Aku Cuma seorang pemula yang mencoba berkarya. Buat cerpen galau. Gaje, jelek dan aneh pula. Maaf-maaf kalau ada salah-salah. Silahkan komentar, kritik dan sarannya. Selamat membaca!
No CoPaz!
Hargailah karya orang lain!
HIDUP CUMA SEKALI
By: Vievie Dwi
Sudah hampir 30 menit Nara duduk di bangku taman. Sesekali dia melirik jam tangannya. Melihat jarum jamnya sudah menunjukkan pukul berapa. Ini sudah terlalu lama dari yang dijanjikan. Nara melirik hp disakunya. Belum ada yang menghubungi. Tak ada pesan masuk.
“Dia kemana sih? Kenapa lama sekali?” gerutu Nara sambil memencet beberapa nomor di handphone-nya. Dia menempelkan benda mungil itu di telinganya. Nada tunggu telepon terdengar. Tut tut tut. Krek.
“Kamu dimana?” tanya Nara pada seseorang diseberang telepon.
“Sebentar lagi aku sampai,” jawab orang itu. Suaranya renyah dan selalu Nara rindukan. Krek. Telepon pun dimatikan. Nara kembali harus menunggu untuk beberapa menit. Dia menengadahkan kepala. Memandang langit senja kemerahan. Angin sore semilir menerpa kulit mulusnya. Menerbangkan rambut panjang Nara yang tergerai.
“Maaf, aku terlambat datang,” ujar seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di depan Nara. Napasnya terengah karena dia berjalan tergesa-gesa. Beberpa butir keringat menempel di dahinya. Lelaki itu langsung duduk di sebelah Nara.
“Kenapa lama sekali?” tanya Nara sembari mengembungkan kedua pipinya. Rasa kesal meluap saat lelaki itu muncul. Harus ada alasan yang logis atas lamanya aku menunggumu. Jangan sampai waktuku ini terbuang sia-sia, batin Nara.
Lelaki itu memasang raut memelas. Penuh penyesalan. “Maaf, tadi ada kuliah tambahan di kampus,” sesalnya.
Huft. Nara menghela napas panjang. “Baik aku maafkan,” katanya datar.
“Terima kasih,” balas lelaki berwajah oriental di samping Nara. Senyum manis nan mempesona tersungging di bibirnya. Nara luluh begitu melihatnya. Itulah yang paling disukai Nara dari Kevin, lelaki yang duduk di sebelahnya. Lelaki keturunan Jawa-Cina itu begitu menawan. Rambutnya hitam pendek tertata rapi.
“Ada apa? Katanya ada yang penting untuk dibicarakan?” tanya Nara langsung. Sejak tadi pikirannya terus bertanya-tanya. Tidak biasanya Kevin, kekasihnya mengajak dia bertemu hanya untuk membicarakan hal penting. Toh setiap malam Kevin selalu bertandang ke rumahnya bila dia sedang tidak sibuk.
Kevin mengambil napas panjang. Menenangkan diri. Kata-kata yang akan keluar dari mulutnya mungkin akan membuat Nara shock. Sejenak kebimbangan menghinggapinya. Dia mencoba memantapkan hati. Inilah keputusan yang terbaik untuk mereka. “Aku mau membicarakan soal hubungan kita,” bisiknya
Kening Nara berkerut. “Ada apa? Bukankah hubungan kita baik-baik saja?”
“Iya, tapi….” Kevin menggantung ucapannya. Membuat Nara semakin penasaran dan cemas. Ada masalah apa? tanya Nara dalam hati.
“Aku rasa kita sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini,” lanjut Kevin. Nara tercekat. Matanya membelalak. Tak pernah dia sangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Kevin.
“Ke-kenapa?” kata Nara terbata. Kevin memalingkan muka. Matanya menatap ke depan. Ke hamparan bunga-bunga yang menari tertiup angin. Dia memilih tak memandang wajah Nara. Dia tak akan tega bila memandangnya.
“Aku mau konsen dengan skripsiku.” Sebuah alasan klise terucap dari mulut Kevin. Alasan yang tak mampu diterima Nara. Nara terdiam. Pedih menjalari hatinya. “Maafkan aku Nara. Hubungan kita sampai disini,” sambung Kevin. Dia beranjak berdiri. Meninggalkan Nara dengan kepedihannya.
Sejenak cobalah kau pikir
Tak lelah bila memang semua ini harus berakhir
Sampai disini
Sejenak memang menyakitkan
Aku pun merasakan namun inilah yang terbaik
Malam harinya, Nara mengurung diri di kamar. Menangis. Meluapkan segala kepedihan hatinya. Panggilan dari orang tua dan kakaknya tak dihiraukannya. Bahkan bunyi telepon dari sahabatnya tak diangkatnya. Nara sudah tidak mau peduli dengan keadaan sekitar. Stress dan sakit di hatinya membuat Nara tak mau makan. Pikirannya kosong. Hanya terfokus pada satu orang, Kevin. Dia berharap telepon itu dari Kevin. Tapi lelaki yang sangat ia cintai itu sama sekali tak menghubunginya.
oooOO-oo-OOooo
Keesokan harinya, Nara jatuh sakit. Asam lambungnya meningkat. Maag yang selama ini dideritanya kembali kambuh. Badannya panas. Terkadang tubuhnya menggigil. Orang tua Nara yang cemas akhirnya membawa Nara ke rumah sakit.
Sayangnya, itu tak menjadikan kondisi Nara membaik. Maag yang dideritanya semakin parah. Pendarahan terjadi di lambungnya. Dokter tak mampu berbuat apa-apa. Keadaan Nara memburuk disebabkan faktor dari dalam dirinya sendiri. Obat-obatan pun seakan tak berguna.
Hari kedua Nara dirawat. Sahabatnya, Lita mengunjunginya. Matanya nanar begitu melihat sosok Nara terkuai lemas di atas tempat tidur dengan selang infuse di tangannya. Matanya terpejam. “Ra, kok kamu jadi seperti ini sih?” ucap Lita di samping Nara. Tangan kanannya membelai lembut punggung tangan kiri Nara.
Nara membuka mata. Menatap sahabatnya. Senyum tipis dia lukis. “Aku gak apa-apa, Ta,” kata Nara lemah.
“Gak apa-apa gimana? Kamu terbaring lemas seperti ini. padahal kemarin pagi kamu masih baik-baik saja. Ada apa sebenarnya, Ra? Cerita sama aku. Jangan kamu simpan sendiri masalah kamu!” buru Lita. Nara sudah seperti saudara bagi Lita. Saat senang maupun sedih, Nara selalu ada untuk Lita. Dan sekarang giliran Lita. Dia harus ada untuk Nara disaat apapun.
Raut wajah Nara berubah sedih. Matanya berkaca-kaca. Butir bening meluncur perlahan dari kelopak matanya. “Kevin, Ta…” ujarnya menggantung. Berat baginya menguak luka hatinya.
“Kevin kenapa? Dia menyakiti kamu?”
Akhirnya Nara menceritakan semuanya kepada Lita. Air matanya terus berderai. Lita memeluk tubuh sahabatnya itu. Dia turut merasakan kepedihan Nara.
oooOO-oo-OOooo
Tanpa sepengetahuan Nara, Lita mencari Kevin. Dia mencoba menghubunginya. Akan tetapi, nomornya tidak aktif. Lita mencoba mencarinya di kampus Kevin. Disana dia tak menemukannya. Sampai Lita bertandang ke rumah Kevin. Sayangnya rumah Kevin telah kosong. Keluarganya telah pindah seminggu yang lalu. Dan tak ada satu orang pun di sekitar rumah Kevin yang tahu kemana pindahnya mereka. Kevin seolah menghilang begitu saja.
Lita pulang dengan tangan hampa. Tanpa hasil. Wajahnya murung. Dia duduk lemas di teras rumahnya.
“Heh, anak cewek melamun saja kerjaannya!” teriak Rio, kakak sepupu Lita yang sedang berkunjung ke rumahnya. Hal itu membuat Lita tersentak kaget.
“Ah, kamu mengagetkan aku saja!” ujar Lita cemberut.
Rio cekikikan. “Habis kamu melamum begitu! Kalau kesambet kan aku juga yang repot.”
“Huh. Aku itu lagi pusing. Jangan ganggu, ah!” bentak Lita.
“Pusing kenapa memang?” Rio ikut duduk di sebelah Lita.
“Temanku, Nara sakit. Sampai sekarang belum sembuh juga. Aku gak tahu lagi harus bagaimana untuk membantu menyembuhkannya?” keluh Lita.
“Ya, bawa ke dokter dong.”
“Sudah. Masalahnya yang dia derita bukan Cuma sakit fisik yang bisa disembuhin pakai dokter atau obat. Sakit hati, mentalnya yang kena. Mengobatinya sudah. Aku hampir putus asa. Aku takut kalau dia kenapa-napa.” Lita kembali berkaca-kaca jika memikirkan kemungkinan terburuk yang akan menimpa Nara.
Sementara itu, Rio yang sedari tadi mendengarkannya tampak sedang berpikir. “Yang bisa membantu mengobati itu adalah orang-orang disekitarnya. Harus selalu memberi support dan semangat. Dan jangan lupa terus diyakinkan agar dia tidak putus asa. Dihibur juga perlu,” ujar Rio bersaran.
“Hmmm..iya.”
“Memang masalahnya kenapa dia bisa begitu?”
“Patah hati, Yo. Diputus sama pacarnya.”
Rio tersenyum kecil. “Masalah begitu mudah. Kenalkan saja seseorang yang baru. Yang bisa memberinya cinta yang baru. Pasti terobati.”
oooOO-oo-OOooo
Hampir setiap hari Lita mengujungi Nara. Seperti sekarang ini, hari ketujuh Nara dirawat. Lita pun kembali mengunjunginya. Senyum lebar sengaja dia lukis untuk menghibur Nara.
Di luar kamar Nara dirawat, Lita bertemu dengan orang tua Nara. Dia menghampirinya. Mama Nara tampak lesu. Ada lingkar hitam di matanya. Mama Nara tidak cukup tidur karena menjaga Nara. Matanya juga terlihat sembab habis menangis.
“Bagaimana keadaan Nara, Tante?” tanya Lita kepada wanita paruh baya di depannya.
“Makin memburuk, Ta. Kalau terus seperti itu livernya bisa kena,” jawab mama Nara. Tangis kembali pecah. Papa Nara memeluk istrinya. Mencoba menenangkan. “Tante tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menyembuhkannya.”
“Sakit yang Nara derita bukan hanya sakit secara fisik saja Tante. Tapi, batinnya lah yang paling sakit dan itu yang harusnya kita obati terlebih dahulu,” kata Lita tampak bijak di depan kedua orang tua Nara yang sedang bersedih.
“Iya, Ta. Kami sudah mencoba menasehatinya. Tapi, Nara seolah tidak peduli,” sahut papa Nara.
“Pelan-pelan, Om. Tidak mudah memang mencoba mengobati luka batin seperti itu. Lita juga akan terus mencoba untuk membantu menyadarkan Nara. Om dan Tante tenang saja. Nara pasti kembali sehat,” Lita optimis berujar.
Papa Nara mengangguk mengerti. “Terima kasih ya, Ta.” Dia sedikit lega mendengar ucapan Lita. Keyakinannya kembali bangkit.
“Saya masuk ke dalam dulu ya, Om dan Tante,” pamit Lita. Kedua orang tua Nara memberikan anggukan kepala. Lita pun meninggalkan mereka berdua.
Di dalam kamar rawat Nara, dia masih terbaring. Wajah Nara masih pucat. Lita mendekat ke sisi tempat tidur Nara. “Hay, Ra. Apa kabar?” sapa Lita sembari tersenyum manis.
“Seperti yang kamu lihat, Ta,” jawab Nara lemah. “Aku kangen Kevin, Ta. Dia sama sekali tidak menghubungiku. Apa kamu memberitahu dia tentang keadaanku ini?” sambung Nara.
Lita menggeleng lemah. “Sebaiknya kamu tidak perlu mengharapkan Kevin lagi. Kamu harus bisa melupakannya. Jangan memikirkan dia lagi.”
“Gak. Aku gak bisa melakukan itu, Ta. Aku sangat mencintainya. Hidupku terasa hampa tanpa dia. Aku kayak gak punya arti lagi hidup di dunia ini kalau dia gak ada di sisiku.”
Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Nara. Lita menatapnya tajam. Pipi Lita telah basah air mata. “Kamu gak boleh bicara seperti itu!”
“………” Nara terdiam memalingkan muka.
“Kamu gak boleh menyia-nyiakan hidup yang cuma sekali ini. Hidup kamu masih berarti. Kevin bukanlah segalanya! Lupain Kevin. Dia itu sudah pergi.”
“Maksud kamu?”
“Kevin sudah pindah. Dia menghilang tanpa kabar. Tak ada orang yang tahu keman dia,” jelas Lita.
“Gak. Gak mungkin.” Nara bangkit dari tidurnya.
“Kamu mau ngapain?”
“Aku mau cari Kevin, Ta!” Nara melepas infusnya. Dengan tubuh lemah, dia mencoba berdiri. Lita menahannya. “Jangan tahan aku, Ta. Aku mau cari Kevin! Lepasin aku, Ta.” Nara berusaha berontak.
“Gak, kamu gak boleh melakukan itu. Tubuh kamu masih lemah!” Lita memegangi tubuh Nara erat.
“Lepasin, Ta! Lepasin!” teriak Nara.
“NARA, JANGAN MELAKUKAN HAL BODOH!” teriak Lita tak kalah keras. Membuat Nara berhenti berontak. “Ingat Ra, kamu masih punya orang tua yang mencemaskan kamu. Masih ada Kak Revo yang selalu peduli. Masih ada aku, Ra. Sahabat yang akan selalu berada di sisi kamu. Kamu gak boleh egois! Kamu juga harus mikirin kita? Bagaimana sedihnya orangtua, kakak dan juga orang-orang di sekitar kamu kalau kamu menyia-nyiakan hidup kamu begitu saja. Kami gak mau kehilangan kamu, Ra! Kamu harus kuat. Kamu harus jadi seperti Nara yang dulu. Nara yang ceria. Lakukan itu bukan Cuma buat diri kamu sendiri tapi juga buat orang-orang di sekitar kamu. Apa kamu mau melihat orang-orang di sekitar kamu sedih?” Lita tampak berapi-api mengelurkan nasehatnya. Betapa sedih hatinya melihat sahabat yang dikasihinya menyia-nyiakan hidup hanya karena cinta.
Nara terdiam. Merenungi setiap kata-kata Lita. Lita memang benar. Hidup di dunia ini bukan hanya tentang cinta. Bukan hanya untuk memikirkan satu orang lelaki. Masih banyak hal yang bisa dia dilakukan. Masih banyak hal yang bisa dia raih. Mimpinya. Cita-citanya. Kebahagiaan bukan hanya datang dari satu orang saja. Dia masih bisa mendapatkannya dari orang lain. Dari orangtua, saudara dan teman-temannya. Harusnya dia memikirkan meraka pula. Tamparan Lita tak hanya menampar pipinya. Tapi juga menyadarkan dirinya bahwa masih ada hal lain yang lebih berarti selain cinta. Patah hati tidak membuat hidupnya berakhir. Kegagalan itu merupakan sebuah awal untuk keberhasilan yang akan datang. Cinta tak akan mati. Dia masih bisa mendapatkannya lagi. “Maafkan aku, Ta. Aku memang bodoh dan egois. Sekarang, aku sadar. Kevin bukan segalanya. Aku akan melupakannya dan bangkit. Aku akan mencoba untuk sembuh.” Air mata Nara meluncur membasahi pipinya. Lita mendekat. Memeluk tubuh mungil sahabatnya.
“Iya, Ra. Kamu harus sehat. Kamu harus kuat dan bangkit dari kepedihan ini.”
Janganlah kau diam
Terus berjalan
Hidup hanya sekali
Jangan biarkan menunggu
Waktu tak akan kembali
Biarkan saja berlalu
Cinta tak akan mati Mengisi relung hatimu
Meski tak ada lagi cinta seperti yang dulu
Sejenak cobalah kau pikir
Secercah harapankan selalu menemani langkahmu
Janganlah kau diam
Terus berjalan
Lupakan semua lukamu
Lupakan semua yang membuatmu menangis
Yakinkan senyummu untuk bisa terangi hatimu
Hidup hanya sekali
Jangan biarkan menunggu
Waktu tak akan kembali
Cinta tak akan mati mengisi relung hatimu
Meski tak ada lagi cinta seperti yang dulu
@(Garasi – Hidup cuma sekali)@
-THE END-
PS: Aku mau berkoar sebentar nih. Maaf-maaf kalau kesannya bawel atau menggurui. Cuma sekedar komentar dan berbagi pikiran serta buat mengingatkan diri sendiri juga sih. Oh, iya Cerpen ini terinspirasi dari keterpurukan orang-orang disekitarku yang merana kerena cinta, dari pengalaman yang pernah aku alami juga sih, juga dari lagunya Garasi Band. Lagunya bikin aku sadar supaya jangan pernah menyia-nyiakan hidup! Gak ada artinya terus terpuruk pada yang namanya patah hati. Judulnya sengaja aku samakan dengan judul lagu itu. Thanks to Garasi Band, Fedi Nuril and my friends.
Kegagalan dalam masalah percintaan bukanlah akhir dari segalanya. Masih banyak hal yang lebih berarti. Jika kamu patah hati atau cintamu tak berbalas jangan berputus asa. Kamu pasti akan mendapatkan cinta yang lain, yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tenang saja. Tuhan itu Maha Adil. Tuhan membagi secara adil cinta di dunia ini.
Kalau mau mewek-mewek sebentar, bolehlah. Satu atau dua hari saja cukup. Setelah puas meluapkan kesedihan, harus kembali bangkit. Jangan terus terpuruk! Ada kan pepatah yang dikatakan Wali band dalam lagunya “Mati satu tumbuh sepuluh ribu.” Kalau kata ST12, “Cari pacar lagi.” Kalau kata Nyak aku,” Dalam masa pacaran itu jangan terlalu mendalam mencintai, karena belum tentu orang yang kita pacari itu menjadi pendamping hidup kita atau jodoh kita. Pacaran itu cuma masa perkenalan. Masa pendekatan buat memahami satu sama lain. Jadi biasa ajalah perasaannya. Malah dalam islam gak ada kan yang namanya pacaran? Kalau mau benar-benar mencintai, ntar-ntar aja waktu sudah nikah!”
Yach, memang gak mudah melupakan. Tapi, percaya deh pasti bisa! So, Keep move on! Jalan yang ada di depan kita masih panjang. Semangat!