Sabtu, 28 Januari 2012

Dark Butterfly #2

Part 2 _ Membaur

“APA?” Mata Kenji melotot kaget. “Kita harus hidup seperti manusia? Aku tidak mau. Itu merepotkan Onisan!” keluh Kenji.

Seorang pemuda berkaca mata berjalan santai mendekati Kenji. Tangannya menepuk bahu Kenji. “Cobalah hidup seperti manusia. Ketua sudah memberikan izinnya supaya kita dapat hidup seperti manusia. Tidak ada salahnya kan? Daripada kita seperti ini saja, membosankan!” jelasnya. “Bersemangatlah Kenji!”

“Aaarrrgghh!” Kenji menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia tampak gusar dengan perintah dari pemuda berkaca mata yang dipanggilnya onisan. Sementara itu, Ichiru berdiri di dekat jendela ruang tamu. Dia lebih suka mengamati keadaan di luar rumahnya. Daun-daun pohon maple dan sakura berguguran. Musim gugur telah tiba.

“Ichiru-kun apa pendapatmu?” teriakkan Kenji membuat Ichiru mengalihkan pandangannya. Ichiru memandang Kenji datar. Tanpa ekspresi.

“Terserah!” jawab Ichiru. Dia berlalu keluar rumah. Menikmati suasana awal musim gugur. Tak ada salahnya berjalan-jalan sebentar, batinya.

Dasar makhluk berhati es! runtuk Kenji dalam hati.
****

Gadis berambut sebahu terlihat sedang berjalan dengan menenteng katung plastic putih. Dia baru saja keluar dari minimarket yang tak jauh dari rumahnya. “Hari minggu yang membosankan!” gumamnya. Hembusan napas kecil keluar dari hidungnya. Dia berjalan sambil menundukkan kepala. Kakinya menendang-nendang sebuah kerikil kecil yang baru saja di temuinya sewaktu ia berjalan. Tak begitu memperhatikan jalan di depannya. Bruk. Tubuh gadis itu terhempas jatuh. Dia baru menabrak seseorang. Gadis itu terduduk di atas trotoar jalan. Barang-barang dalam kantung plastiknya berceceran. Segera dia memunguti barang-barangnya. Orang yang ditabraknya masih berdiri di depannya. Dia dapat melihat celana panjang hitam dan sepatu warna senada yang dipakai orang itu. Gadis berambut sebahu itu mendongakkan kepalanya seraya berdiri. “Kamu lagi!” ujarnya kaget melihat pemuda di depannya. Lagi-lagi dia bertemu dengan pemuda berambut emas itu. “Sepertinya aku selalu kena sial jika bertemu denganmu!” desahnya kesal. Ichiru hanya terdiam. Dia langsung berlalu begitu saja. Gadis itu hanya mampu menatap Ichiru heran. “Dasar lelaki aneh!”
****

Ichiru duduk di bangku taman yang sepi. Menikmati tiap hembusan anngin musim gugur yang membelai kulitnya. Langit tampak berawan. Cerah. Nyaman berada di tempat ini. Sorot matanya kosong. Menatap langit biru berawan. Bayangan gadis yang baru ditemuinya berkelebat dalam benaknya. Gadis itu. Kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi? Gadis bodoh!

“Ichiru-sama! Kenapa disini sendirian?” Tiba-tiba muncul seorang gadis berambut panjang bergelombang di samping Ichiru. Matanya merah seperti batu rubi. Bersinar-sinar penuh kekaguman pada sosok yang ditatapnya. Dia langsung memeluk lengan Ichiru. “Hmm, aku rindu Ichiru-sama,” gumamnya.

“Sora, kenapa kamu ada disini?” tanya Ichiru heran. Keningnya berkerut mendapati Sora sudah memeluk lengannya. Sejak dulu Sora memang selalu mengejarnya. Tetapi, Ichiru tak sekali pun memberikan respon kepadanya. Dia selalu mengikutinya. Bahkan dia sengaja melakukan kesalahan agar bisa keluar, diusir dari tengoku. Sama seperti dirinya. Sayangnya, Ichiru hanya menganggap Sora sebagai rekan dan teman biasa.

“Aku rindu Ichiru-sama. Sudah lama sekali kan kita tidak bertemu,” jelas Sora.
Huft. Ichiru menghela napas panjang. Lagi-lagi harus bertemu Sora. “Kau kesini bersama Akai-san?” tanya Ichiru. Matanya menatap lurus ke depan.

Sora menggeleng cepat. “Dia sedang melaksanakan pekerjaannya di Reijima.”

“Kau turun kesini sendiri? Kau tidak takut jika Akai-san menghukummu?”

“Apapun akan aku lakukan agar dapat bertemu denganmu, Ichiru.” Sora mengembangkan senyuman lebar di wajahnya. Dia tampak sangat senang dapat bertemu Ichiru.

“Sudahlah. Kau sebaiknya kembali ke Reijima. Aku tak mau ada masalah gara-gara keberadaanmu disini!” bentar Ichiru. Dia berdiri dan berjalan meninggalkan Sora begitu saja.

Ichiru… kenapa kau selalu dingin terhadapku? Aku sungguh-sungguh mencintaimu sejak dulu sampai sekarang, gumam Sora dalam hati. Dia tak mampu berbuat apa-apa lagi. Dia hanya bisa menatap kepergian Ichiru.
****

Senin pagi menjelang. Daun-daun terlihat berguguran di sana sini. Udara dingin mulai menyeruak. Musim gugur masih terlalu awal untuk segera berakhir. Yah, ini baru awal. Mungkin nanti akan lebih dingin dari ini.

Ruka Amane mengedarkan pandangannya keluar jendela kelasnya. Guru yang mengajar di kelasnya belum datang. Padahal bel masuk telah berbunyi lima menit yang lalu. Sementara itu, anak-anak yang lain di kelasnya ramai saling berceloteh dan bercanda. Ruka tak tertarik untuk turut serta bercanda bersama mereka. Dia lebih suka menyendiri di bangkunya yang terletak paling belakang. Sejak setahun yang lalu, Ruka lebih suka menyendiri.

Sreek. Pintu kelasnya bergeser terbuka. Kuwabara sensei masuk berjalan ke mejanya. Suasana kelas yang tadinya ricuh menjadi tenang. Setelah meletakkan buku yang dibawanya Kuwabara-san berdiri di depan kelas. “Ohayo mina-san,” sapa Kuwabara-san, salah satu guru matematika yang saat itu mengajar. Secara serentak siswa di kelas menjawab sapaannya. “Ohayo sensei.”

Srek. Pintu kelas kembali bergeser. Pandangan semua penghuni kelas 3-F mengarah ke pintu kelas mereka. Dua orang pemuda masuk. Satu berambut merah darah dan satu lagi berambut kuning keemasan. Wajah mereka tampan. Siswa perempuan saling berbisik begitu melihat kehadiran dua makhluk tampan itu di dalam kelas mereka. Pemuda berambut merah berbicara pelan kepada Kuwabara-sensei. Sementara pemuda berambut emas mengedarkan pandangannya keseluruh penghuni kelas. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seorang gadis berambut sebahu duduk di belakang kelas. Senyum tipis terkembang di wajah pemuda itu. Dia lagi, ucapnya dalam hati.

“Anak-anak mereka ini adalah murid baru yang akan menjadi teman kalian,” kata Kuwabara-sensei memperkenalkan kedua pemuda itu kepada seluruh murid di kelas 3-F. “Silahkan kalian memperkenalkan diri,” ucap sensei kepada kedua pemuda itu.

“Aku Kenji Saotome. Mohon kerjasamanya,” ujar pemuda berambut merah. Badannya menunduk saat memberikan salam.

“Aku Ichiru Kuroki,” sambung pemuda berambut emas. Dia juga menundukkan badannya sedikit. “Mohon kerjasamanya.”

“Baik, kalian bisa duduk sekarang,” kata Kuwabara-sensei memberikan izin pada Kenji dan Ichiru untuk duduk.

Ichiru berjalan dengan santai menuju meja paling belakang. Dia langsung menghempaskan pantatnya di kursi yang sejak tadi dipandanginya. Tepat di sebelah kiri Ruka. Ruka yang sejak tadi memandang keluar jendela tak menyadari kehadiran Ichiru. Sedangkan, Kenji memilih duduk di bangku kosong di depan Ichiru.

“Ruka Amane! Apa yang kamu lakukan? Buka buku matematikamu!” Teriakan dari Kuwabara-sensei membuat Ruka tersentak dan sadar dari lamunannya. Ruka gelagapan mengambil buku di dalam tasnya.

“Gadis bodoh!” bisik Ichiru sambil tersenyum sinis.

Ruka mendengar apa yang dikatakan Ichiru. Dia menoleh kearah sumber suara itu. Matanya membelalak kaget. “KAU LAGI!” ujarnya sedikit berteriak. Seluruh murid dalam kelas memandang Ruka. Ternyata suaranya terlalu keras.

“Ruka, kau niat untuk mengikuti pelajaran atau tidak? Jika tidak keluar saja dari kelas ini! Kau hanya mengganggu yang lainnya,” omel guru matematikanya di depan kelas. Mendengar itu Ruka menjadi ciut. Merasa bersalah. “Maaf, Pak,” sesal Ruka. Dia menundukkan kepalanya dan kembali menatap buku di mejanya. Huh, menyebalkan. Lagi-lagi gara-gara laki-laki itu. Aku selalu sial jika bertemu dengannya, batin Ruka kesal.
******

Tiga jam pelajaran berhasil dilalui Kenji dengan cepat. Begitu bel berbunyi, dia langsung beranjak dari kelas yang menurutnya membosankan. Kenji tak suka membaur dengan manusia. Kesombongan dan keangkuhannya yang membuatnya seperti itu. menurutnya manusia itu lemah dan munafik. Saling menikam satu sama lain. Kenji tak menyukainya.

Kenji berjalan di koridor sekolah. Sebagian besar murid-murid yang dilewatinya menatapnya. Murid perempuan menatapnya dengan terkagum-kagum. Sedangkan, murid laki-laki menatapnya tajam. Tatapan tak suka. Ketampanannya memang dapat membuat orang-orang terpesona sekaligus iri.

Tak ada yang menarik di sini, batinnya kesal. Kenji melirik kearah luar. Kupu-kupu bersayap hitam atau yang biasa disebut sebagai kupu-kupu neraka, jigoku-chou tengah terbang dengan anggunnya. Kenji segera berlari. Mencari tempat yang aman untuknya merubah diri. Kakinya berlari sampai di atas loteng sekolah. Sepi. Tempat yang cocok.

Kenji memejamkan matanya. Berkonsentrasi. Seketika itu juga kedua sayap hitam di punggungnya terkembang.  Kini tak seorang pun dapat melihatnya. Perlahan kedua sayapnya itu bergerak-gerak. Mengepak-ngepak. Membuat tubuhnya melayang di udara. Matanya kembali terbuka. Dilihatnya jigoku-chou terbang tepat di depan matanya.

“Jadi dimana target kita sekarang?” tanyanya pada kupu-kupu itu. Tak ada jawaban. Kupu-kupu itu tak dapat berbicara. Malah langsung bergerak, terbang dengan cepat kearah kota. Kenji mengikutinya. Saat melesat di atas langit, dia sempat melihat Ichiru berbaring di atas rerumputan hijau belakang sekolah. Tepat di bawahnya. Hatinya kesal mendapati Ichiru yang bersikap seenaknya. Tak peduli pada tugasnya.

Sejauh 20 kilometer, Kenji terbang. Angin menerpa wajahnya kasar. Dia terbang dengan kecepatan tinggi. Jigoku-Chou, berhenti di tempat proyek pembangunan sebuah apartemen dekat pusat kota. Tiang-tiang besi membentuk kerangkanya. Hanya itu yang baru terpasang. Pembangunannya baru dimulai satu bulan yang lalu.

Kenji mendarat di atas tiang listrik depan proyek itu. Sayap hitamnya menelungkup. “Jadi, di sini?” gumamnya. “Sepertinya kali ini korbannya roh yang masih segar.”

Kenji mengedarkan pandangannya ke setiap sisi tempat itu. Chou miliknya terbang mengitari tiang-tiang besi penyangga gedung apartemen yang sedang dibangun. Sampailah chou didekat seorang pria paruh baya dengan alat las di tangannya. Helm kuning melekat erat di kepalanya. Sesekali pria itu menyeka keringat yang mengucur di dahinya.

Di samping pria itu berdiri sesosok makhluk yang mirip seperti Kenji. Bersayap hitam. Berambut hitam. Jubah hitam panjang menutupi tubuhnya. Tangan kanannya tertutupi sarung tangan hitam. Sementara itu, dipinggang kanannya melekat sebilah pedang samurai, zanpakutou. Kenji mengernyit mendapati sosok makhluk itu. Dia mengenalnya. Shinigami dari tengoku.

Brak. Daam. Bunyi sesuatu menghantam tanah dengan keras terdengar. Pria tadi. Tubuhnya sudah terkapar di atas tanah. Bersimbah darah. Orang-orang mengeruminya. Panik. Pekerjaan dihentikan. Kenji mengalihkan pandangannya ke kerumunan orang itu. Tepatnya ke sosok pria paruh baya tadi. Dia berdiri di dekat tubuhnya. Wajahnya pucat. Di dadanya terpasang rantai panjang yang mengikat dengan tubuhnya. Itu rantai takdir, Inga na Kusari. Malaikat kematian belum memotongnya. Roh itu masih segar. Kenji tersenyum tipis. “Permainan dimulai!”

Ssssstt. Kenji melesat cepat mendekati pria paruh baya itu. Dari arah lain, sesosok makhluk bersayap hitam ikut melesat. Mereka berhenti bersamaan di hadapan pria baruh baya tadi. Sang pria menatap takut-takut pada kedua makhluk dihadapannya.
“Oh, ternyata kau, Kenji. Sudah lama kita tidak bertemu,” ujar makhluk serba hitam di depan Kenji. Dia tersenyum tipis.

“Hahaha.” Kenji meledakkan tawanya. “Kau sendirian saja Kirishima? Dimana teman-temanmu?” tanya Kenji sinis. Dia memandang tak suka sosok di depannya. Kirishima Serizawa, malaikat maut atau yang biasa disebut shinigami. Dia pernah menjadi rekan Kenji. Tapi sekarang mereka harus berhadapan sebagai musuh. Visi mereka berbeda. Kirishima mencabut nyawa seseorang. Sedangkan, Kenji mengambil kristal kehidupan atau  yang dapat membuat arwah itu lenyap.

“Apa yang kau lakukan SENPAI ?” Kirishima sengaja memberi penekanan pada sebutannya untuk Kenji. Untuk mengejeknya.

“Mencari mangsa!” jawab Kenji singkat. Mata hitamnya melirik sosok arwah di sampingnya. Arwah itu ketakutan.

“Ka-kalian siapa? Mau apa?” ucap pria paruh baya di dekat Kenji. Perlahan pria itu berjalan mundur menjauhi dua makhluk di dekatnya.

“Kau sudah mati Pak Tua! Buat apa ketakutan seperti itu?” kata Kenji ketus.

“Itu kan kata-kata yang harusnya aku ucapkan, Senior. Kau tidak boleh merebut lahan pekerjaanku. Ingat itu, Senior,” sahut Kirishima.

“Kau lamban!” bentak Kenji. Di tangan kanan terpancar cahaya panjang berwarna merah. Mirip sebilah pedang api. Itu faiareddo miliknya. Kenji menyambarkan pedang cahayanya ke pria tua di dekatnya.

Prang. Faiareddo-nya berbenturan dengan zenpakutou Kirishima. Kenji mundur mengepakkan sayap hitamnya. Melayang di udara. Kirishima berdiri di depan pria tua itu. Melindunginya. “Jangan mengganggu pekerjaanku!” teriak Kenji.

“Kau yang mengganggu pekerjaanku!” bentak Kirishima. Tak kalah sengit. Tubuhnya melayang ke atas. Sejajar dengan Kenji. “Aku tak ingin melawanmu. Tapi, aku tak punya pilihan. Maaf, Senior.” Kirishima meluncur kearah Kenji. Seperti sebuah peluru. Syuut. Prang. Suara benturan kedua pedang yang berbeda kembali terdengar. Kedua pemegang pedang itu tak mau mengalah. Keduanya saling mendorongkan pedangnya kearah lawan masing-masing.

“Sepertinya kau semakin kuat!” ujar Kenji. Tersenyum kecut.

Kirishima terkekeh pelan. “Senior terlalu memuji. Kau yang memang sekarang terlihat lemah!” katanya ketus. Kenji makin geram. Dia memukulkan tangan kirinya yang bebas ke perut Kirishima. “Shakkahou,” teriak Kenji. Syuut. Duaar. Cahaya merah keluar dari tangan kiri Kenji. Meledak saat mengenai badan Kirishima. Beruntunglah dia masih sempat menghindar. Hanya jubah hitamnya yang robek. “Sial!” gumam Kirishima.

Kenji tertawa puas. “Kau lengah!” Matanya bergerak kearah bawah. “Pria tua itu menghilang!” Kenji memfokuskan pandangannya pada rantai yang melekat pada tubuh pria itu. Inga no kusari itu masih terhubung dengan rohnya. Kenji mengikuti rantai itu. Menemukan dimana ujungnya berakhir. Dua meter dari jasad pria itu. Arwahnya tengah bersembunyi di antara gang buntu. “Kena!” Kenji menarik paksa rantai itu. Membuat arwah pria tadi tersentak. Terlempar keluar dari persembunyiannya. “Mau kemana kau Pria Tua! Kau tak akan bisa lari!” Kenji berjalan mendekat. Sssst. Sebuah bola cahaya biru besar melesat kearah Kenji. Dia menangkis shoukatsui itu dengan tangan kanannya. Tanpa melihat arah datangnya bola cahaya itu. Duaar. Tembok pembatas jalan di sebelah kanannya hancur terkena shoukatsui. Aksi Kenji masih berlanjut. Faiareddo kembali muncul di tangan kanannya. Dengan gerakan cepat. Bless. Pedang itu tertancap di dada pria tua tadi. Tangan kiri Kenji menarik paksa ujung rantai yang melekat di dadanya.

“Aaaargh.” Pria itu mengerang keras. Sebuah Kristal kuning keluar dari tubuhnya. Tubuh pria itu perlahan lenyap seperti asap. Kenji menangkap Kristal itu dengan tangan kirinya. “Hanya Kristal biasa,” gumamnya. Dia membalikkan tubuhnya. Menatap Kirishima yang tercengang melihat aksinya. Kirishima terlambat mencegahnya.

“Baik. Sampai di sini saja Kirishima. Lain kali ada baiknya kau membawa teman,” ucap Kenji. Senyum kepuasan terkembang di bibirnya. Kirishima diam. Tak berdaya. Dia terlambat. Dia telah kalah. Tak lama, sayap hitam Kenji mengembang. Lalu menuntupi seluruh tubuh depannya. Seketika sosoknya lenyap. Meninggalkan beberapa helai bulu hitam yang melayang di udara.

Dark Butterfly #1

Part 1 _ Pertemuan Yang Menjadi Awal

“Hey mau kemana kau?” Seorang pemuda tengah mengejar kupu-kupu hitam yang terbang dengan cepat. Pemuda itu mengenakan jaket hitam dengan padanan celana panjang hitam. Rambutnya pendek berwarna merah darah. Wajah tampannya sesekali terlihat terkena cahaya rembulan. Malam ini bulan purnama penuh. Pemuda itu bergerak cepat melompat dari atap rumah yang satu ke atap rumah yang lain. Pandangan matanya terus terfokus pada kupu-kupu hitam di depannya.

“Bekerjalah dengan benar Kenji!” Pemuda berjubah hitam panjang melesat melewati pemuda berjaket hitam. Rambut panjang keemasannya terurai melambai-lambai saat dia bergerak. Wajah pemuda ini tak kalah tampannya dengan wajah pemuda pertama. Tiba-tiba pemuda kedua berhenti tepat di atas atap rumah. Cahaya rembulan menyinarinya membuat rambut keemasannya tampak indah.

“Kenapa kau suka sekali berhenti tiba-tiba seperti itu Ichiru?” gumam Kenji kesal. Dia hampir saja terjatuh karena harus berhenti mendadak. Kenji berdiri di samping Ichiru.

“Lihatlah itu!” Telunjuk tangan kanan Ichiru menunjuk ke bawah. Kupu-kupu hitam yang dikejar mereka terbang berputar-putar di atas kepala seorang gadis yang sedang berjalan sendirian. Seragam sekolah masih melekat di tubuhnya. Rambut hitamnya terurai sebahu. Gadis itu tampak lesu. Tak bersemangat. Dengan lemah dia berjalan.

“Apa yang akan dilakukannya?” tanya Kenji. Ichiru mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu. “Ah, aku lelah,” keluh Kenji. Kenji menghempaskan pantatnya di atap rumah tempatnya berdiri. Kedua kakinya di lipat, duduk bersila. Ichiru masih tetap mengawasi gadis itu.

Gadis itu berjalan tak menentu sampai ke tengah jalan. Langkah kakinya berhenti. Gadis itu berdiri di tengah jalan. Diam. Tanpa diduga sebuah truk melaju dengan cepat dari arah belakang gadis itu.
“Sial, dia mau mengakhiri hidupnya!” gumam Ichiru. Dia melesat turun dengan cepat menyambar tubuh gadis yang diawasinya tadi. “Kau sudah gila!” bentak Ichiru pada gadis itu. Kini mereka berdiri berhadapan. Gadis itu menunduk. “Tak usah dengan cara seperti itu kau pun nantinya akan mati!” omel Ichiru lagi. Matanya tajam menatap gadis itu. Hampir saja dia mengacaukan pekerjaanku, batin Ichiru. Untung saja masih sempat terselamatkan. “GADIS BODOH!”

“Apa?” Gadis itu mendongak.

Ichiru tak menghiraukan ucapan gadis itu. Dia langsung membalikkan tubuhnya berjalan menjauhi gadis itu.

“HEY AKU BELUM SELESAI BICARA DENGANMU!” teriak gadis itu. Ichiru tak menggubrisnya. Gadis itu berlari cepat mengejar Ichiru. Dia lalu mendahuluinya dan berdiri di depan Ichiru. “Kau tuli ya!” ejek gadis itu menantang Ichiru.

Ichiru melotot marah. “Apa maumu gadis bodoh?” tanya Ichiru ketus.

“Kau harus tanggung jawab!” ucap gadis itu spontan. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Dia terlihat kesal.

“…..” Ichiru tak menjawab. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya.

“Kau sudah mencegahku untuk mati. Kau harus tanggung jawab,” jelas gadis itu.

Ichiru berjalan mendekat pada gadis itu. Melihat itu gadis berambut sebahu itu berjalan mundur. Menjaga jarak dengan Ichiru. Ichiru menatap tajam gadis itu. Tatapan dingin. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Membuat nyali gadis itu perlahan menyurut. “A-apa maumu?” tanya gadis itu terbata. Raut wajahnya berubah takut.

“Kau menyuruhku tanggung jawab bukan?” Ichiru tersenyum sinis. Dia terus berjalan mendekati gadis itu. Tanpa disadarinya gadis itu sudah tersudut di gang buntu. Gadis itu tak dapat kemana-mana lagi. Dia benar-benar tersudut sekarang. Ichiru masih mendekatinya. Tangan kanan Ichiru menggapai pipi kiri gadis itu. “Kau mau apa?” dengan sisa keberaniannya gadis itu kembali bertanya.

Ichiru lagi-lagi tak menjawab. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Makin dekat dan dekat sampai gadis itu mampu merasakan napas Ichiru. Dengan takut-takut gadis itu memejamkan matanya. Ichiru tersenyum tipis. “Dasar gadis bodoh!” bisik Ichiru di telinga gadis itu. Lama gadis itu memejamkan matanya. Tapi tak ada perlakuan apapun terhadapnya. Perlahan gadis itu membuka matanya. Dilihatnya Ichiru sudah tak ada di depannya. Dia menghilang. Gadis itu menoleh kesana kemari tapi tak ditemukannya sosok pemuda berambut emas itu. dia sudah menghilang.
****

“Kau itu bodoh! Kenapa berinteraksi dengan calon buruanmu?” Kenji masih mengomel memarahi Ichiru.

“Berisik!” ucap Ichiru ketus. Dia berjalan melawati Kenji begitu saja. Kenji makin kesal dengan sikap dingin Ichiru itu. Ichiru terus berjalan memasuki sebuah rumah besar bergaya Eropa. Sebuah rumah kuno yang mewah di tengah hutan. Kenji mengikutinya.

“Kau benar-benar menyebalkan Ichiru!” ujar Kenji masih kesal. “Kau juga menyebalkan cho!” Kenji menoleh ke samping. Menatap kesal kupu-kupu hitam yang terbang dengan pelan di sampingnya. Binatang cantik itu kini menjadi pelampiasan kekesalan Kenji.

“Apa kau tidak bisa diam? Jika onisan mendengar kau bisa habis!” kata Ichiru datar mengingatkan Kenji untuk berhati-hati dengan ucapannya. Mereka sudah berada dalam rumah besar itu. Mereka menaiki tangga bersamaan.

“Bagaimana kerja kalian hari ini?” sebuah suara bass selembut beledu menyapa mereka. Pandangan Ichiru dan Kenji langsung tertuju pada pemilik suara itu. Seorang pemuda berkaca mata dengan setelan jas hitamnya berdiri bersandar di dinding dekat tangga. Rambutnya pendek berwarna hitamnya sesekali bergerak-gerak tertiup angin yang menerobos dari jendela rumah itu yang terbuka.

“Buruk Onisan, Ichiru bermain-main dengan calon buruannya,” adu Kenji pada pemuda itu. Ichiru malah memalingkan mukanya.

“Aku lelah!” kata Ichiru. Dia berjalan menuju kamarnya. Pemuda yang menyapa Ichiru dan Kenji hanya mampu menggelengkan kepala. Memang seperti itulah adiknya.
*****

Ichiru menghempaskan badannya di atas tempat tidur empuknya. Tangan kirinya menggapai sebuah bingkai foto di meja dekat tempat tidurnya. Dipandanginya foto itu lekat. Terlihat seorang pemuda berambut emas dengan sayap hitam di punggungnya sedang memeluk seorang gadis berambut panjang yang tengah tersenyum ceria. Tatapan dingin Ichiru berubah teduh. “Hikari,” gumam Ichiru. Matanya terpejam. Dipeluknya bingkai foto itu. Angannya melayang jauh meninggalkan jiwanya.

“Lihat ini Ichiru. Indah bukan?”

“Ichiru tunggu! Hikari takut. Jangan tinggalkan Hikari!”

“PERGI! Hikari tidak mau bertemu Ichiru! Hikari benci Ichiru!”

Bayangan gadis dalam foto itu terlintas dalam benak Ichiru. Suara-suaranya bahkan seperti terdengar jelas di telinganya. “Maafkan aku Hikari.”
****

Dark Butterfly #Prolog

DARK BUTTERFLY

Writer : Vievie Dwi
Genre : Fantasy, romance, action

Prolog

Tak ada yang tahu…
Tak ada yang menginginkan menjadi seperti ini…
Hidup dengan mengepakan sayap hitam
Merenggut setiap kristal-kristal kehidupan dari roh-roh yang tersesat
Dari setiap arwah-arwah yang baru terlahir
Hanya untuk mencari kemurnian
Demi menghidupkan Sang Kupu-kupu hitam tertinggi

“Kau takkan bisa lari lagi!” Seorang pemuda berambut hitam pendek menyeringai. Matanya masih terlihat tajam dbalik kacamata beningnya. Buruannya, pria berkemeja biru takut-takut menatap pemuda itu.

“Tolong, jangan musnahkan aku. Aku masih ingin di sini,” ucap pria itu memohon.

“Ini bukan tempatmu!” Pemuda itu mengangkat tangan kanannya ke depan. Cahaya hitam muncul dari tangannya. Cahaya itu membentuk sebilah pisau. “Ucapkan selamat tinggal pada dunia!” Pemuda itu melesat cepat. Menancapkan cahaya hitam di tangannya ke dada buruannya.

“Aaaarrhhg.” Teriakan keras menggema. Tangan kiri pemuda berjubah hitam itu menarik rantai yang melekat pada dada pria buruannya. Sssseesstt. Rantai itu terlepas. Cahaya kebiruan terpancar. Kristal berwarna biru keluar dari tubuh pria itu. Tubuh pria itu pun memuai bagai kabut. Perlahan menghilang lenyap. “Sial!”

Hidup Cuma Sekali

Aku Cuma seorang pemula yang mencoba berkarya. Buat cerpen galau. Gaje, jelek dan aneh pula. Maaf-maaf kalau ada salah-salah. Silahkan komentar, kritik dan sarannya. Selamat membaca!

No CoPaz!
Hargailah karya orang lain!



HIDUP CUMA SEKALI
By: Vievie Dwi

Sudah hampir 30 menit Nara duduk di bangku taman. Sesekali dia melirik jam tangannya. Melihat jarum jamnya sudah menunjukkan pukul berapa. Ini sudah terlalu lama  dari yang dijanjikan. Nara melirik hp disakunya. Belum ada yang menghubungi. Tak ada pesan masuk.
“Dia kemana sih? Kenapa lama sekali?” gerutu Nara sambil memencet beberapa nomor di handphone-nya. Dia menempelkan benda mungil itu di telinganya. Nada tunggu telepon terdengar. Tut tut tut. Krek.
“Kamu dimana?” tanya Nara pada seseorang diseberang telepon.
“Sebentar lagi aku sampai,” jawab orang itu. Suaranya renyah dan selalu Nara rindukan. Krek. Telepon pun dimatikan. Nara kembali harus menunggu untuk beberapa menit. Dia menengadahkan kepala. Memandang langit senja kemerahan. Angin sore semilir menerpa kulit mulusnya. Menerbangkan rambut panjang Nara yang tergerai.
“Maaf, aku terlambat datang,” ujar seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di depan Nara. Napasnya terengah karena dia berjalan tergesa-gesa. Beberpa butir keringat menempel di dahinya. Lelaki itu langsung duduk di sebelah Nara.
“Kenapa lama sekali?” tanya Nara sembari mengembungkan kedua pipinya. Rasa kesal meluap saat lelaki itu muncul. Harus ada alasan yang logis atas lamanya aku menunggumu. Jangan sampai waktuku ini terbuang sia-sia, batin Nara.
Lelaki itu memasang raut memelas. Penuh penyesalan. “Maaf, tadi ada kuliah tambahan di kampus,” sesalnya.
Huft. Nara menghela napas panjang. “Baik aku maafkan,” katanya datar.
“Terima kasih,” balas lelaki berwajah oriental di samping Nara. Senyum manis nan mempesona tersungging di bibirnya. Nara luluh begitu melihatnya. Itulah yang paling disukai Nara dari Kevin, lelaki yang duduk di sebelahnya. Lelaki keturunan Jawa-Cina itu begitu menawan. Rambutnya hitam pendek tertata rapi.
“Ada apa? Katanya ada yang penting untuk dibicarakan?” tanya Nara langsung. Sejak tadi pikirannya terus bertanya-tanya. Tidak biasanya Kevin, kekasihnya mengajak dia bertemu hanya untuk membicarakan hal penting. Toh setiap malam Kevin selalu bertandang ke rumahnya bila dia sedang tidak sibuk.
Kevin mengambil napas panjang. Menenangkan diri. Kata-kata yang akan keluar dari mulutnya mungkin akan membuat Nara shock. Sejenak kebimbangan menghinggapinya. Dia mencoba memantapkan hati. Inilah keputusan yang terbaik untuk mereka. “Aku mau membicarakan soal hubungan kita,” bisiknya
Kening Nara berkerut. “Ada apa? Bukankah hubungan kita baik-baik saja?”
“Iya, tapi….” Kevin menggantung ucapannya. Membuat Nara semakin penasaran dan cemas. Ada masalah apa? tanya Nara dalam hati.
“Aku rasa kita sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini,” lanjut Kevin. Nara tercekat. Matanya membelalak. Tak pernah dia sangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Kevin.
“Ke-kenapa?” kata Nara terbata. Kevin memalingkan muka. Matanya menatap ke depan. Ke hamparan bunga-bunga yang menari tertiup angin. Dia memilih tak memandang wajah Nara. Dia tak akan tega bila memandangnya.
“Aku mau konsen dengan skripsiku.” Sebuah alasan klise terucap dari mulut Kevin. Alasan yang tak mampu diterima Nara. Nara terdiam. Pedih menjalari hatinya. “Maafkan aku Nara. Hubungan kita sampai disini,” sambung Kevin. Dia beranjak berdiri. Meninggalkan Nara dengan kepedihannya.

Sejenak cobalah kau pikir
Tak lelah bila memang semua ini harus berakhir
Sampai disini
Sejenak memang menyakitkan
Aku pun merasakan namun inilah yang terbaik

Malam harinya, Nara mengurung diri di kamar. Menangis. Meluapkan segala kepedihan hatinya. Panggilan dari orang tua dan kakaknya tak dihiraukannya. Bahkan bunyi telepon dari sahabatnya tak diangkatnya. Nara sudah tidak mau peduli dengan keadaan sekitar. Stress dan sakit di hatinya membuat Nara tak mau makan. Pikirannya kosong. Hanya terfokus pada satu orang, Kevin. Dia berharap telepon itu dari Kevin. Tapi lelaki yang sangat ia cintai itu sama sekali tak menghubunginya.
oooOO-oo-OOooo

Keesokan harinya, Nara jatuh sakit. Asam lambungnya meningkat. Maag yang selama ini dideritanya kembali kambuh. Badannya panas. Terkadang tubuhnya menggigil. Orang tua Nara yang cemas akhirnya membawa Nara ke rumah sakit.
Sayangnya, itu tak menjadikan kondisi Nara membaik. Maag yang dideritanya semakin parah. Pendarahan terjadi di lambungnya. Dokter tak mampu berbuat apa-apa. Keadaan Nara memburuk disebabkan faktor dari dalam dirinya sendiri. Obat-obatan pun seakan tak berguna.
Hari kedua Nara dirawat. Sahabatnya, Lita mengunjunginya. Matanya nanar begitu melihat sosok Nara terkuai lemas di atas tempat tidur dengan selang infuse di tangannya. Matanya terpejam. “Ra, kok kamu jadi seperti ini sih?” ucap Lita di samping Nara. Tangan kanannya membelai lembut punggung tangan kiri Nara.
Nara membuka mata. Menatap sahabatnya. Senyum tipis dia lukis. “Aku gak apa-apa, Ta,” kata Nara lemah.
“Gak apa-apa gimana? Kamu terbaring lemas seperti ini. padahal kemarin pagi kamu masih baik-baik saja. Ada apa sebenarnya, Ra? Cerita sama aku. Jangan kamu simpan sendiri masalah kamu!” buru Lita. Nara sudah seperti saudara bagi Lita. Saat senang maupun sedih, Nara selalu ada untuk Lita. Dan sekarang giliran Lita. Dia harus ada untuk Nara disaat apapun.
Raut wajah Nara berubah sedih. Matanya berkaca-kaca. Butir bening meluncur perlahan dari kelopak matanya. “Kevin, Ta…” ujarnya menggantung. Berat baginya menguak luka hatinya.
“Kevin kenapa? Dia menyakiti kamu?”
Akhirnya Nara menceritakan semuanya kepada Lita. Air matanya terus berderai.  Lita memeluk tubuh sahabatnya itu. Dia turut merasakan kepedihan Nara.
oooOO-oo-OOooo

Tanpa sepengetahuan Nara, Lita mencari Kevin. Dia mencoba menghubunginya. Akan tetapi, nomornya tidak aktif. Lita mencoba mencarinya di kampus Kevin. Disana dia tak menemukannya. Sampai Lita bertandang ke rumah Kevin. Sayangnya rumah Kevin telah kosong. Keluarganya telah pindah seminggu yang lalu. Dan tak ada satu orang pun di sekitar rumah Kevin yang tahu kemana pindahnya mereka. Kevin seolah menghilang begitu saja.
Lita pulang dengan tangan hampa. Tanpa hasil. Wajahnya murung. Dia duduk lemas di teras rumahnya.
“Heh, anak cewek melamun saja kerjaannya!” teriak Rio, kakak sepupu Lita yang sedang berkunjung ke rumahnya. Hal itu membuat Lita tersentak kaget.
“Ah, kamu mengagetkan aku saja!” ujar Lita cemberut.
Rio cekikikan. “Habis kamu melamum begitu! Kalau kesambet kan aku juga yang repot.”
“Huh. Aku itu lagi pusing. Jangan ganggu, ah!” bentak Lita.
“Pusing kenapa memang?” Rio ikut duduk di sebelah Lita.
“Temanku, Nara sakit. Sampai sekarang belum sembuh juga. Aku gak tahu lagi harus bagaimana untuk membantu menyembuhkannya?” keluh Lita.
“Ya, bawa ke dokter dong.”
“Sudah. Masalahnya yang dia derita bukan Cuma sakit fisik yang bisa disembuhin pakai dokter atau obat. Sakit hati, mentalnya yang kena. Mengobatinya sudah. Aku hampir putus asa. Aku takut kalau dia kenapa-napa.” Lita kembali berkaca-kaca jika memikirkan kemungkinan terburuk yang akan menimpa Nara.
Sementara itu, Rio yang sedari tadi mendengarkannya tampak sedang berpikir. “Yang bisa membantu mengobati itu adalah orang-orang disekitarnya. Harus selalu memberi support dan semangat. Dan jangan lupa terus diyakinkan agar dia tidak putus asa. Dihibur juga perlu,” ujar Rio bersaran.
“Hmmm..iya.”
“Memang masalahnya kenapa dia bisa begitu?”
“Patah hati, Yo. Diputus sama pacarnya.”
Rio tersenyum kecil. “Masalah begitu mudah. Kenalkan saja seseorang yang baru. Yang bisa memberinya cinta yang baru. Pasti terobati.”
oooOO-oo-OOooo

Hampir setiap hari Lita mengujungi Nara. Seperti sekarang ini, hari ketujuh Nara dirawat. Lita pun kembali mengunjunginya. Senyum lebar sengaja dia lukis untuk menghibur Nara.
Di luar kamar Nara dirawat, Lita bertemu dengan orang tua Nara. Dia menghampirinya. Mama Nara tampak lesu. Ada lingkar hitam di matanya. Mama Nara tidak cukup tidur karena menjaga Nara. Matanya juga terlihat sembab habis menangis.
“Bagaimana keadaan Nara, Tante?” tanya Lita kepada wanita paruh baya di depannya.
“Makin memburuk, Ta. Kalau terus seperti itu livernya bisa kena,” jawab mama Nara. Tangis kembali pecah. Papa Nara memeluk istrinya. Mencoba menenangkan. “Tante tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menyembuhkannya.”
“Sakit yang Nara derita bukan hanya sakit secara fisik saja Tante. Tapi, batinnya lah yang paling sakit dan itu yang harusnya kita obati terlebih dahulu,” kata Lita tampak bijak di depan kedua orang tua Nara yang sedang bersedih.
“Iya, Ta. Kami sudah mencoba menasehatinya. Tapi, Nara seolah tidak peduli,” sahut papa Nara.
“Pelan-pelan, Om. Tidak mudah memang mencoba mengobati luka batin seperti itu. Lita juga akan terus mencoba untuk membantu menyadarkan Nara. Om dan Tante tenang saja. Nara pasti kembali sehat,” Lita optimis berujar.
Papa Nara mengangguk mengerti. “Terima kasih ya, Ta.” Dia sedikit lega mendengar ucapan Lita. Keyakinannya kembali bangkit.
“Saya masuk ke dalam dulu ya, Om dan Tante,” pamit Lita. Kedua orang tua Nara memberikan anggukan kepala. Lita pun meninggalkan mereka berdua.
Di dalam kamar rawat Nara, dia masih terbaring. Wajah Nara masih pucat. Lita mendekat ke sisi tempat tidur Nara. “Hay, Ra. Apa kabar?” sapa Lita sembari tersenyum manis.
“Seperti yang kamu lihat, Ta,” jawab Nara lemah. “Aku kangen Kevin, Ta. Dia sama sekali tidak menghubungiku. Apa kamu memberitahu dia tentang keadaanku ini?” sambung Nara.
Lita menggeleng lemah. “Sebaiknya kamu tidak perlu mengharapkan Kevin lagi. Kamu harus bisa melupakannya. Jangan memikirkan dia lagi.”
“Gak. Aku gak bisa melakukan itu, Ta. Aku sangat mencintainya. Hidupku terasa hampa tanpa dia. Aku kayak gak punya arti lagi hidup di dunia ini kalau dia gak ada di sisiku.”
Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Nara. Lita menatapnya tajam. Pipi Lita telah basah air mata. “Kamu gak boleh bicara seperti itu!”
“………” Nara terdiam memalingkan muka.
“Kamu gak boleh menyia-nyiakan hidup yang cuma sekali ini. Hidup kamu masih berarti. Kevin bukanlah segalanya! Lupain Kevin. Dia itu sudah pergi.”
“Maksud kamu?”
“Kevin sudah pindah. Dia menghilang tanpa kabar. Tak ada orang yang tahu keman dia,” jelas Lita.
“Gak. Gak mungkin.” Nara bangkit dari tidurnya.
“Kamu mau ngapain?”
“Aku mau cari Kevin, Ta!” Nara melepas infusnya. Dengan tubuh lemah, dia mencoba berdiri. Lita menahannya. “Jangan tahan aku, Ta. Aku mau cari Kevin! Lepasin aku, Ta.” Nara berusaha berontak.
“Gak, kamu gak boleh melakukan itu. Tubuh kamu masih lemah!” Lita memegangi tubuh Nara erat.
“Lepasin, Ta! Lepasin!” teriak Nara.
“NARA, JANGAN MELAKUKAN HAL BODOH!” teriak Lita tak kalah keras. Membuat Nara berhenti berontak. “Ingat Ra, kamu masih punya orang tua yang mencemaskan kamu. Masih ada Kak Revo yang selalu peduli. Masih ada aku, Ra. Sahabat yang akan selalu berada di sisi kamu. Kamu gak boleh egois! Kamu juga harus mikirin kita? Bagaimana sedihnya orangtua, kakak dan juga orang-orang di sekitar kamu kalau kamu menyia-nyiakan hidup kamu begitu saja. Kami gak mau kehilangan kamu, Ra! Kamu harus kuat. Kamu harus jadi seperti Nara yang dulu. Nara yang ceria. Lakukan itu bukan Cuma buat diri kamu sendiri tapi juga buat orang-orang di sekitar kamu. Apa kamu mau melihat orang-orang di sekitar kamu sedih?” Lita tampak berapi-api mengelurkan nasehatnya. Betapa sedih hatinya melihat sahabat yang dikasihinya menyia-nyiakan hidup hanya karena cinta.
Nara terdiam. Merenungi setiap kata-kata Lita. Lita memang benar. Hidup di dunia ini bukan hanya tentang cinta. Bukan hanya untuk memikirkan satu orang lelaki. Masih banyak hal yang bisa dia dilakukan. Masih banyak hal yang bisa dia raih. Mimpinya. Cita-citanya. Kebahagiaan bukan hanya datang dari satu orang saja. Dia masih bisa mendapatkannya dari orang lain. Dari orangtua, saudara dan teman-temannya. Harusnya dia memikirkan meraka pula. Tamparan Lita tak hanya menampar pipinya. Tapi juga menyadarkan dirinya bahwa masih ada hal lain yang lebih berarti selain cinta. Patah hati tidak membuat hidupnya berakhir. Kegagalan itu merupakan sebuah awal untuk keberhasilan yang akan datang. Cinta tak akan mati. Dia masih bisa mendapatkannya lagi. “Maafkan aku, Ta. Aku memang bodoh dan egois. Sekarang, aku sadar. Kevin bukan segalanya. Aku akan melupakannya dan bangkit. Aku akan mencoba untuk sembuh.” Air mata Nara meluncur membasahi pipinya. Lita mendekat. Memeluk tubuh mungil sahabatnya.
“Iya, Ra. Kamu harus sehat. Kamu harus kuat dan bangkit dari kepedihan ini.”

Janganlah kau diam
Terus berjalan
Hidup hanya sekali
Jangan biarkan menunggu
Waktu tak akan kembali
Biarkan saja berlalu
Cinta tak akan mati Mengisi relung hatimu
Meski tak ada lagi cinta seperti yang dulu
Sejenak cobalah kau pikir
Secercah harapankan selalu menemani langkahmu
Janganlah kau diam
Terus berjalan
Lupakan semua lukamu
Lupakan semua yang membuatmu menangis
Yakinkan senyummu untuk bisa terangi hatimu
Hidup hanya sekali
Jangan biarkan menunggu
Waktu tak akan kembali
Cinta tak akan mati mengisi relung hatimu
Meski tak ada lagi cinta seperti yang dulu
@(Garasi – Hidup cuma sekali)@

-THE END-


PS: Aku mau berkoar sebentar nih. Maaf-maaf kalau kesannya bawel atau menggurui. Cuma sekedar komentar dan berbagi pikiran serta buat mengingatkan diri sendiri juga sih. Oh, iya Cerpen ini terinspirasi dari keterpurukan orang-orang disekitarku yang merana kerena cinta, dari pengalaman yang pernah aku alami juga sih, juga dari lagunya Garasi Band. Lagunya bikin aku sadar supaya jangan pernah menyia-nyiakan hidup! Gak ada artinya terus terpuruk pada yang namanya patah hati. Judulnya sengaja aku samakan dengan judul lagu itu. Thanks to Garasi Band, Fedi Nuril and my friends.

Kegagalan dalam masalah percintaan bukanlah akhir dari segalanya. Masih banyak hal yang lebih berarti. Jika kamu patah hati atau cintamu tak berbalas jangan berputus asa. Kamu pasti akan mendapatkan cinta yang lain, yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tenang saja. Tuhan itu Maha Adil. Tuhan membagi secara adil cinta di dunia ini.
Kalau mau mewek-mewek sebentar, bolehlah. Satu atau dua hari saja cukup. Setelah puas meluapkan kesedihan, harus kembali bangkit. Jangan terus terpuruk! Ada kan pepatah yang dikatakan Wali band dalam lagunya “Mati satu tumbuh sepuluh ribu.” Kalau kata ST12, “Cari pacar lagi.” Kalau kata Nyak aku,” Dalam masa pacaran itu jangan terlalu mendalam mencintai, karena belum tentu orang yang kita pacari itu menjadi pendamping hidup kita atau jodoh kita. Pacaran itu cuma masa perkenalan. Masa pendekatan buat memahami satu sama lain. Jadi biasa ajalah perasaannya. Malah dalam islam gak ada kan yang namanya pacaran? Kalau mau benar-benar mencintai, ntar-ntar aja waktu sudah nikah!”
Yach, memang gak mudah melupakan. Tapi, percaya deh pasti bisa! So, Keep move on! Jalan yang ada di depan kita masih panjang. Semangat!


Kamis, 26 Januari 2012

Pengantin Abadi

Pengantin Abadi
By : Vievie Dwi

Widi menatap dirinya di cermin. Kamar yang biasa di tempatinya telah berubah. Tempat tidurnya berhias bunga-bunga segar. Harum semerbak memenuhi kamarnya. Hari ini hari terakhir Widi melajang. Besok dia akan menghadapi hari terpenting dalam hidupnya. Menikah dengan kekasih yang sudah satu tahun ini bersamanya, Yoga Pratama. Seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di kotanya.
Entah mengapa Widi merasa galau. Tiba-tiba saja hatinya menjadi ragu. Mungkin ini yang dinamakan sindrom pre-wedding, sindrom kegalauan sebelum menikah. Padahal waktu Yoga melamarnya tiga bulan yang lalu, Widi tampak senang.

Di tengah kegalauannya, hpnya berbunyi. Cling…cling…. Sebuah sms masuk.

From : Deka
Wid, bisa ktm?

To: Deka
Gi dpingit. Da pa?

Cling… cling…
From: Deka
Aq mo ngmong pnting!

To:Deka
Apa? Tlpn aja

Cling… cling…
From: Deka
Ga bisa. qu tggu dtaman bysanya mlm ini.tuk tkhir

Widi enggan membalasnya lagi. Dia masih bingung dengan sms terakhir Deka. Ada apa dengan Deka? Kenapa tiba-tiba jadi seperti itu? batin Widi.

# # # # # #

“Ma, boleh gak Widi keluar rumah bentar aja?” pinta Widi kepada mamanya yang tengah sibuk mengurusi dapur bersama ibu-ibu tetangganya.

“Mau ngapain? Besok kan kamu nikah”, jawab Mama Widi.

“Bentar aja Ma, ada urusan penting yang mesti Widi kerjain”, ujar Widi member penjelasan pada mamanya.

“Di urus nanti aja habis nikah kan bisa”. Mamanya tampak cuek.

“Gak bisa Ma, mesti hari ini diselesaikan, plis! Cuma ke taman kompleks Ma”. Widi memohon dengan wajah memelas.

“Hum ya udah, tapi bentar aja. Jangan larut pulangnya”. Akhirnya mama Widi mengizinkannya keluar.

# # # # # #

Widi tiba di taman yang tak jauh dari rumahnya. Jam yang ia kenakan menunjukkan pukul 7 malam. Taman itu sepi, tak seperti ketika siang hari penuh dengan anak-anak yang bermain. Widi berjalan berkeliling taman, mencari sosok yang ia kenal. Lalu matanya menangkap seorang laki-laki tengah duduk di sebuah bangku. Deka, batin Widi.
Widi menghampiri Deka, sahabatnya sejak SMP.

“Da pa sih Ka?” tanya Widi to the point.

Deka berdiri dan tersenyum pada Widi.

“Ih aneh deh senyum-senyum sendiri. Kesambet yah?” ujar Widi heran melihat sahabatnya.

Tiba-tiba sebuah pelukan hangat dari Deka mendarat di tubuh Widi.

“Ada apa sih? Lepasin aku”. Widi sedikit berontak melihat sikap Deka yang tiba-tiba tak biasa. Tapi Deka tak bergeming, tetap memeluk Widi.

10 menit berlalu dalam keheningan. Akhirnya Deka melepas pelukannya. Dia menatap Widi lekat. Sorot matanya begitu teduh meski tak jelas Widi melihatnya karena malam.

“Wid, aku sayang sama kamu”, kata Deka akhirnya.

“Iya, aku juga”, jawab Widi pelan.

“Bukan, bukan sayang seperti itu”

“………” Widi diam menunggu Deka meneruskan ucapannya.

Deka menekatkan wajahnya, lalu mengecup kening Widi. Perbuatan itu membuat Widi menjadi mengerti maksud ucapan Deka. Tes.. tes.. butir-butir air mata meleleh dari mata Widi.

“Kok malah nangis?” tanya Deka.

“Kenapa baru bilang sekarang. Deka jahat”, ujar Widi sambil memukul-mukul dada Deka.

Deka malah balas memeluknya.

“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu ragu dengan mengatakan ini. Aku baru menyadarinya beberapa bulan yang lalu saat Yoga melamarmu. Entah kenapa rasanya sakit banget. Tapi aku gak mau menghancurkan kebahagiaanmu. Jadi, aku diam dan memendam ini semua”, jelas Deka.

“Lalu kenapa Deka ngomong itu sekarang?”

“Aku hanya ingin kamu tau, Wid. Sebelum kamu jadi milik Yoga seutuhnya. Tuk yang terakhir kali, aku ingin kamu tau bahwa aku selamanya akan menyayangi kamu dan mencintaimu”.

Deka melepas pelukannya. Widi masih terisak, menangis. Sudah cukup lama Widi memendam perasaannya terhadap Deka. Tapi sekarang setelah Deka mengatakan itu semua, Widi tak mampu menggenggam cintanya karena ada Yoga, calon suaminya.

Perlahan Deka menghabus butir airmata Widi. “Maafin aku Wid”

“Kamu tau Ka, ……… aaah sudahlah. Hanya itu yang ingin kamu katakan”, kata Widi datar.

“Iya”

Lalu Widi membalikkan badannya dan berjalan pulang, menjauhi Deka yang hanya terdiam memandang kepergian Widi. Sepanjang jalan Widi terus menangis. Dia berjalan tanpa arah. Rasa sakit menyelimuti hatinya. Sampai-sampai Widi tak menyadari kakinya melangkah pada jalan yang salah.

Braaaaaaakkkkk.

Tubuh Widi terhempas, melayang lalu jatuh membentur jalanan dengan cukup keras. Cairan merah keluar dari kepalanya dengan cukup deras.

# # # # # #

The day….

Rumah Widi tampak ramai sama seperti kemarin. Hiasan bunga dan beberap ornament pernikahan masih terlihat. Orang-orang berkumpul di ruang tamu. Tak terlihat kebahagianan di wajah mereka. Beberapa orang terisak menangis.
Beberapa yang lain diam terpaku. Di tengah ruangan tampak seorang laki-laki tampan memakai jas berwarna putih. Di sampingnya seorang gadis terlihat tampak cantik mengenakan baju pengantin berwarna putih. Wajahnya di make-up sedemikian rupa. Meski begitu, wajahnya masih terlihat pucat. Matanya terpejam. Seorang wanita paru baya menjaga tubuh gadis itu agar dapat terduduk dengan tegap.

Beberapa menit sang pengantin laki-laki mengucap janji setia di depan penghulu yang duduk di depannya. Ada butir air mata yang turun di pipinya. Entah karena bahagia atau terharu. Setelah kata syah terdengar dari mulut penghulu, pengantin laki-laki memengecup kening mempelai perempuannya dengan lembut. Lalu meraih tubuhnya untuk dapat ia peluk. Tak ada kehangatan yang laki-laki itu dapat. Hanya kebekuan dari mempelainya. Tubuhnya terasa dingin dan kaku.

“Aku akan selalu mencintaimu Wid, dan sekarang kau milikku. Kau bukan cuma sahabatku sekarang tapi istriku juga”, bisik laki-laki itu.

Orang-orang yang melihatnya makin menangis tersedu-sedu.

The-End