereka lakukan? Mereka mengganggu tidur siangku. Huh. Ruka mendengus kesal. Dia berdiri. Beranjak meninggalkan Ichiru dan Kenji.

Bugh. Pukulan keras mendarat di wajah Ichiru. Tubuhnya terlempar beberapa meter. Badannya mendarat kasar di tanah. Membuat tanah berserakkan di sekitar badan Ichiru. Ichiru mengusap darah segar di sudut bibirnya. Dia berdiri sambil tersenyum tipis. Kenji melesat kearah Ichiru. Kepalan tangan kanannya melayang lagi. Namun, kali ini Ichiru berhasil menahannya. Kenji memfokuskan kekuatannya di tangan kirinya yang masih bebas. Secercah cahaya merah keluar dari tangan kirinya. Cahaya itu memanjang membentuk sebilah pedang. Dengan gesit Ichiru melompat mundur. Menjauhkan tubuhnya dari Kenji. Ichiru seperti tak mau kalah. Tangan kanannya memancarkan cahaya hitam pekat panjang. Membentuk sebilah pedang hitam. Sama seperti Kenji. Krek cess. Krek cess. Kilatan-kilatan cahaya kecil memercik di sekeliling pedang cahaya mereka.

“DUEL!” teriak Kenji keras seraya melesat maju kearah Ichiru. Seperti peluru yang ditembakkan. Begitu cepat. Prang. Cezz. Pedang cahaya mereka saling beradu. Tak ada yang mengalah. Tiba-tiba sebuah bola energi berwarna merah melesar kearah mereka. Duaarr. Bola energi itu membentur tanah. Membuat lubang besar di tempat itu. Asap mengepul seketika. Bayangan Kenji dan Ichiru tak terlihat.

“SIAL! Onisan, jangan ikut campur!” teriak Kenji. Kepalanya mendongak ke atas. Menatap seorang pria yang tengah melayang di langit. Tepat diatasnya. Sayap putih yang melekat pada punggung pria itu terkembang. Senyum manis terlukis pada wajah pria itu. Sedangkan, air muka Kenji masih terlihat gusar. Kenji berada beberapa meter dari lubang besar bekas ledakan tadi.

“Kau harus berhati-hati menggunakan kekuatanmu, Kenji,” ujar pria itu memperingatkan. Perlahan pria itu turun. Menginjak tanah. Berhadapan dengan Kenji. Di sisi lain, Ichiru terlihat membenarkan dirinya yang terlempar jauh akibat ledakan tadi. Mencoba berdiri tegak. Pria itu menoleh kearah Ichiru. Tersenyum sinis. “Kau payah Ichiru!” Ichiru membuang muka.

Onisan jangan menghalangiku!” bentak Kenji.

Pria yang dipanggilnya Onisan itu menatapnya dalam-dalam. “Apa kau tidak bisa meredam emosimu?”

“Meredamnya? Aku muak bersikap seperti itu. Karena dia, aku harus terjebak di sini selama satu tahun terakhir ini.” Tangan Kenji menunjuk Ichiru. “Dan tadi aku hampir kewalahan menghadapi shinigami. Jadi, biarkan aku memberinya pelajaran!” sengitnya.

“Tugas kita masih banyak. Bersabarlah. Setelah kita menemukan Kristal kehidupan yang paling murni secara lengkap, kita pasti bisa kembali ke Reijima. Jadi, berusahalah lebih keras lagi,” Onisan-nya bersaran. Dengan tenang dia mencoba meredamkan emosi Kenji yang selalu meluap-luap.

Sssttt. Pedang cahaya di tangan Kenji lenyap. Tersedot dalam tangannya. Amarahnya mereda. Onisan-nya tersenyum mempesona. “Mikami-sama sebaiknya mengajari Ichiru agar dia tidak menyebalkan lagi!” saran Kenji. Sayap hitamnya mengembang. Bergerak-gerak. Membuat tubuhnya melayang. Kenji terbang. Menjauhi tempat pertengkarannya.

Sepeninggalan Kenji, Mikami membalikkan badan. Memandang Ichiru. Kedua tangan dilipat di depan dada. Sayap putih menelungkup di punggungnya. Ichiru menepuk-nepuk baju depannya. Menyingkirkan debu yang mengotorinya. “Kau payah sekali. Jangan sampai peristiwa satu tahun yang lalu itu terulang lagi. Apa kau mau membuat kesalahan yang sama?” ujar Mikami.

“Kali ini, aku tak akan membuat kesalahan. Jadi, biarkan aku melakukan semuanya sesukaku!” sahut Ichiru. Mata emasnya menatap lekat makhluk bersayap putih di depannya. Penuh keyakinan.

“Baiklah. Tapi kau harus ingat apa tugasmu di sini.” Buk. Buk. Buk. Sayap putih Mikami mengepak kencang. Menghembuskan angin yang menerpa dedaunan dan rerumputan di sekitarnya. Tubuh Mikami melayang ke atas. “Jangan menyia-nyiakan kesempatanmu lagi,” ujarnya lagi. Ichiru hanya mengangguk. Mikami pun terbang cepat meninggalkan Ichiru.
@@-@-@@

Ruka berjalan lemah. Tak bersemangat. Pikirannya terus saja memikirkan anak baru yang mengganggu acara tidur siangnya di bukit belakang sekolah. Lelaki itu selalu muncul didekatnya akhir-akhir ini. Aneh. Menurutnya.

“AMANE!” teriakan keras menggemakan nama Ruka. Dia menoleh ke sumber suara. Di tengah lapangan dekat sekolahnya, seorang laki-laki melambai-lambaikan tangannya. Ruka tercekat. “Kataoka,” gumam Ruka menyebut nama pemuda yang memanggilnya.

Izaki Kataoka, nama lengkap pemuda itu. Teman sekolah Ruka sejak masih di bangku SMP. Pemuda tampan yang jago sepak bola. Selama di SMP dulu, Ruka sekelas dengannya. Tapi sayang saat SMA, Izaki selalu masuk di kelas unggulan. Berbeda dengan Ruka. Rambut hitam jigraknya bergerak-gerak saat dia berlari menghampiri Ruka.

“Hhhh, Belum pulang dari tadi?” tanya Izaki saat didekat Ruka. Napasnya masih terengah-engah. Membungkuk. Memegang kedua lututnya.

Ruka menggeleng cepat. “Kataoka sedang latihan ya?” kata Ruka pelan. Dia merogoh isi tas sekolahnya. Sebuah sapu tangan putih keluar dari dalam tasnya. Ruka menyodorkan sapu tangan itu pada Izaki.

Arigato,” ucap Izaki setelah menerima sapu tangan Ruka. Dia menyeka keringat di wajahnya dengan sapu tangan itu. “Ayo, Amane ikut lihat!” ajak Izaki. Tangan kanannya meraih tangan kiri Ruka. Membimbing gadis itu menuju pinggir lapangan sepak bola. Ruka diam saja. “Tunggu di sini. Aku akan mencetak satu gol untukmu!” janji Izaki. Ruka tersenyum tipis untuknya. Pemuda itu langsung kembali ke tengah lapangan. Permainannya kembali dimulai.

Izaki menendang bola pertama kali. Mengopernya kepada teman di sebelah kanannya. Seseorang menghadang. Bola itu kembali ke kaki Izaki. Dia menggiringnya sampai di daerah penalti. Dua orang lawannya mencoba menghalangi. Dengan lincah, Izaki mengecoh lawannya. Bergerak cepat. Dia berhasil melewati satu lawan. Bola dioperkan ke belakang untuk menghindari lawan yang masih menghadangnya. Sedangkan, Izaki terus berlari ke sisi kiri dekat gawang. Tak ada yang menjaganya. Melihat kesempatan emas, Izaki melirik temannya yang membawa bola. Memberi isyarat melalui kedipan mata. Lalu bola kembali padanya. Ditendangnya kuat-kuat bola itu. Bolanya meluncur berbelok. Kipper tak mampu menangkapnya dan masuk gol.  Izaki histeris. Berteriak. Berlari menghampiri salah satu kawannya. Plok. Keduanya saling tos. Merayakan kesuksesan mereka.

Ruka tersenyum puas. Turut senang atas keberhasilan Izaki, kawan lamanya itu. Izaki menghampirinya. Dengan tersenyum lebar. “Kau semakin hebat saja,” puji Ruka. Senyum yang terkembang di bibir Izaki semakin lebar. “Tentu saja. Izaki Kataoka,” ujarnya membanggakan diri. “Aku senang bisa menghiburmu lewat permainanku,” sambung Izaki. Ruka terdiam. Dia mengerti apa maksud kata-kata Izaki itu.

Ruka adalah gadis yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal satu tahun yang lalu akibat kecelakaan mobil. Tepat di ulang tahun Ruka. Saat itu, Ruka bersama mereka. Hanya dia yang selamat. Sejak itu Ruka tak lagi menjadi gadis yang ceria. Dia sering murung dan menjadi pendiam. Setelah kepergian orang tuanya, Ruka tinggal bersama ojiisan-nya (kakek). Satu-satunya keluarga yang masih tersisa. Rumah ojiisan-nya bersebelahan dengan rumah Izaki. Mereka pun menjadi semakin akrab. Izakil-lah yang selama ini selalu menghibur Ruka. Memberinya semangat.
“Ruka, ayo pulang sama-sama!” ajak Izaki. Semua perlengkapan sebak bolanya telah rapi ia masukkan dalam tas besarnya. Dia menenteng tas besarnya itu. tangan kanannya meraih tangan kiri Ruka. Membimbing gadis berambut sebahu itu berjalan bersama. Ruka hanya diam. Mengikuti Izaki.
@-@@-@

Kenji’s PoV

Hari yang menyebalkan. Kekuatanku terkuras banyak hari ini. Bukan hanya karena shinigami yang mengganggu pekerjaanku, tapi karena amarahku yang meluap. Masih sulit bagiku mengendalikan amarah. Keluhku dalam hati.
Aku memilih berbaring di atas atap gedung rumah sakit. Sepi. Cocok untuk menenangkan diri. Kutatap langit malam. Gelap. Kuhitung bintang yang menghiasinya. Bintang-bintang yang membentuk rasinya. Di sisi lain angin berhembus pelan. Sejuk. Aku suka angin malam. Lebih baik aku berada disini. Daripada aku pulang dan bertemu dengan Ichiru lagi. Dia selalu membuat emosiku naik. Kalau mengingatnya. Jadi, teringat peristiwa satu tahun yang lalu. Peristiwa yang membuat aku diusir dari tengoku.

Kenji terbang. Turun ke dunia manusia. Ia mendapat tugas mencabut nyawa seseorang. Dia turun perlahan ke sebuah rumah sakit. Kamar 303. Seorang gadis dengan alat bantu pernapasan menutupi sebagian wajahnya. Alat pendeteksi jantung terus berdetak. Di tangannya terpasang selang infuse. Kenji mendekati gadis itu. Sayap hitamnya terkembang. Di pinggangnya melekat pedang zanpakutou miliknya. Pedang berwarna merah. Kenji bersiap memegang pedang itu. Melepaskan dari sarungnya. Sreeet. Bunyi gesekan mata pedang dan sarungnya terdengar. Kenji mengayunkan ke atas. Lalu turun menuju dada gadis itu.

“TUNGGU!” teriakan seorang lelaki membuat Kenji berhenti mengayunkan pedangnya. Menoleh kearah suara. Dia tahu sang pemilik suara itu bukanlah manusia. “Jangan lakukan itu!” cegah sang pemilik suara.

“Ini sudah waktunya. Waktu untuk mati. Kau tak bisa mencegahku, Ichiru,” ujar Kenji. Matanya menatap tajam lelaki di depannya. Lelaki berambut keemasan itu Ichiru. Teman Kenji, sesama malaikat bersayap hitam.

“Tunggu sampai dia sadar,” pinta Ichiru. Gurat wajahnya memelas.

“Kau tahu itu tidak mungkin! Jangan mencegahku lagi!” suara Kenji mulai meninggi. Dia kembali mengayunkan pedangnya. Prang. Pedangnya tertahan oleh pedang hitam Ichiru. “Apa kau sudah gila, Ichiru?” bentak Kenji.

“Maaf, aku hanya meminta harinya diperpanjang satu hari saja. Besok biar aku yang melakukannya,” tawar Ichiru. Matanya dan mata Kenji saling beradu.

“Tidak bisa!” tolak Kenji. Kakinya melompat dengan anggun mundur ke belakang. Menjauhkan diri dari Ichiru. “Kau tahu apa akibatnya? Kita tidak bisa mengubah ketentuan-Nya untuk hal kematian.”

“Tapi….” Ichiru menunduk lemah. Bimbang. Bingung. Dia tak ingin kehilangan gadis itu. Tapi, dia juga tidak bisa melanggar peraturan. Pilihan yang sulit.

“Dari awal aku sudah memperingatkanmu. Kau tak boleh jatuh cinta pada manusia. Inilah akibatnya,” kata Kenji. Dia berjalan pelan. Mendekati tubuh gadis itu.

“Jika begitu aku terpaksa akan melawanmu!” ancam Ichiru. Dia menyiagakan tangannya. Memasang pedang hitamnya di depan dada. Bersiap menyerang.

Kenji mendengus kesal. Ini yang tidak disukainya. Jika harus bertarung melawan rekannya sendiri. tapi, apa boleh buat. Tak ada pilihan lain. Mereka berdua melesat cepat keluar dari ruangan itu. Di atas langit mereka saling beradu pedang. Menyerang dan bertahan. Ichiru bergerak lebih gesit daripada Kenji. Dia lebih unggul dalam hal kecepatan. Beberapa serangan cepatnya membuat Kenji kewalahan. Bahkan bagian perut Kenji sempat terkena sabetan pedangnya. Untungnya Kenji masih sempat menghindar. Lukanya tak terlalu dalam. Lengah sedikit saja dia pasti celaka.

“Menyerah saja kau. Aku lebih unggul daripada kamu!” ujar Ichiru memperingatkan. Kenji terengah-engah dua meter dari hadapan Ichiru. Kekuatannya memang tak sebanding dengan Ichiru. Kenji berada dua tingkat di bawah Ichiru. Cukup sulit baginya menyeimbangi serangan Ichiru.

“Tak bisa! Aku harus mampu bertanggung jawab terhadap pekerjaanku,” sanggah Kenji. Di tangan kirinya sebuah bola cahaya merah muncul. Dari kecil menjadi besar secara perlahan. Kenji mengonsentrasikan sisa kekuatannya membentuk bola api. Lalu diacungkan ke depan tangan kirinya itu. bola api itu melesat cepat seperti peluru kearah Ichiru. Dengan pedang hitamnya, Ichiru menahan laju bola api itu. diayunkannya pedang miliknya ke atas. Menghempaskan bola api tinggi-tinggi ke atas. Duaarr. Bola api itu meledak tepat diatas mereka. memercikkan api-api kecil. Ichiru tersenyum mengejek. Merasa diatas angin. Craaz. Tebasan singkat mendarat di perut Kenji. Begitu cepat. Darah mengucur. Bugh. Belum sempat menghindar, lagi-lagi Kenji mendapat serangan dari Ichiru. Pukulan keras mendarat di punggungnya. Membuat tubuh malaikat berambut merah itu jatuh ke bawah. Dam. Tubuhnya mencapai tanah. Lemah. Kenji tak mampu terbang menyelamatkan  diri agar tak terjatuh. Tubuh Kenji terbaring di tanah. Darah masih mengucur dari perutnya. Kenji diam. Tak bisa bergerak. Kekuatannya sudah habis. Ichiru turun perlahan mendekati Kenji.

“Sudah kubilang. Kau bukan tandinganku. Maafkan aku,” ujar Ichiru pelan.
“Bunuh aku!” perintah Kenji lemah. “CEPAT BUNUH AKU!” Kenji berteriak keras. Namun, tak dihiraukan oleh Ichiru. Dia malah berlalu meninggalkan Kenji membusuk dengan kekalahannya.

Sabtu, 28 Januari 2012

Dark Butterfly #2

Part 2 _ Membaur

“APA?” Mata Kenji melotot kaget. “Kita harus hidup seperti manusia? Aku tidak mau. Itu merepotkan Onisan!” keluh Kenji.

Seorang pemuda berkaca mata berjalan santai mendekati Kenji. Tangannya menepuk bahu Kenji. “Cobalah hidup seperti manusia. Ketua sudah memberikan izinnya supaya kita dapat hidup seperti manusia. Tidak ada salahnya kan? Daripada kita seperti ini saja, membosankan!” jelasnya. “Bersemangatlah Kenji!”

“Aaarrrgghh!” Kenji menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia tampak gusar dengan perintah dari pemuda berkaca mata yang dipanggilnya onisan. Sementara itu, Ichiru berdiri di dekat jendela ruang tamu. Dia lebih suka mengamati keadaan di luar rumahnya. Daun-daun pohon maple dan sakura berguguran. Musim gugur telah tiba.

“Ichiru-kun apa pendapatmu?” teriakkan Kenji membuat Ichiru mengalihkan pandangannya. Ichiru memandang Kenji datar. Tanpa ekspresi.

“Terserah!” jawab Ichiru. Dia berlalu keluar rumah. Menikmati suasana awal musim gugur. Tak ada salahnya berjalan-jalan sebentar, batinya.

Dasar makhluk berhati es! runtuk Kenji dalam hati.
****

Gadis berambut sebahu terlihat sedang berjalan dengan menenteng katung plastic putih. Dia baru saja keluar dari minimarket yang tak jauh dari rumahnya. “Hari minggu yang membosankan!” gumamnya. Hembusan napas kecil keluar dari hidungnya. Dia berjalan sambil menundukkan kepala. Kakinya menendang-nendang sebuah kerikil kecil yang baru saja di temuinya sewaktu ia berjalan. Tak begitu memperhatikan jalan di depannya. Bruk. Tubuh gadis itu terhempas jatuh. Dia baru menabrak seseorang. Gadis itu terduduk di atas trotoar jalan. Barang-barang dalam kantung plastiknya berceceran. Segera dia memunguti barang-barangnya. Orang yang ditabraknya masih berdiri di depannya. Dia dapat melihat celana panjang hitam dan sepatu warna senada yang dipakai orang itu. Gadis berambut sebahu itu mendongakkan kepalanya seraya berdiri. “Kamu lagi!” ujarnya kaget melihat pemuda di depannya. Lagi-lagi dia bertemu dengan pemuda berambut emas itu. “Sepertinya aku selalu kena sial jika bertemu denganmu!” desahnya kesal. Ichiru hanya terdiam. Dia langsung berlalu begitu saja. Gadis itu hanya mampu menatap Ichiru heran. “Dasar lelaki aneh!”
****

Ichiru duduk di bangku taman yang sepi. Menikmati tiap hembusan anngin musim gugur yang membelai kulitnya. Langit tampak berawan. Cerah. Nyaman berada di tempat ini. Sorot matanya kosong. Menatap langit biru berawan. Bayangan gadis yang baru ditemuinya berkelebat dalam benaknya. Gadis itu. Kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi? Gadis bodoh!

“Ichiru-sama! Kenapa disini sendirian?” Tiba-tiba muncul seorang gadis berambut panjang bergelombang di samping Ichiru. Matanya merah seperti batu rubi. Bersinar-sinar penuh kekaguman pada sosok yang ditatapnya. Dia langsung memeluk lengan Ichiru. “Hmm, aku rindu Ichiru-sama,” gumamnya.

“Sora, kenapa kamu ada disini?” tanya Ichiru heran. Keningnya berkerut mendapati Sora sudah memeluk lengannya. Sejak dulu Sora memang selalu mengejarnya. Tetapi, Ichiru tak sekali pun memberikan respon kepadanya. Dia selalu mengikutinya. Bahkan dia sengaja melakukan kesalahan agar bisa keluar, diusir dari tengoku. Sama seperti dirinya. Sayangnya, Ichiru hanya menganggap Sora sebagai rekan dan teman biasa.

“Aku rindu Ichiru-sama. Sudah lama sekali kan kita tidak bertemu,” jelas Sora.
Huft. Ichiru menghela napas panjang. Lagi-lagi harus bertemu Sora. “Kau kesini bersama Akai-san?” tanya Ichiru. Matanya menatap lurus ke depan.

Sora menggeleng cepat. “Dia sedang melaksanakan pekerjaannya di Reijima.”

“Kau turun kesini sendiri? Kau tidak takut jika Akai-san menghukummu?”

“Apapun akan aku lakukan agar dapat bertemu denganmu, Ichiru.” Sora mengembangkan senyuman lebar di wajahnya. Dia tampak sangat senang dapat bertemu Ichiru.

“Sudahlah. Kau sebaiknya kembali ke Reijima. Aku tak mau ada masalah gara-gara keberadaanmu disini!” bentar Ichiru. Dia berdiri dan berjalan meninggalkan Sora begitu saja.

Ichiru… kenapa kau selalu dingin terhadapku? Aku sungguh-sungguh mencintaimu sejak dulu sampai sekarang, gumam Sora dalam hati. Dia tak mampu berbuat apa-apa lagi. Dia hanya bisa menatap kepergian Ichiru.
****

Senin pagi menjelang. Daun-daun terlihat berguguran di sana sini. Udara dingin mulai menyeruak. Musim gugur masih terlalu awal untuk segera berakhir. Yah, ini baru awal. Mungkin nanti akan lebih dingin dari ini.

Ruka Amane mengedarkan pandangannya keluar jendela kelasnya. Guru yang mengajar di kelasnya belum datang. Padahal bel masuk telah berbunyi lima menit yang lalu. Sementara itu, anak-anak yang lain di kelasnya ramai saling berceloteh dan bercanda. Ruka tak tertarik untuk turut serta bercanda bersama mereka. Dia lebih suka menyendiri di bangkunya yang terletak paling belakang. Sejak setahun yang lalu, Ruka lebih suka menyendiri.

Sreek. Pintu kelasnya bergeser terbuka. Kuwabara sensei masuk berjalan ke mejanya. Suasana kelas yang tadinya ricuh menjadi tenang. Setelah meletakkan buku yang dibawanya Kuwabara-san berdiri di depan kelas. “Ohayo mina-san,” sapa Kuwabara-san, salah satu guru matematika yang saat itu mengajar. Secara serentak siswa di kelas menjawab sapaannya. “Ohayo sensei.”

Srek. Pintu kelas kembali bergeser. Pandangan semua penghuni kelas 3-F mengarah ke pintu kelas mereka. Dua orang pemuda masuk. Satu berambut merah darah dan satu lagi berambut kuning keemasan. Wajah mereka tampan. Siswa perempuan saling berbisik begitu melihat kehadiran dua makhluk tampan itu di dalam kelas mereka. Pemuda berambut merah berbicara pelan kepada Kuwabara-sensei. Sementara pemuda berambut emas mengedarkan pandangannya keseluruh penghuni kelas. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seorang gadis berambut sebahu duduk di belakang kelas. Senyum tipis terkembang di wajah pemuda itu. Dia lagi, ucapnya dalam hati.

“Anak-anak mereka ini adalah murid baru yang akan menjadi teman kalian,” kata Kuwabara-sensei memperkenalkan kedua pemuda itu kepada seluruh murid di kelas 3-F. “Silahkan kalian memperkenalkan diri,” ucap sensei kepada kedua pemuda itu.

“Aku Kenji Saotome. Mohon kerjasamanya,” ujar pemuda berambut merah. Badannya menunduk saat memberikan salam.

“Aku Ichiru Kuroki,” sambung pemuda berambut emas. Dia juga menundukkan badannya sedikit. “Mohon kerjasamanya.”

“Baik, kalian bisa duduk sekarang,” kata Kuwabara-sensei memberikan izin pada Kenji dan Ichiru untuk duduk.

Ichiru berjalan dengan santai menuju meja paling belakang. Dia langsung menghempaskan pantatnya di kursi yang sejak tadi dipandanginya. Tepat di sebelah kiri Ruka. Ruka yang sejak tadi memandang keluar jendela tak menyadari kehadiran Ichiru. Sedangkan, Kenji memilih duduk di bangku kosong di depan Ichiru.

“Ruka Amane! Apa yang kamu lakukan? Buka buku matematikamu!” Teriakan dari Kuwabara-sensei membuat Ruka tersentak dan sadar dari lamunannya. Ruka gelagapan mengambil buku di dalam tasnya.

“Gadis bodoh!” bisik Ichiru sambil tersenyum sinis.

Ruka mendengar apa yang dikatakan Ichiru. Dia menoleh kearah sumber suara itu. Matanya membelalak kaget. “KAU LAGI!” ujarnya sedikit berteriak. Seluruh murid dalam kelas memandang Ruka. Ternyata suaranya terlalu keras.

“Ruka, kau niat untuk mengikuti pelajaran atau tidak? Jika tidak keluar saja dari kelas ini! Kau hanya mengganggu yang lainnya,” omel guru matematikanya di depan kelas. Mendengar itu Ruka menjadi ciut. Merasa bersalah. “Maaf, Pak,” sesal Ruka. Dia menundukkan kepalanya dan kembali menatap buku di mejanya. Huh, menyebalkan. Lagi-lagi gara-gara laki-laki itu. Aku selalu sial jika bertemu dengannya, batin Ruka kesal.
******

Tiga jam pelajaran berhasil dilalui Kenji dengan cepat. Begitu bel berbunyi, dia langsung beranjak dari kelas yang menurutnya membosankan. Kenji tak suka membaur dengan manusia. Kesombongan dan keangkuhannya yang membuatnya seperti itu. menurutnya manusia itu lemah dan munafik. Saling menikam satu sama lain. Kenji tak menyukainya.

Kenji berjalan di koridor sekolah. Sebagian besar murid-murid yang dilewatinya menatapnya. Murid perempuan menatapnya dengan terkagum-kagum. Sedangkan, murid laki-laki menatapnya tajam. Tatapan tak suka. Ketampanannya memang dapat membuat orang-orang terpesona sekaligus iri.

Tak ada yang menarik di sini, batinnya kesal. Kenji melirik kearah luar. Kupu-kupu bersayap hitam atau yang biasa disebut sebagai kupu-kupu neraka, jigoku-chou tengah terbang dengan anggunnya. Kenji segera berlari. Mencari tempat yang aman untuknya merubah diri. Kakinya berlari sampai di atas loteng sekolah. Sepi. Tempat yang cocok.

Kenji memejamkan matanya. Berkonsentrasi. Seketika itu juga kedua sayap hitam di punggungnya terkembang.  Kini tak seorang pun dapat melihatnya. Perlahan kedua sayapnya itu bergerak-gerak. Mengepak-ngepak. Membuat tubuhnya melayang di udara. Matanya kembali terbuka. Dilihatnya jigoku-chou terbang tepat di depan matanya.

“Jadi dimana target kita sekarang?” tanyanya pada kupu-kupu itu. Tak ada jawaban. Kupu-kupu itu tak dapat berbicara. Malah langsung bergerak, terbang dengan cepat kearah kota. Kenji mengikutinya. Saat melesat di atas langit, dia sempat melihat Ichiru berbaring di atas rerumputan hijau belakang sekolah. Tepat di bawahnya. Hatinya kesal mendapati Ichiru yang bersikap seenaknya. Tak peduli pada tugasnya.

Sejauh 20 kilometer, Kenji terbang. Angin menerpa wajahnya kasar. Dia terbang dengan kecepatan tinggi. Jigoku-Chou, berhenti di tempat proyek pembangunan sebuah apartemen dekat pusat kota. Tiang-tiang besi membentuk kerangkanya. Hanya itu yang baru terpasang. Pembangunannya baru dimulai satu bulan yang lalu.

Kenji mendarat di atas tiang listrik depan proyek itu. Sayap hitamnya menelungkup. “Jadi, di sini?” gumamnya. “Sepertinya kali ini korbannya roh yang masih segar.”

Kenji mengedarkan pandangannya ke setiap sisi tempat itu. Chou miliknya terbang mengitari tiang-tiang besi penyangga gedung apartemen yang sedang dibangun. Sampailah chou didekat seorang pria paruh baya dengan alat las di tangannya. Helm kuning melekat erat di kepalanya. Sesekali pria itu menyeka keringat yang mengucur di dahinya.

Di samping pria itu berdiri sesosok makhluk yang mirip seperti Kenji. Bersayap hitam. Berambut hitam. Jubah hitam panjang menutupi tubuhnya. Tangan kanannya tertutupi sarung tangan hitam. Sementara itu, dipinggang kanannya melekat sebilah pedang samurai, zanpakutou. Kenji mengernyit mendapati sosok makhluk itu. Dia mengenalnya. Shinigami dari tengoku.

Brak. Daam. Bunyi sesuatu menghantam tanah dengan keras terdengar. Pria tadi. Tubuhnya sudah terkapar di atas tanah. Bersimbah darah. Orang-orang mengeruminya. Panik. Pekerjaan dihentikan. Kenji mengalihkan pandangannya ke kerumunan orang itu. Tepatnya ke sosok pria paruh baya tadi. Dia berdiri di dekat tubuhnya. Wajahnya pucat. Di dadanya terpasang rantai panjang yang mengikat dengan tubuhnya. Itu rantai takdir, Inga na Kusari. Malaikat kematian belum memotongnya. Roh itu masih segar. Kenji tersenyum tipis. “Permainan dimulai!”

Ssssstt. Kenji melesat cepat mendekati pria paruh baya itu. Dari arah lain, sesosok makhluk bersayap hitam ikut melesat. Mereka berhenti bersamaan di hadapan pria baruh baya tadi. Sang pria menatap takut-takut pada kedua makhluk dihadapannya.
“Oh, ternyata kau, Kenji. Sudah lama kita tidak bertemu,” ujar makhluk serba hitam di depan Kenji. Dia tersenyum tipis.

“Hahaha.” Kenji meledakkan tawanya. “Kau sendirian saja Kirishima? Dimana teman-temanmu?” tanya Kenji sinis. Dia memandang tak suka sosok di depannya. Kirishima Serizawa, malaikat maut atau yang biasa disebut shinigami. Dia pernah menjadi rekan Kenji. Tapi sekarang mereka harus berhadapan sebagai musuh. Visi mereka berbeda. Kirishima mencabut nyawa seseorang. Sedangkan, Kenji mengambil kristal kehidupan atau  yang dapat membuat arwah itu lenyap.

“Apa yang kau lakukan SENPAI ?” Kirishima sengaja memberi penekanan pada sebutannya untuk Kenji. Untuk mengejeknya.

“Mencari mangsa!” jawab Kenji singkat. Mata hitamnya melirik sosok arwah di sampingnya. Arwah itu ketakutan.

“Ka-kalian siapa? Mau apa?” ucap pria paruh baya di dekat Kenji. Perlahan pria itu berjalan mundur menjauhi dua makhluk di dekatnya.

“Kau sudah mati Pak Tua! Buat apa ketakutan seperti itu?” kata Kenji ketus.

“Itu kan kata-kata yang harusnya aku ucapkan, Senior. Kau tidak boleh merebut lahan pekerjaanku. Ingat itu, Senior,” sahut Kirishima.

“Kau lamban!” bentak Kenji. Di tangan kanan terpancar cahaya panjang berwarna merah. Mirip sebilah pedang api. Itu faiareddo miliknya. Kenji menyambarkan pedang cahayanya ke pria tua di dekatnya.

Prang. Faiareddo-nya berbenturan dengan zenpakutou Kirishima. Kenji mundur mengepakkan sayap hitamnya. Melayang di udara. Kirishima berdiri di depan pria tua itu. Melindunginya. “Jangan mengganggu pekerjaanku!” teriak Kenji.

“Kau yang mengganggu pekerjaanku!” bentak Kirishima. Tak kalah sengit. Tubuhnya melayang ke atas. Sejajar dengan Kenji. “Aku tak ingin melawanmu. Tapi, aku tak punya pilihan. Maaf, Senior.” Kirishima meluncur kearah Kenji. Seperti sebuah peluru. Syuut. Prang. Suara benturan kedua pedang yang berbeda kembali terdengar. Kedua pemegang pedang itu tak mau mengalah. Keduanya saling mendorongkan pedangnya kearah lawan masing-masing.

“Sepertinya kau semakin kuat!” ujar Kenji. Tersenyum kecut.

Kirishima terkekeh pelan. “Senior terlalu memuji. Kau yang memang sekarang terlihat lemah!” katanya ketus. Kenji makin geram. Dia memukulkan tangan kirinya yang bebas ke perut Kirishima. “Shakkahou,” teriak Kenji. Syuut. Duaar. Cahaya merah keluar dari tangan kiri Kenji. Meledak saat mengenai badan Kirishima. Beruntunglah dia masih sempat menghindar. Hanya jubah hitamnya yang robek. “Sial!” gumam Kirishima.

Kenji tertawa puas. “Kau lengah!” Matanya bergerak kearah bawah. “Pria tua itu menghilang!” Kenji memfokuskan pandangannya pada rantai yang melekat pada tubuh pria itu. Inga no kusari itu masih terhubung dengan rohnya. Kenji mengikuti rantai itu. Menemukan dimana ujungnya berakhir. Dua meter dari jasad pria itu. Arwahnya tengah bersembunyi di antara gang buntu. “Kena!” Kenji menarik paksa rantai itu. Membuat arwah pria tadi tersentak. Terlempar keluar dari persembunyiannya. “Mau kemana kau Pria Tua! Kau tak akan bisa lari!” Kenji berjalan mendekat. Sssst. Sebuah bola cahaya biru besar melesat kearah Kenji. Dia menangkis shoukatsui itu dengan tangan kanannya. Tanpa melihat arah datangnya bola cahaya itu. Duaar. Tembok pembatas jalan di sebelah kanannya hancur terkena shoukatsui. Aksi Kenji masih berlanjut. Faiareddo kembali muncul di tangan kanannya. Dengan gerakan cepat. Bless. Pedang itu tertancap di dada pria tua tadi. Tangan kiri Kenji menarik paksa ujung rantai yang melekat di dadanya.

“Aaaargh.” Pria itu mengerang keras. Sebuah Kristal kuning keluar dari tubuhnya. Tubuh pria itu perlahan lenyap seperti asap. Kenji menangkap Kristal itu dengan tangan kirinya. “Hanya Kristal biasa,” gumamnya. Dia membalikkan tubuhnya. Menatap Kirishima yang tercengang melihat aksinya. Kirishima terlambat mencegahnya.

“Baik. Sampai di sini saja Kirishima. Lain kali ada baiknya kau membawa teman,” ucap Kenji. Senyum kepuasan terkembang di bibirnya. Kirishima diam. Tak berdaya. Dia terlambat. Dia telah kalah. Tak lama, sayap hitam Kenji mengembang. Lalu menuntupi seluruh tubuh depannya. Seketika sosoknya lenyap. Meninggalkan beberapa helai bulu hitam yang melayang di udara.

Dark Butterfly #1

Part 1 _ Pertemuan Yang Menjadi Awal

“Hey mau kemana kau?” Seorang pemuda tengah mengejar kupu-kupu hitam yang terbang dengan cepat. Pemuda itu mengenakan jaket hitam dengan padanan celana panjang hitam. Rambutnya pendek berwarna merah darah. Wajah tampannya sesekali terlihat terkena cahaya rembulan. Malam ini bulan purnama penuh. Pemuda itu bergerak cepat melompat dari atap rumah yang satu ke atap rumah yang lain. Pandangan matanya terus terfokus pada kupu-kupu hitam di depannya.

“Bekerjalah dengan benar Kenji!” Pemuda berjubah hitam panjang melesat melewati pemuda berjaket hitam. Rambut panjang keemasannya terurai melambai-lambai saat dia bergerak. Wajah pemuda ini tak kalah tampannya dengan wajah pemuda pertama. Tiba-tiba pemuda kedua berhenti tepat di atas atap rumah. Cahaya rembulan menyinarinya membuat rambut keemasannya tampak indah.

“Kenapa kau suka sekali berhenti tiba-tiba seperti itu Ichiru?” gumam Kenji kesal. Dia hampir saja terjatuh karena harus berhenti mendadak. Kenji berdiri di samping Ichiru.

“Lihatlah itu!” Telunjuk tangan kanan Ichiru menunjuk ke bawah. Kupu-kupu hitam yang dikejar mereka terbang berputar-putar di atas kepala seorang gadis yang sedang berjalan sendirian. Seragam sekolah masih melekat di tubuhnya. Rambut hitamnya terurai sebahu. Gadis itu tampak lesu. Tak bersemangat. Dengan lemah dia berjalan.

“Apa yang akan dilakukannya?” tanya Kenji. Ichiru mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu. “Ah, aku lelah,” keluh Kenji. Kenji menghempaskan pantatnya di atap rumah tempatnya berdiri. Kedua kakinya di lipat, duduk bersila. Ichiru masih tetap mengawasi gadis itu.

Gadis itu berjalan tak menentu sampai ke tengah jalan. Langkah kakinya berhenti. Gadis itu berdiri di tengah jalan. Diam. Tanpa diduga sebuah truk melaju dengan cepat dari arah belakang gadis itu.
“Sial, dia mau mengakhiri hidupnya!” gumam Ichiru. Dia melesat turun dengan cepat menyambar tubuh gadis yang diawasinya tadi. “Kau sudah gila!” bentak Ichiru pada gadis itu. Kini mereka berdiri berhadapan. Gadis itu menunduk. “Tak usah dengan cara seperti itu kau pun nantinya akan mati!” omel Ichiru lagi. Matanya tajam menatap gadis itu. Hampir saja dia mengacaukan pekerjaanku, batin Ichiru. Untung saja masih sempat terselamatkan. “GADIS BODOH!”

“Apa?” Gadis itu mendongak.

Ichiru tak menghiraukan ucapan gadis itu. Dia langsung membalikkan tubuhnya berjalan menjauhi gadis itu.

“HEY AKU BELUM SELESAI BICARA DENGANMU!” teriak gadis itu. Ichiru tak menggubrisnya. Gadis itu berlari cepat mengejar Ichiru. Dia lalu mendahuluinya dan berdiri di depan Ichiru. “Kau tuli ya!” ejek gadis itu menantang Ichiru.

Ichiru melotot marah. “Apa maumu gadis bodoh?” tanya Ichiru ketus.

“Kau harus tanggung jawab!” ucap gadis itu spontan. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Dia terlihat kesal.

“…..” Ichiru tak menjawab. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya.

“Kau sudah mencegahku untuk mati. Kau harus tanggung jawab,” jelas gadis itu.

Ichiru berjalan mendekat pada gadis itu. Melihat itu gadis berambut sebahu itu berjalan mundur. Menjaga jarak dengan Ichiru. Ichiru menatap tajam gadis itu. Tatapan dingin. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Membuat nyali gadis itu perlahan menyurut. “A-apa maumu?” tanya gadis itu terbata. Raut wajahnya berubah takut.

“Kau menyuruhku tanggung jawab bukan?” Ichiru tersenyum sinis. Dia terus berjalan mendekati gadis itu. Tanpa disadarinya gadis itu sudah tersudut di gang buntu. Gadis itu tak dapat kemana-mana lagi. Dia benar-benar tersudut sekarang. Ichiru masih mendekatinya. Tangan kanan Ichiru menggapai pipi kiri gadis itu. “Kau mau apa?” dengan sisa keberaniannya gadis itu kembali bertanya.

Ichiru lagi-lagi tak menjawab. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Makin dekat dan dekat sampai gadis itu mampu merasakan napas Ichiru. Dengan takut-takut gadis itu memejamkan matanya. Ichiru tersenyum tipis. “Dasar gadis bodoh!” bisik Ichiru di telinga gadis itu. Lama gadis itu memejamkan matanya. Tapi tak ada perlakuan apapun terhadapnya. Perlahan gadis itu membuka matanya. Dilihatnya Ichiru sudah tak ada di depannya. Dia menghilang. Gadis itu menoleh kesana kemari tapi tak ditemukannya sosok pemuda berambut emas itu. dia sudah menghilang.
****

“Kau itu bodoh! Kenapa berinteraksi dengan calon buruanmu?” Kenji masih mengomel memarahi Ichiru.

“Berisik!” ucap Ichiru ketus. Dia berjalan melawati Kenji begitu saja. Kenji makin kesal dengan sikap dingin Ichiru itu. Ichiru terus berjalan memasuki sebuah rumah besar bergaya Eropa. Sebuah rumah kuno yang mewah di tengah hutan. Kenji mengikutinya.

“Kau benar-benar menyebalkan Ichiru!” ujar Kenji masih kesal. “Kau juga menyebalkan cho!” Kenji menoleh ke samping. Menatap kesal kupu-kupu hitam yang terbang dengan pelan di sampingnya. Binatang cantik itu kini menjadi pelampiasan kekesalan Kenji.

“Apa kau tidak bisa diam? Jika onisan mendengar kau bisa habis!” kata Ichiru datar mengingatkan Kenji untuk berhati-hati dengan ucapannya. Mereka sudah berada dalam rumah besar itu. Mereka menaiki tangga bersamaan.

“Bagaimana kerja kalian hari ini?” sebuah suara bass selembut beledu menyapa mereka. Pandangan Ichiru dan Kenji langsung tertuju pada pemilik suara itu. Seorang pemuda berkaca mata dengan setelan jas hitamnya berdiri bersandar di dinding dekat tangga. Rambutnya pendek berwarna hitamnya sesekali bergerak-gerak tertiup angin yang menerobos dari jendela rumah itu yang terbuka.

“Buruk Onisan, Ichiru bermain-main dengan calon buruannya,” adu Kenji pada pemuda itu. Ichiru malah memalingkan mukanya.

“Aku lelah!” kata Ichiru. Dia berjalan menuju kamarnya. Pemuda yang menyapa Ichiru dan Kenji hanya mampu menggelengkan kepala. Memang seperti itulah adiknya.
*****

Ichiru menghempaskan badannya di atas tempat tidur empuknya. Tangan kirinya menggapai sebuah bingkai foto di meja dekat tempat tidurnya. Dipandanginya foto itu lekat. Terlihat seorang pemuda berambut emas dengan sayap hitam di punggungnya sedang memeluk seorang gadis berambut panjang yang tengah tersenyum ceria. Tatapan dingin Ichiru berubah teduh. “Hikari,” gumam Ichiru. Matanya terpejam. Dipeluknya bingkai foto itu. Angannya melayang jauh meninggalkan jiwanya.

“Lihat ini Ichiru. Indah bukan?”

“Ichiru tunggu! Hikari takut. Jangan tinggalkan Hikari!”

“PERGI! Hikari tidak mau bertemu Ichiru! Hikari benci Ichiru!”

Bayangan gadis dalam foto itu terlintas dalam benak Ichiru. Suara-suaranya bahkan seperti terdengar jelas di telinganya. “Maafkan aku Hikari.”
****

Dark Butterfly #Prolog

DARK BUTTERFLY

Writer : Vievie Dwi
Genre : Fantasy, romance, action

Prolog

Tak ada yang tahu…
Tak ada yang menginginkan menjadi seperti ini…
Hidup dengan mengepakan sayap hitam
Merenggut setiap kristal-kristal kehidupan dari roh-roh yang tersesat
Dari setiap arwah-arwah yang baru terlahir
Hanya untuk mencari kemurnian
Demi menghidupkan Sang Kupu-kupu hitam tertinggi

“Kau takkan bisa lari lagi!” Seorang pemuda berambut hitam pendek menyeringai. Matanya masih terlihat tajam dbalik kacamata beningnya. Buruannya, pria berkemeja biru takut-takut menatap pemuda itu.

“Tolong, jangan musnahkan aku. Aku masih ingin di sini,” ucap pria itu memohon.

“Ini bukan tempatmu!” Pemuda itu mengangkat tangan kanannya ke depan. Cahaya hitam muncul dari tangannya. Cahaya itu membentuk sebilah pisau. “Ucapkan selamat tinggal pada dunia!” Pemuda itu melesat cepat. Menancapkan cahaya hitam di tangannya ke dada buruannya.

“Aaaarrhhg.” Teriakan keras menggema. Tangan kiri pemuda berjubah hitam itu menarik rantai yang melekat pada dada pria buruannya. Sssseesstt. Rantai itu terlepas. Cahaya kebiruan terpancar. Kristal berwarna biru keluar dari tubuh pria itu. Tubuh pria itu pun memuai bagai kabut. Perlahan menghilang lenyap. “Sial!”

Hidup Cuma Sekali

Aku Cuma seorang pemula yang mencoba berkarya. Buat cerpen galau. Gaje, jelek dan aneh pula. Maaf-maaf kalau ada salah-salah. Silahkan komentar, kritik dan sarannya. Selamat membaca!

No CoPaz!
Hargailah karya orang lain!



HIDUP CUMA SEKALI
By: Vievie Dwi

Sudah hampir 30 menit Nara duduk di bangku taman. Sesekali dia melirik jam tangannya. Melihat jarum jamnya sudah menunjukkan pukul berapa. Ini sudah terlalu lama  dari yang dijanjikan. Nara melirik hp disakunya. Belum ada yang menghubungi. Tak ada pesan masuk.
“Dia kemana sih? Kenapa lama sekali?” gerutu Nara sambil memencet beberapa nomor di handphone-nya. Dia menempelkan benda mungil itu di telinganya. Nada tunggu telepon terdengar. Tut tut tut. Krek.
“Kamu dimana?” tanya Nara pada seseorang diseberang telepon.
“Sebentar lagi aku sampai,” jawab orang itu. Suaranya renyah dan selalu Nara rindukan. Krek. Telepon pun dimatikan. Nara kembali harus menunggu untuk beberapa menit. Dia menengadahkan kepala. Memandang langit senja kemerahan. Angin sore semilir menerpa kulit mulusnya. Menerbangkan rambut panjang Nara yang tergerai.
“Maaf, aku terlambat datang,” ujar seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di depan Nara. Napasnya terengah karena dia berjalan tergesa-gesa. Beberpa butir keringat menempel di dahinya. Lelaki itu langsung duduk di sebelah Nara.
“Kenapa lama sekali?” tanya Nara sembari mengembungkan kedua pipinya. Rasa kesal meluap saat lelaki itu muncul. Harus ada alasan yang logis atas lamanya aku menunggumu. Jangan sampai waktuku ini terbuang sia-sia, batin Nara.
Lelaki itu memasang raut memelas. Penuh penyesalan. “Maaf, tadi ada kuliah tambahan di kampus,” sesalnya.
Huft. Nara menghela napas panjang. “Baik aku maafkan,” katanya datar.
“Terima kasih,” balas lelaki berwajah oriental di samping Nara. Senyum manis nan mempesona tersungging di bibirnya. Nara luluh begitu melihatnya. Itulah yang paling disukai Nara dari Kevin, lelaki yang duduk di sebelahnya. Lelaki keturunan Jawa-Cina itu begitu menawan. Rambutnya hitam pendek tertata rapi.
“Ada apa? Katanya ada yang penting untuk dibicarakan?” tanya Nara langsung. Sejak tadi pikirannya terus bertanya-tanya. Tidak biasanya Kevin, kekasihnya mengajak dia bertemu hanya untuk membicarakan hal penting. Toh setiap malam Kevin selalu bertandang ke rumahnya bila dia sedang tidak sibuk.
Kevin mengambil napas panjang. Menenangkan diri. Kata-kata yang akan keluar dari mulutnya mungkin akan membuat Nara shock. Sejenak kebimbangan menghinggapinya. Dia mencoba memantapkan hati. Inilah keputusan yang terbaik untuk mereka. “Aku mau membicarakan soal hubungan kita,” bisiknya
Kening Nara berkerut. “Ada apa? Bukankah hubungan kita baik-baik saja?”
“Iya, tapi….” Kevin menggantung ucapannya. Membuat Nara semakin penasaran dan cemas. Ada masalah apa? tanya Nara dalam hati.
“Aku rasa kita sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini,” lanjut Kevin. Nara tercekat. Matanya membelalak. Tak pernah dia sangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Kevin.
“Ke-kenapa?” kata Nara terbata. Kevin memalingkan muka. Matanya menatap ke depan. Ke hamparan bunga-bunga yang menari tertiup angin. Dia memilih tak memandang wajah Nara. Dia tak akan tega bila memandangnya.
“Aku mau konsen dengan skripsiku.” Sebuah alasan klise terucap dari mulut Kevin. Alasan yang tak mampu diterima Nara. Nara terdiam. Pedih menjalari hatinya. “Maafkan aku Nara. Hubungan kita sampai disini,” sambung Kevin. Dia beranjak berdiri. Meninggalkan Nara dengan kepedihannya.

Sejenak cobalah kau pikir
Tak lelah bila memang semua ini harus berakhir
Sampai disini
Sejenak memang menyakitkan
Aku pun merasakan namun inilah yang terbaik

Malam harinya, Nara mengurung diri di kamar. Menangis. Meluapkan segala kepedihan hatinya. Panggilan dari orang tua dan kakaknya tak dihiraukannya. Bahkan bunyi telepon dari sahabatnya tak diangkatnya. Nara sudah tidak mau peduli dengan keadaan sekitar. Stress dan sakit di hatinya membuat Nara tak mau makan. Pikirannya kosong. Hanya terfokus pada satu orang, Kevin. Dia berharap telepon itu dari Kevin. Tapi lelaki yang sangat ia cintai itu sama sekali tak menghubunginya.
oooOO-oo-OOooo

Keesokan harinya, Nara jatuh sakit. Asam lambungnya meningkat. Maag yang selama ini dideritanya kembali kambuh. Badannya panas. Terkadang tubuhnya menggigil. Orang tua Nara yang cemas akhirnya membawa Nara ke rumah sakit.
Sayangnya, itu tak menjadikan kondisi Nara membaik. Maag yang dideritanya semakin parah. Pendarahan terjadi di lambungnya. Dokter tak mampu berbuat apa-apa. Keadaan Nara memburuk disebabkan faktor dari dalam dirinya sendiri. Obat-obatan pun seakan tak berguna.
Hari kedua Nara dirawat. Sahabatnya, Lita mengunjunginya. Matanya nanar begitu melihat sosok Nara terkuai lemas di atas tempat tidur dengan selang infuse di tangannya. Matanya terpejam. “Ra, kok kamu jadi seperti ini sih?” ucap Lita di samping Nara. Tangan kanannya membelai lembut punggung tangan kiri Nara.
Nara membuka mata. Menatap sahabatnya. Senyum tipis dia lukis. “Aku gak apa-apa, Ta,” kata Nara lemah.
“Gak apa-apa gimana? Kamu terbaring lemas seperti ini. padahal kemarin pagi kamu masih baik-baik saja. Ada apa sebenarnya, Ra? Cerita sama aku. Jangan kamu simpan sendiri masalah kamu!” buru Lita. Nara sudah seperti saudara bagi Lita. Saat senang maupun sedih, Nara selalu ada untuk Lita. Dan sekarang giliran Lita. Dia harus ada untuk Nara disaat apapun.
Raut wajah Nara berubah sedih. Matanya berkaca-kaca. Butir bening meluncur perlahan dari kelopak matanya. “Kevin, Ta…” ujarnya menggantung. Berat baginya menguak luka hatinya.
“Kevin kenapa? Dia menyakiti kamu?”
Akhirnya Nara menceritakan semuanya kepada Lita. Air matanya terus berderai.  Lita memeluk tubuh sahabatnya itu. Dia turut merasakan kepedihan Nara.
oooOO-oo-OOooo

Tanpa sepengetahuan Nara, Lita mencari Kevin. Dia mencoba menghubunginya. Akan tetapi, nomornya tidak aktif. Lita mencoba mencarinya di kampus Kevin. Disana dia tak menemukannya. Sampai Lita bertandang ke rumah Kevin. Sayangnya rumah Kevin telah kosong. Keluarganya telah pindah seminggu yang lalu. Dan tak ada satu orang pun di sekitar rumah Kevin yang tahu kemana pindahnya mereka. Kevin seolah menghilang begitu saja.
Lita pulang dengan tangan hampa. Tanpa hasil. Wajahnya murung. Dia duduk lemas di teras rumahnya.
“Heh, anak cewek melamun saja kerjaannya!” teriak Rio, kakak sepupu Lita yang sedang berkunjung ke rumahnya. Hal itu membuat Lita tersentak kaget.
“Ah, kamu mengagetkan aku saja!” ujar Lita cemberut.
Rio cekikikan. “Habis kamu melamum begitu! Kalau kesambet kan aku juga yang repot.”
“Huh. Aku itu lagi pusing. Jangan ganggu, ah!” bentak Lita.
“Pusing kenapa memang?” Rio ikut duduk di sebelah Lita.
“Temanku, Nara sakit. Sampai sekarang belum sembuh juga. Aku gak tahu lagi harus bagaimana untuk membantu menyembuhkannya?” keluh Lita.
“Ya, bawa ke dokter dong.”
“Sudah. Masalahnya yang dia derita bukan Cuma sakit fisik yang bisa disembuhin pakai dokter atau obat. Sakit hati, mentalnya yang kena. Mengobatinya sudah. Aku hampir putus asa. Aku takut kalau dia kenapa-napa.” Lita kembali berkaca-kaca jika memikirkan kemungkinan terburuk yang akan menimpa Nara.
Sementara itu, Rio yang sedari tadi mendengarkannya tampak sedang berpikir. “Yang bisa membantu mengobati itu adalah orang-orang disekitarnya. Harus selalu memberi support dan semangat. Dan jangan lupa terus diyakinkan agar dia tidak putus asa. Dihibur juga perlu,” ujar Rio bersaran.
“Hmmm..iya.”
“Memang masalahnya kenapa dia bisa begitu?”
“Patah hati, Yo. Diputus sama pacarnya.”
Rio tersenyum kecil. “Masalah begitu mudah. Kenalkan saja seseorang yang baru. Yang bisa memberinya cinta yang baru. Pasti terobati.”
oooOO-oo-OOooo

Hampir setiap hari Lita mengujungi Nara. Seperti sekarang ini, hari ketujuh Nara dirawat. Lita pun kembali mengunjunginya. Senyum lebar sengaja dia lukis untuk menghibur Nara.
Di luar kamar Nara dirawat, Lita bertemu dengan orang tua Nara. Dia menghampirinya. Mama Nara tampak lesu. Ada lingkar hitam di matanya. Mama Nara tidak cukup tidur karena menjaga Nara. Matanya juga terlihat sembab habis menangis.
“Bagaimana keadaan Nara, Tante?” tanya Lita kepada wanita paruh baya di depannya.
“Makin memburuk, Ta. Kalau terus seperti itu livernya bisa kena,” jawab mama Nara. Tangis kembali pecah. Papa Nara memeluk istrinya. Mencoba menenangkan. “Tante tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menyembuhkannya.”
“Sakit yang Nara derita bukan hanya sakit secara fisik saja Tante. Tapi, batinnya lah yang paling sakit dan itu yang harusnya kita obati terlebih dahulu,” kata Lita tampak bijak di depan kedua orang tua Nara yang sedang bersedih.
“Iya, Ta. Kami sudah mencoba menasehatinya. Tapi, Nara seolah tidak peduli,” sahut papa Nara.
“Pelan-pelan, Om. Tidak mudah memang mencoba mengobati luka batin seperti itu. Lita juga akan terus mencoba untuk membantu menyadarkan Nara. Om dan Tante tenang saja. Nara pasti kembali sehat,” Lita optimis berujar.
Papa Nara mengangguk mengerti. “Terima kasih ya, Ta.” Dia sedikit lega mendengar ucapan Lita. Keyakinannya kembali bangkit.
“Saya masuk ke dalam dulu ya, Om dan Tante,” pamit Lita. Kedua orang tua Nara memberikan anggukan kepala. Lita pun meninggalkan mereka berdua.
Di dalam kamar rawat Nara, dia masih terbaring. Wajah Nara masih pucat. Lita mendekat ke sisi tempat tidur Nara. “Hay, Ra. Apa kabar?” sapa Lita sembari tersenyum manis.
“Seperti yang kamu lihat, Ta,” jawab Nara lemah. “Aku kangen Kevin, Ta. Dia sama sekali tidak menghubungiku. Apa kamu memberitahu dia tentang keadaanku ini?” sambung Nara.
Lita menggeleng lemah. “Sebaiknya kamu tidak perlu mengharapkan Kevin lagi. Kamu harus bisa melupakannya. Jangan memikirkan dia lagi.”
“Gak. Aku gak bisa melakukan itu, Ta. Aku sangat mencintainya. Hidupku terasa hampa tanpa dia. Aku kayak gak punya arti lagi hidup di dunia ini kalau dia gak ada di sisiku.”
Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Nara. Lita menatapnya tajam. Pipi Lita telah basah air mata. “Kamu gak boleh bicara seperti itu!”
“………” Nara terdiam memalingkan muka.
“Kamu gak boleh menyia-nyiakan hidup yang cuma sekali ini. Hidup kamu masih berarti. Kevin bukanlah segalanya! Lupain Kevin. Dia itu sudah pergi.”
“Maksud kamu?”
“Kevin sudah pindah. Dia menghilang tanpa kabar. Tak ada orang yang tahu keman dia,” jelas Lita.
“Gak. Gak mungkin.” Nara bangkit dari tidurnya.
“Kamu mau ngapain?”
“Aku mau cari Kevin, Ta!” Nara melepas infusnya. Dengan tubuh lemah, dia mencoba berdiri. Lita menahannya. “Jangan tahan aku, Ta. Aku mau cari Kevin! Lepasin aku, Ta.” Nara berusaha berontak.
“Gak, kamu gak boleh melakukan itu. Tubuh kamu masih lemah!” Lita memegangi tubuh Nara erat.
“Lepasin, Ta! Lepasin!” teriak Nara.
“NARA, JANGAN MELAKUKAN HAL BODOH!” teriak Lita tak kalah keras. Membuat Nara berhenti berontak. “Ingat Ra, kamu masih punya orang tua yang mencemaskan kamu. Masih ada Kak Revo yang selalu peduli. Masih ada aku, Ra. Sahabat yang akan selalu berada di sisi kamu. Kamu gak boleh egois! Kamu juga harus mikirin kita? Bagaimana sedihnya orangtua, kakak dan juga orang-orang di sekitar kamu kalau kamu menyia-nyiakan hidup kamu begitu saja. Kami gak mau kehilangan kamu, Ra! Kamu harus kuat. Kamu harus jadi seperti Nara yang dulu. Nara yang ceria. Lakukan itu bukan Cuma buat diri kamu sendiri tapi juga buat orang-orang di sekitar kamu. Apa kamu mau melihat orang-orang di sekitar kamu sedih?” Lita tampak berapi-api mengelurkan nasehatnya. Betapa sedih hatinya melihat sahabat yang dikasihinya menyia-nyiakan hidup hanya karena cinta.
Nara terdiam. Merenungi setiap kata-kata Lita. Lita memang benar. Hidup di dunia ini bukan hanya tentang cinta. Bukan hanya untuk memikirkan satu orang lelaki. Masih banyak hal yang bisa dia dilakukan. Masih banyak hal yang bisa dia raih. Mimpinya. Cita-citanya. Kebahagiaan bukan hanya datang dari satu orang saja. Dia masih bisa mendapatkannya dari orang lain. Dari orangtua, saudara dan teman-temannya. Harusnya dia memikirkan meraka pula. Tamparan Lita tak hanya menampar pipinya. Tapi juga menyadarkan dirinya bahwa masih ada hal lain yang lebih berarti selain cinta. Patah hati tidak membuat hidupnya berakhir. Kegagalan itu merupakan sebuah awal untuk keberhasilan yang akan datang. Cinta tak akan mati. Dia masih bisa mendapatkannya lagi. “Maafkan aku, Ta. Aku memang bodoh dan egois. Sekarang, aku sadar. Kevin bukan segalanya. Aku akan melupakannya dan bangkit. Aku akan mencoba untuk sembuh.” Air mata Nara meluncur membasahi pipinya. Lita mendekat. Memeluk tubuh mungil sahabatnya.
“Iya, Ra. Kamu harus sehat. Kamu harus kuat dan bangkit dari kepedihan ini.”

Janganlah kau diam
Terus berjalan
Hidup hanya sekali
Jangan biarkan menunggu
Waktu tak akan kembali
Biarkan saja berlalu
Cinta tak akan mati Mengisi relung hatimu
Meski tak ada lagi cinta seperti yang dulu
Sejenak cobalah kau pikir
Secercah harapankan selalu menemani langkahmu
Janganlah kau diam
Terus berjalan
Lupakan semua lukamu
Lupakan semua yang membuatmu menangis
Yakinkan senyummu untuk bisa terangi hatimu
Hidup hanya sekali
Jangan biarkan menunggu
Waktu tak akan kembali
Cinta tak akan mati mengisi relung hatimu
Meski tak ada lagi cinta seperti yang dulu
@(Garasi – Hidup cuma sekali)@

-THE END-


PS: Aku mau berkoar sebentar nih. Maaf-maaf kalau kesannya bawel atau menggurui. Cuma sekedar komentar dan berbagi pikiran serta buat mengingatkan diri sendiri juga sih. Oh, iya Cerpen ini terinspirasi dari keterpurukan orang-orang disekitarku yang merana kerena cinta, dari pengalaman yang pernah aku alami juga sih, juga dari lagunya Garasi Band. Lagunya bikin aku sadar supaya jangan pernah menyia-nyiakan hidup! Gak ada artinya terus terpuruk pada yang namanya patah hati. Judulnya sengaja aku samakan dengan judul lagu itu. Thanks to Garasi Band, Fedi Nuril and my friends.

Kegagalan dalam masalah percintaan bukanlah akhir dari segalanya. Masih banyak hal yang lebih berarti. Jika kamu patah hati atau cintamu tak berbalas jangan berputus asa. Kamu pasti akan mendapatkan cinta yang lain, yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tenang saja. Tuhan itu Maha Adil. Tuhan membagi secara adil cinta di dunia ini.
Kalau mau mewek-mewek sebentar, bolehlah. Satu atau dua hari saja cukup. Setelah puas meluapkan kesedihan, harus kembali bangkit. Jangan terus terpuruk! Ada kan pepatah yang dikatakan Wali band dalam lagunya “Mati satu tumbuh sepuluh ribu.” Kalau kata ST12, “Cari pacar lagi.” Kalau kata Nyak aku,” Dalam masa pacaran itu jangan terlalu mendalam mencintai, karena belum tentu orang yang kita pacari itu menjadi pendamping hidup kita atau jodoh kita. Pacaran itu cuma masa perkenalan. Masa pendekatan buat memahami satu sama lain. Jadi biasa ajalah perasaannya. Malah dalam islam gak ada kan yang namanya pacaran? Kalau mau benar-benar mencintai, ntar-ntar aja waktu sudah nikah!”
Yach, memang gak mudah melupakan. Tapi, percaya deh pasti bisa! So, Keep move on! Jalan yang ada di depan kita masih panjang. Semangat!